Sela

    Memang, hal paling mahal di dunia ini adalah kesempatan. Betapa banyak kesempatan yang terbuang dalam waktu yang berjalan begitu cepat.

Seharusnya aku bisa mengatakan hal ini lebih awal.

    Saat ini aku berdiri diantara ribuan orang menyesaki tanah basah dan nisan. Seseorang yang sangat penting telah ditepuk bahunya oleh Tuhan untuk pulang. Aku tak peduli dengan jabatan dan kontribusinya terhadap karyawan-karyawannya. Yang aku tahu, sebagian dari diriku kosong.

Selalu ada orang yang tahu benar akan dirimu, akan mengerti benar ucapanmu atau bahkan hanya kalian berdua yang membicarakan hal-hal yang tak terpikirkan oleh orang lain.
Baiklah, aku tahu dia tak akan suka pidato pemakaman yang menurutnya berlebihan, tak produktif dan drama, namun aku akan tetap melakukannya.

    Sahabat bagaikan jodoh, pertama kali kau memandangnya sebagai orang baru, hatimu akan berkata “Aku berharap aku menjadi sahabat baiknya”, dan kau juga berpikir, adakah orang yang berkata begitu saat memandangmu. Kemudian ada proses dimana kau akan berpikir “Nampaknya aku salah mencari sahabat” dan tiba-tiba saja, kalian sudah menjadi sahabat. Kau hanya butuh satu, dan itu cukup.

Aku menemukan hal itu dalam dirinya. Kau tahu dia sahabatmu ketika dia mau menikmati tanpa pura-pura apa yang kau suka walaupun dia tak tau sama sekali apa yang kau bahas, kau tahu kau punya seorang sahabat ketika kau sedang berada di suatu tempat yang indah, kau seketika berpikir “Akan lebih menyenangkan bila ada sialan itu.”

Namun, ternyata aku terlambat menyadari bahwa aku sahabat yang buruk. Betapa aku begitu egois dan membiarkannya menangis sendirian. Membiarkannya terus menaburi garam dalam lukanya.
Untunglah, dia begitu mandiri. Begitu cepat pulih hingga mencapai target kesuksesan dalam hidupnya.

    Dan ketika aku terlalu takut meminta maaf akan membuka ingatannya lagi. Aku rasa tak akan terjadi. Jadi, maaf. Tangan dan pelukan hangat yang harusnya ada, berubah menjadi dingin, sangat dingin.

Imajinasiku mengabur ditengah rintik hujan yang membasahi wajahku, aku menatap langit, berharap aku punya kesempatan melakukan semua itu. Saatnya, sampai jumpa, di dimensi waktu selanjutnya.

6 comments

  1. Ikutan sesak bacanya. Ini kisah nyata apa gimana?

    ReplyDelete
  2. Sahabat yang baik akan meneruskan perjuangan sahabatnya serta senantiasa mengingat dan mendoakan dirinya bahkan saat ia telah tiada. :D

    ReplyDelete
  3. kesempatan yang dilewati emmang cuma bisa disesali. maka dari itu, sudah seharusnya kita lebih peka terhadap semua kesempatan yang ada

    ReplyDelete

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^

Home