Dolan Pasar Mbanyumas


                Begitulah istilah yang dipakai orang-orang saat seseorang pergi belanja ke pasar terutama di hari Minggu. Artinya sendiri yaitu main ke pasar Banyumas. Ini yang saya lakukan pada Rabu pagi hari tadi, ngapain? Mencari. Mencari jodoh? Bukan, mencari sisa jejak kenangan masa kecil yang tertinggal, beli klepon dan juga buat materi blog. Sendirian dik? Iya. Skip.


                Di Kecamatan Banyumas sendiri sebenarnya memiliki banyak pasar yang tersebar di desa-desa. Saya juga tadi berniat mengelilingi pasar-pasar tesebut namun rasanya nggak hemat waktu,pun di desa saya sendiri nggak ada pasar. Jadilah saya ke Pasar Banyumas, pasar utama di Kecamatan Banyumas, satu-satunya pasar yang saya kenal sejak saya kecil. Pasar ini dikunjungi masyarakat dari berbagai desa bahkan kabupaten, juga penjualnya, itu karena pasar ini memiliki tempat yang luas. Pasar ini terletak tak jauh dari Alun-Alun Banyumas, bisa diraih dengan menggunakan ragam sarana transportasi seperti becak, ojek, angkutan umum, delman dan bus.

 Angkot yang melewati desa saya. Biasa disebut koprades oleh masyarakat di sini, yang memang singkatan dari Koperasi Angkutan Pedesaan. Namun lebih sering disebut dengan Kol Kuning, Kol berasal dari kata colt, dan kuning sendiri karena warnanya. Waktu SMP dan SMK, saya sering pulang sekolah dengan kol kuning, nggak seringnya karena hanya beroperasi sampai sekitar jam 11, karena sekarang sudah banyak yang memakai motor dan juga menyesuaikan jam emak-emak belanja. Jadi seringnya saya bengong bingung. Ini caption kok panjang banget.

Nggak cuma pasarnya yang tradisional, alat transportasinya juga. Ini sering disebut dengan Dokar, seperti kol kuning, Dokar berasal dari kata Dog Car yang sering dikatakan oleh Belanda yang ditirukan pribumi. Saya pernah naik satu kali, sisanya saya kasihan sama kudanya. Jomblo lihat kuda sendirian seperti di atas bawaanya pengin nemenin.
Ini juga Koprades dengan melewati rute dan desa berbeda. Dibedakan dengan warna. Ini merah, merah artinya berani.

                Pasar Banyumas yang tak berubah sejak saya kecil ini pun menyediakan kebutuhan manusia yang lengkap. Seperti:

1. Beras dan telur. Ini penjualnya lagi nglayab kayaknya.


2. Ikan asin. Makanan saya dan kucing saya. Bedanya kucing saya nggak suka pake sambel.


3. Bahan Rokok. Di sini kaum adam masih ada yang suka nglinthing atau membuat sendiri rokoknya. Bahan-bahan juga tersedia di pasar ini. Nglinthing berasal dari kata menggulung.


4. Ayam? Ada.


5. Serabi.


6. Buah dan Sayur.


7. Baju. Sepatu dan sendal juga sebenernya ada, di sebelah baju. Nggak kefoto.


8. Kedai Jajanan Pasar.


                Ini saya namakan sendiri dengan Kedai Jajanan Pasar, biar sama kaya blog saya. Karena ternyata udah rame dan jajanan juga mulai bervariasi, nggak cuma jajanan pasar seperti biasa. Kebab mini, burger mini dan risoles juga berjajar bersama jajanan pasar. Mungkin saya akan sering kesini, tadi dapet klepon, nasi kuning, dan kebab mini.


9. Bakul Ayam (Penjual Ayam). Ini di luar pasar, waktu dulu para penjual masih menggunakan sepeda. Sekarang sudah beralih jadi motor. Bedanya saa nomor 4 apa? Nah, itu ada keranjang fungsinya sebagai tempat ayam. Khusus jualan ayam yang masih hidup. Itu di sebelahnya juga ada tukang becak, sebenarnya ada juga yang berjajar.


10. Ayam Goreng. Ayam goreng pun ada, itu ibu-ibu candidnya bagus juga. Kaya mau travel  kemana bu.


11. Petai.


12. Sesajian. Maih banyak loh yang jual kelengkapan sesajian di sini, karena tradisi yang membutuhkan sesajian juga masih berjalan, atau bisa jug buat nyekar. Isinya kebanyakan bunga-bunga, jadi kaya Syahrini deh, banyak bunga-bunga.


                Udah, masih banyak yang lainnya. Cukup 12 aja biar sama kaya distriknya Katniss Everdeen. Tentang harga? Murah kok, dan juga bisa nego gan, seperti di pasar-pasar tradisional lainnya. Masalah keamanan? Tenang, pasar yang mulai dari pagi hingga sore ini juga memiliki Kantor Pasar Banyumas, dan juga Pos Polisi. Itu dikarenakan pasar ini terletak di jalan yang ramai. Sering tuh ada yang kena razia deket pasar.  

                Kenapa kok masih suka main ke pasar? Ada interaksi, yap. Meskipun nggak kenal tapi masih bisa ngobrol bahkan bercanda. Murah, udah pasti. Buah dan sayur masih segar, udah pasti. Pasar tradisional juga simbol kerja keras manusia pedesaan, betapa tidak? Untuk buah dan sayur perlu ditanam dulu, perlu perawatan, baru dipanen, lalu dibawa ke pasar. Iya, rejeki memang udah ada yang menentukan, tetapi rejeki itu butuh dijemput.

                 Pasar tradisional juga kumpulan manusia dengan ribuan karakter. Ada yang jujur, ada juga yang suka nipu anak seumuran SMP kalo lagi belanja. Pasar tradisional juga panggung drama yang unik, kenapa? Biasa dilakukan emak-emak nih, tawar menawar, biasanya si emak udah nawar tapi penjualnya tetep nggak mau, biasanya si emak pergi “yaudah gak jadi beli”, lalu penjualnya akhirnya mau. Begitulah perempuan, maunya menang.

Perjalanan pulang bersama para emak di dalam angkot. Untuk pelajar tarif masih 2rb. Untuk umum 4rb. Untuk jomblo? Seikhlasnya aja.
 ***

52 comments

  1. jajanan pasar selalu menggoda iman.. dibeli lapar mata atau doyan tetap bahagiaaa...

    mba plis pentuup terakhirnya.. jomblo boleh bayar seiklhasnya ya...
    jomblo ah ahhahaha


    @mutmuthea

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah, hidup cuman numpang ketiwi kok mbak

      Delete
  2. Hahaha, taktik lama yg masih abadi sampai saat ini
    pura-pura pergi utk dipanggil lagi supaya dikasih harga yg diminta

    @siethi_nurjanah

    *mba follbak blog y
    thanks b4 ^_~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Otewe mbak saya follow ya :D

      Delete
  3. huaa jomblo bayar seikhlasnya? serius? jadi aku bayar gopek aja yaak hehe. semakin liat postingan peserta semakin laper dan jadi baper :D

    @gemaulani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya tapi masa mau sih keliatan jomblonya x)

      Delete
  4. Aihhh DOKAR jadi ingat almarhum kakek, jamanku kecil selalu diajak jalan-jalan pake dokarnya kakek. Tapi dokarnya dulu ga dipake kendaraan umum. Tapi buat angkutan keluarga, bak mobil jaman sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah berat dong kan keluarga :D saya nggak tega kalo naik dokar sama kudanya :)

      Delete
  5. 4 sama 9.apa bedanya?kan itu ayam.
    @guru5seni8

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bedanya no 4 daging, no 9 ayam masih hidup, masih bisa bunyi :D

      Delete
  6. wiiihhh, niat banget dia. Blusukan pasar.

    itu jajanan pasar yang dibeli apa namanya? itu lho yang di daun pisang? kayaknya enyak! :p


    @khoirinaannisa

    ReplyDelete
  7. Samaan ma mbak Tyas. itu daging ayam dan bakul ayam ya to. *protes*

    saya mbayangin behind the scene-nya blog post ini. ngandidin ke mana-mana (baca: nge-candid). untung ga ditangkap satpam ya. yee... pasar mana ada satpam!

    @diahdwiarti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh tapi diliatin orang-orang mak kalo lagi jalan, berhenti, terus cekrek, sambil bilang "Misi ibu numpang foto ya" eh ibunya jawab "Mangga neng, ibu dapet duit nggak difoto?" Hahah

      Delete
  8. Jajanan pasar selalu di cari di pasar tradisional

    @amma_chemist

    ReplyDelete
  9. wah jadi hunting jajanan pasar ya buat postingan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh iya jadi pengin beli jajan lagi hahah

      Delete
  10. Wahh, ada dokarnya.. Jadi kangen pengen naik ini. Btw, bersih yah Mba pasarnya, kalau gini jadi pengen belanja terus.
    @rin_mizsipoel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sekarang bersih dulu nuh masih suka berceceran, sekarang paling didepan pasarnya doang

      Delete
  11. wahh asyik... masih ada delmannya
    dulu dipasar sini juga masih ada becak n delman
    tapi sekarang dah nggak ada lagi
    adanya ojek mah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sini masih ada untungnya :)

      Delete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Ada dua poin yang ingin saya komentari, mbk.

    1. Distrik 12 udah hancur, jadi sebaiknya tambahkan satu item lagi karena katniss sedang menetap di distrik 13.

    2. Itu serius materi ditulis setelah melakukan survey ke lokasi ?? :-))

    Jadilah konten yang "fresh from the oven"

    Lihat foto-fotonya, termasuk bersih yaa mbk pasarnya.

    Dokarnya pun tampak mewah. Ketimbang delman yang ada di daerah saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh-boleh :D
      Iya kok ditulis setelah ke Pasar, saya inshaAllah kalo ngeblog total, materi tema pekan kedua kemarin juga riset #halah, tanya2 ttg CAKRA langsung lewat pesan facebook, nggak mau dong artikel ala Google, copy paste doang :D

      Delete
  14. haduh captionnya panjang nian kayak perjalanan masa laluku, wkwk

    Please jangan bawa kata jomblo, itu kata sensitif yang mencederai hati fakir asmara :')

    betewe aku fokus sama serabi dan jajanan pasarnya, sama yang jualan sajen (di pasar Banjar juga ada, di bakul-bakul gitu jualannya), aku juga fokus sama kudanya...kasian sendiri. Nunduk sedih :'(

    @onlykharisma

    ReplyDelete
    Replies
    1. Temen-temen kuda yang lain sedang njemput rejeki mak :D

      Delete
  15. Wahhhh pengen numpak dokar, terkahir kali naik dokar jaman baheula.

    Eh, penampakan serabi-nya sekilas mirip wingko ya?
    @ririekayan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wingko aduh ini enak juga mak ehe

      Delete
  16. Penasaran. Jangan-jangan sopir kol kuningnya juga jomblo. Makanya dia berbagi sesama jomblo. Baiklah. Nggak nyambung. Bhay!

    ReplyDelete
  17. Lengkap deh, pokonya seluruh barang tersedia kayaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku noh nggak ada, novel I mean hahah

      Delete
  18. WAHHH NGGUYUUU.
    Aku juga bawaannya ngeliat kuda sendirian bawaannya pengin ngelapin aja.

    Aku baru tau dokar itu aslinya karena dog car. Penjajah oneng, masa nggak bisa bedain dog sama horse -_- #salkus

    ReplyDelete
  19. Aku gak mau bahas kuda, aku mau bahas patainya aja...aku gak suka sama petai, udah gitu aja makasih, wkkk

    Btw, pasarnya asik tuh buat hangout :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asiklah kak banyak makannya, ini belum kejepret semua kok

      Delete
  20. enak2 ya cemilan pasar tradisional :D
    @aleksdejavu

    ReplyDelete
  21. Aku tiap hari ke pasar, gak jauh sih dari rumah, sekitar 300 meter. :D

    ReplyDelete
  22. Asyiiik ke pasar bisa sekalian jalan-jalan naik dokar. Tapi masih banyak atau udah jarang nih, dokarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesini aja atuh kak, deket kan? :D

      Delete
  23. Aku pernah masuk ke Pasar Tradisional di Jepara, dan di sana aku tidak ingin menawar makanan. Entahlah, aku rasa harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari yang kubayangkan. :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kok, selain nggak bisa juga nggak tega :)

      Delete
  24. ternyata di sana hidup juga "kol kuning". sebuah memori tentang masa sekolah kalau naik kol kuning :D

    @f_nugroho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah masih hidup demi angkoters :D

      Delete
  25. Baru paham saya kalau Dokar asalnya Dog Car...... masak sih

    @rizalarz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, coba cari di internet :D

      Delete
  26. Kalau ke Banyumas cuma lewat2 aja

    ReplyDelete

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^

Home