Januari: Buku, Film & Musik

BUKU: Layang-Layang Terakhir.
“Masyarakat seperti terkena candu opium membayangkan rezeki turun dari langit secara tiba-tiba, generasi muda menjadi loyo lunglai berkarat yang mestinya menjadi generasi yang tangguh dan pekerja keras, suatu hal yang diwariskan oleh nenek moyang sebelumnya sudah terlupakan. Bahkan rasa malu atas kelakuan ini sudah terkikis habis bahkan telah punah digantikan dengan jutaan bendera, baliho, photo di sepanjang jalan seantero negeri ini. (hlm. 28)”
                Begitulah kutipan di buku Layang-Layang Terakhir karya Hery Sunarsono. Sedikit cerita, buku ini saya beli dengan harga 10rb rupiah saja di bazzar buku, dan bukan buku bajakan, masih segel dan ukurannya pun cukup tebal untuk satu novel tunggal. Saya baru sempat membacanya setelah liburan semester, dan tulisannya kecil-kecil, EYD-nya juga masih banyak yang salah- ya walau sekadar penempatan koma sama huruf kapital. Namun, di balik semua itu, buku ini bagus, saya menyukainya.

Buku bajakan itu yang gimana? Cek dulu di sini.

                Novel ini mengingatkan saya pada masa kecil, sama sungai-sungai, sama ketela bakar, sama sepeda dan juga hutan-hutan yang sering dijelajahi. Anak-anak di novel ini masih begitu polos, masih begitu menikmati dunia anak-anak pedesaan. Latarnya di tanah Jawa, banyak juga penggunaan kata-kata Jawa dalam novel ini, tapi nggak usah khawatir, dibelakangnya tersedia arti-artinya kok.


“Aku memang tumbak cucuken, tetapi sekarang tidak lagi! Aku telah mengerti arti persahabatan setelah bersama mereka selama ini. Itulah kehidupan yang tidak bisa Pak Carik beli!

                Jika biasanya saya nggak puas dengan novel tunggal, seperti “ini endingnya kecepeten ya” atau “kok agak maksa ya”, tak berlaku pada novel ini, konfliknya mengalir sampai halaman akhir. Tingkah polos anak-anak yang bikin ketawa, perdebatan dan kelicikan pejabat desa yang bikin gemes, ketidakadilan pada kaum lemah sampai perkelahian antar saudara lengkap dengan jurus silat kuno yang bikin menghela napas. Saya sampai heran, buku senikmat ini kenapa nggak ada di Goodreads, reviewnya aja jarang di internet.

FILM: No Escape.

Sumber gambar :  rottentomatoes.com

                Berkisah tentang Jack Dwiyer (Owen Wilson) yang membawa serta keluarganya ke salah satu negara di Asia Tenggara dalam urusan bisnisnya. Setelah sampai ke negara tujuan, Jack bingung kenapa suasananya aneh banget dan nggak ada yang ngontak dia. Aliran listrik putus, telepon umum dan internet susah, ditambah lagi dengan keterbatasan bahasa masyarakat lokal. Lalu, ditengah-tengah kebingungannya dan suasana lagi biasa aja, tiba-tiba pecah perang sipil dengan pemerintah. Kalo dilat-liat sih, menang pemberontaknya. Di sinilah “spot jantung” dimulai.

                Karena ini film thriller, maka adegannya termasuk sadis-sadis dan berdarah-darah, semua bule yang ada di negara tersebut dibantai dengan cara yang hmm, ngeuri euy. Tapi nggak dijelasin sih ini negara mana, dari bahasanya kayak Thai, tapi kayaknya Kamboja sih, soalnya pernah baca perjalanan Bodhi di Akar-nya Dee penggambaran Kamboja juga begitu. 

                Jadi, eh, lanjut ke film. Nah proses meloloskan diri dari Jack dan keluarganya ini yang ekstrim, harus lewat sana-lewat sini, panjat sana, loncat, lempar, ini kenapa jadi kaya atletik. Jadi ngebayangin kalo di posisi Jack bawaanya udah lah pasrah sama yang diatas, pupus harapan, tapi Jack nekat bahkan sampai harapan terakhir ke Dubes Amrik, malah tempatnya udah dibakar. Lalu bertemu dengan Hammond, sosok misterius yang sayangnya harus tewas sebelumnya sudah bertemu di pesawat dan menjelaskan tentang penyebab perang, yaitu pemberontak (masyarakat) nggak mau diatur sama Amerika, ya, permasalahan biasa, negara besar memberi hutang yang terlampau agar negara yang dihutangi bisa “dijajah”. Nah, pas filmnya berakhir, cuma mikir “ini syuting latar tempat beserta penduduknya gimana ya?

MUSIK: Michi to You All - Aluto.


                Nah setelah tegang-tegang tadi, sekarang waktunya dengerin musik yang easy listening. Saya pernah nulis di sini bahwa saya menyukai musik nggak berdasarkan penyanyi atau band, tapi lirik lagu atau nadanya. Kalo bagus, di dengerin deh. Jadi ibaratnya bukan saya yang nyari musik atau musiknya yang nyari saya (lah emang bisa?), tapi kita bertemu. 
Daitai itsumo doori ni
Sono kado wo magareba
Hitonami ni magire komi
Tokete kieite iku
Boku wa michi wo nakushi
                Lanjut ke lagu, ini lagu dari soundtracknya anime Naruto, saya suka karena ada rasa biolanya, ngingetin sama lagu If I Die Youngnya The Band Perry. Judulnya Michi To You All yang dibawakan oleh Aluto. Artinya sendiri juga cukup dalem. Sila atuh dikasih pendapat.

NAH, jadi itu buku, film dan musik yang menurut saya menarik untuk dijadikan blog post di bulan Januari. Kalau kamu, apa aja?

10 comments

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^

Home