Peran Keluarga Dalam Membiasakan Budaya Literasi Untuk Generasi Bangsa Yang Unggul dan Berkualitas



Halo, apa kabar?

Isu mengenai literasi saat ini santer dibicarakan dan seakan tak ada habisnya, seperti halnya dengan permasalahan sampah yang juga sama-sama ramai. Kedua hal tersebut sama, yaitu terletak pada kebiasaan, dan kebiasaan itu sendiri budaya yang sulit untuk dilakukan. Di kalangan saya saja yang mayoritas mahasiswa dengan seluruh dunianya, label manusia intelektual tak menjadikan seluruhnya paham akan budaya literasi maupun sesederhana membuang sampah di tempatnya saat berada di bioskop maupun rumah makan. 

Kedua isu ini juga kemudian menjadi solusi yang diambil melalui program di komunitas-komunitas, kampanye-kampanye di media sosial, dan agenda-agenda rutinan lainnya. Tapi kok, ada saja permasalahan yang sama dan menahun, di situ-situ saja dan tak beranjak meskipun dengan usaha sebanyak itu dalam ranah yang dipecah menjadi kecil-kecil. Untuk melakukan perubahan yang besar dan berdampak, saya jadi memabayangkan negara menerapkan sistem sendiri seperti misalnya wajib membaca atau denda dalam pembuangan sampah secara sembarangan. Namun, masa sih kita tuh terus-terusan harus bergantung pada negara? Kok, di mana kemandirian dan inisiatif yang sebenarnya semua orang punya itu? Lagipula, negara ini demokrasi dan bebas melakukan pilihan, yang mana hal-hal semacam ini seharusnya datang dahulu dari kesadaran bersama.

Saya menjadi menelaah dan mencoba mencari titik awal di mana seharusnya fokus yang sebaiknya dimulai untuk dibenahi. Berada di lingkungan sastra pun, masih sedikit saya temui kebiasaan membaca secara konsisten. Agak terbelalak juga ketika kecakapan kritis menghadapi permasalahan sosial masih kalah dengan mahasiswa yang berasal dari eksakta seperti biologi dan perikanan. Kuliah dengan waktu yang lebih fleksibel dari sekolah, dan memiliki kebebasan mengatur waktu namun luput untuk pentingnya membiasakan membaca.

Mengapa hal ini dapat menjadi masalah seperti bola salju? Tentu saja selama ini yang ramai dibicarakan mengenai literasi hanya sebatas kemampuan akan mengolah informasi baik dalam teks maupun visual dari kebiasaan membaca atau yang biasa disebut dengan literasi baca tulis. Padahal, literasi itu sendiri banyak macamnya seperti yang diambil dari #SahabatKeluarga ini yaitu:

imgsc: sahabatkeluargakemdikbud

Urgensi inilah yang kemudian menjadi suatu keresahan, bagaimana sebaiknya mengajak tanpa harus membuat merasa dibandingkan atau terhakimi akan pilihan masing-masing individu. Saya mencoba mencari pola dalam lingkungan kerja dengan budaya startup di kota kecil bernama Purwokerto. Di budaya kerja tersebut, bukan hanya kecepatan dan tuntas dalam mengerjakan pekerjaan—namun juga lingkungan dengan kebiasaan yang produktif yaitu membaca. Kala ada waktu senggang, para mentor biasanya membuka diskusi dengan mengeluarkan buku-buku manajemen. Buku yang ilmunya tak akan ditemui di teori-teori perkuliahan. Ada waktu di mana saya terbengong-bengong bersama mahasiswa lain saking takjubnya. Betapa sebanyak apapun yang saya tahu, masih lebih banyak hal yang saya tak tahu.

Kasus di atas, memang dikatakan sebagai kebutuhan agar bisnis berjalan lancar namun ada yang lebih penting dari itu—yaitu mental yang dibentuk. Para mentor dengan segudang pengalaman dan keahlian, menjadi pembicara dan trainer di sana-sini saja masih membiasakan dengan membaca buku. Dari kebiasaan tersebutlah, saya jadi dapat membedakan karakter orang bagaimana yang benar-benar terliterasi dan mana yang kurang. Pengambilan keputusan, cara memimpin, cara berinteraksi dengan orang lain dapat terlihat bagaimana karakter berwibawanya.

Saya memperkecil lagi kebiasaan terliterasi ini dengan sesi berbagi dengan Annisa Dwiana Putri, Presiden Genbi (Beasiswa Bank Indonesia), Inisiator @temanbelajarproject, dan delegasi KKN Kebangsaan 2019 dari universitas saya. Setelah menyebutkan alasan-alasan mengapa memilih kuliah dengan segudang aktivitas di luar, Annisa dengan antusias memberikan kebiasaan membaca dan tema yang biasa dibaca adalah pengembangan diri. Annisa juga menjawab bahwa kebiasaan membaca diterapkan sejak kecil.

Saya persempit lagi dengan diri saya sendiri, jauh ke masa lalu. Saya berasal dari desa, yang percaya bahwa pendidikan sebegitu pentingnya untuk masa depan seorang perempuan. Saya memulai pendidikan TK dan SD menjadi anak yang pendiam dan menghabiskan bacaan apa saja yang ada di buku ataupun potongan koran. Menjadi anak yang antusias ketika ada guru yang bertanya mengenai isi buku pelajaran, yang mana saya sudah baca terlebih dahulu sebelum-sebelumnya. 

book harry potter buku
imgsc: NatashaG pixabay

Saya juga ada pengalaman unik mengenai bacaan. Kala menjadi siswi SMK, saya mulai menyukai Harry Potter dengan segala koleksinya, terutama buku. Hal tersebut saya beli secara sembunyi-sembunyi, hingga akhirnya diketahui oleh orang tua dan mendapat teguran. Bahwa bacaan semacam Harry Potter itu menomorduakan Tuhan, takut saya menjadi tak taat agama dan lain-lain. Saya membayangkan jika saat itu saya menghentikan kebiasaan membaca fiksi, mungkin saya tak akan duduk di bangku perkuliahan semacam ini. Tentu saja, dari sini saya mendapat insight bahwa budaya dalam keluarga, ternyata menjadi kunci penting dalam berliterasi.

Orang-orang desa yang minim fasilitas tak akan paham pentingnya bacaan. Orang tua saya saja misal, tak pernah membiasakan saya untuk membaca namun untuk selalu belajar. Latar belakang, keyakinan yang dianut, serta pengalaman pendidikan menjadi faktornya. Ya, faktor ekonomilah yang membuat adanya keterbatasan-keterbatasan itu. Seiring waktu berjalanan, saya meyakinkan orang tua saya bahwa bacaan-bacaan saya baik, atau saya bisa mengimbangi. Hasilnya, dengan berbagi seperti itu saya jadi memiliki koleksi buku hingga sekarang, dari yang dulunya jangankan lemari yang berisi buku—kosong tanpa koleksi. Tiga tahun setelah kejadian dimarahi karena takut menyimpang keagamaan, suatu pagi saya pernah ditunjukan sosok JK Rowling dalam televisi. Orang tua saya, kagum akan kesuksesan dan kedermawanan penulis Harry Potter tersebut.

Hal di atas juga yang membuat saya tertarik untuk menambah ilmu mengenai parenting dan pernikahan meskipun belum akan menikah. Bayangkan saja, sekarang mengetahui ilmu-ilmu dahulu kemudian dapat diaplikasikan di masa depan. Saya kira, generasi milenial juga akan menghadapi masalah-masalah dengan cara-cara yang baru juga di masa depan. Kemudahan informasi dan akses menjadi faktor pendorong serta tools dalam membiasakan budaya literasi ini. 

Seorang anak tak bisa memilih orang tua mana mereka berasal, namun generasi muda milenial yang nantinya akan menjadi orang tua dan mempunyai anak dapat menjadi orang tua terbaik bagi anaknya kelak. Kita dapat belajar dari banyak pengalaman-pengalaman cerita orang sebelumnya, dari kisah-kisah kesuksesan. Pengalaman-pengalaman ini juga seringnya tertulis dalam bentuk teks—lagi-lagi kebiasaan membaca. Alasan mengapa keluarga menjadi pondasi yang paling penting dalam budaya literasi adalah tentang ikatan dan ingatan. Kita bisa melihat para pemimpin, pebisnis, inisiator, dan lain-lain dapat melonjak sukses karena kesempatan memiliki kebiasaan membaca sejak kecil. Tokoh-tokoh dunia juga turut menghiasi pentingnya kebiasaan membaca ini seperti Bill Gates, Warren Buffet, Elon Musk, dan Mark Zuckerberg.

imgsc: pexels.com

Dalam asumsi saya, menggunakan analogi seperti ini. Seseorang akan lebih berani berbicara jika ia tahu dan paham akan suatu hal. Otomatis juga, keberanian tersebut akan turut mengikuti, jadi berpikir dahulu sebelum berbicara bukan sebaliknya. Orang-orang ini memiliki kecenderungan untuk memimpin sebuah tim, untuk bekerja sama dan berkolaborasi yang kemudian akan membentuk budaya di sekitarnya. Untuk lebih mudahnya, taruhlah budaya dalam ranah profesional. Otomatis, orang-orang di sekitarnya akan ikut terpengaruh positif juga. Inilah yang menjadi kunci, bibit-bibit inisiator—yang berangkat dari akumulasi kebiasaan. Budaya baru menimbulkan inovasi, ide kreatif yang diwujudkan dalam eksekusi. Muncullah, aneka ragam solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar. Bukannya, jika SDM unggul dan berkualitas ini juga akan menular? Saya membayangkan inisiator karena akan berdampak lebih luas dan langsung, membangun sekaligus mempengaruhi. Hal tersebut apabila jika dibandingkan dengan influencer saat ini yang hanya terbatas pada memberikan pengaruh melalui medium.

Namun sebelum berangkat jauh ke sana dan agar harapan tak menjadi utopis, ada beberapa ide yang bisa diterapkan dalam bagian terkecil sebelum terjun dalam masyarakat yaitu keluarga. 

1. Menciptakan kebiasaan yang konsisten dan progresif.

Membaca itu bukan hanya perlu waktu, namun kesiapan berpikir untuk mencerna. Dari mentor-mentor saya yang minimal membaca 10 lembar perharinya, taruhlah jam khusus untuk membaca. Metode ini akan berbeda bagi satu dan yang lainnya, namun bagusnya dilakukan saat golden hour. Kalau golden hour saya adalah pagi setelah mengerjakan ibadah, kemudian dilanjut melalukan permulaan hari seperti menata ulang jadwal, dan membaca buku. Mengapa membaca buku dan bukan artikel atau digital saja? Karena membaca tanpa distraksi akan lebih mudah dalam mencerna.

2. Memilih jenis buku sesuai tingkatan usia.

imgsc: pixabay

Satu yang perlu diperhatikan dari budaya membaca ini adalah bacaan itu harus bertingkat. Misalnya saat anak memasuki SMP bacaanya tak akan sama lagi dengan bacaan kala SD. Ini perlu karena otak perlu dilatih cara berpikirnya dan cara berpandangnya. Sepengalaman saya, kala memasuki kultur budaya kerja akan lebih banyak membaca buku-buku manajemen. Jenis buku-buku pengembangan diri yang biasanya saya baca sudah tak lagi relevan jika ingin bergerak lebih cepat. Apalagi buku fiksi, ada tingkatannya lagi dari buku fiksi berjenis sastra dunia, Indonesia, atau penulis muda lokal yang sedang bertumbuh. Genre buku, sebaiknya disesuaikan dengan usia dan kebutuhan.


3. Berbagi mengenai buku yang telah dibaca.

Belajar dengan metode diskusi dua arah akan lebih terlihat hasil dan perkembangannya dari pada hanya metode satu arah atau aktif-pasif. Seorang anak di masa belianya cenderung kurang memahami teks-teks berbentuk pengalaman dan nilai moral di dalamnya sebelum mengalami sendiri pengalaman tersebut. Buku kan bukan hanya bisa memberikan perspektif atau cerita inspiratif, namun bisa juga preventif tentang apa saja yang sebaiknya dihindari. Di sinilah letak berliterasi akan terjadi, bukan hanya sebatas membaca.


4. Membuat jurnal harian atau ulasan mengenai buku.

imgsc: pixabay

Yang saya pelajari dari mentor adalah selalu membuat jurnal atau ulasan singkat tentang buku yang telah dibaca dan biasanya dikaitkan dengan dengan pengalaman atau isu yang sedang terjadi. Ulasan ini membantu mereka mengingat ide dan juga ajang diskusi bagi pengguna media sosial lainnya. Dari bacaan buku saja yang diulas, dapat terjadi transfer ilmu. Begitu juga dengan banyaknya buku yang dibaca, untuk mengingat akan lebih baik menulis dalam bentuk jurnal. Tak perlu panjang lebar, bisa berupa rangkuman atau bagian-bagian yang penting.

5. Menciptakan variasi dalam berliterasi.

Membaca banyak buku bukan berarti akan menentukan apakah individu akan semakin cerdas atau lebih unggul dari yang lainnya. Justru, jika tak ada filter fokus akan jumlah banyaknya buku akan kesulitan bagaimana mengambil perspektif yang seharusnya. Coba melakukan variasi dengan mendengarkan bahasan versi audiobook, atau akun-akun podcast bertemakan tentang buku.

6. Mengajarkan anak untuk menulis ilmiah karya tulis.

Menulis ilmiah akan jauh berbeda dengan hanya menulis resensi, ada aturan dan kaidahnya tersendiri. Belajar menulis ilmiah akan membantu kegiatan akademik dalam penerapan teori, dan memisahkan mana seharusnya dengan tulisan-tulisan yang sifatnya lebih bebas. Mengajarkan menulis ilmiah sejak dini, akan membantu bukan hanya tugas-tugas akademik namun juga pembuatan proposal penelitian, proposal kreativitas, dan pembuatan esai. Tulisan akan mencerminkan bagaimana penulis telah terliterasi dan indikator perkembangan dari #LiterasiKeluarga

7. Ajak anak mengikuti kegiatan bertemakan literasi.

book store festival
imgsc: Jerry Wang, unsplash

Kegiatan membaca memang akan membawa individu banyak menemui perspektif dan pengetahuan tanpa harus keliling dunia. Namun buku-buku itu membebaskan, bukan menjadi penjara. Sekarang, terutama di area Jabodetabek seringkali ada acara atau agenda bertemakan literasi mulai dari usia sekolah hingga penulis-penulis muda. Mulai dari festival, workshop, hingga inkubasi pembuatan buku oleh calon-calon writerpreneur. Mengajak anak ke kegiatan literasi akan menumbuhkan rasa semangat dan menambah rasa keceriaan akan bentuk dari acara tersebut. Selain itu, juga bisa menumbuhkan ikatan antar anggota keluarga.

8. Jangan lupa memberikan apresiasi.

Ide-ide sebelumnya terdengar melelahkan, apalagi jika diterapkan pada anak. Namun jika sudah dibiasakan maka dapat menjadi otomasi atau berjalan sendiri. Memberikan hadiah atau apresiasi akan membuat anak semangat dan tak merasa harus terlalu mengikuti aturan.

Saya percaya bahwa peran keluarga dapat menjadi titik balik seorang anak akan bertindak dan mengambil suatu keputusan. Jika dari bagian terkecil saja sudah memiliki kesadaran, maka kepentingan bersama akan lebih mudah dalam menjalankan tujuan bersama. Keluarga di sini tentunya sangat berperan dalam membentuk budaya literasi menuju generasi bangsa yang unggul dan berkualitas. Bukan hanya cerdas dalam bidang akademik, namun juga memiliki sifat-sifat luhur seperti jujur, empati, dan mempunyai kontrol atas dirinya sendiri. Saya penasaran juga bagi pembaca yang sudah berkeluarga dan membudayakan literasi, boleh juga lho saling berbagi pengalaman di sini. 
***

28 comments

  1. Membaca itu memang sangat penting nih ya Mbak. Selain itu juga bisa menambah pengetahuan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul jika ditingkatkan skillnya wah luar biasa efeknya :)

      Delete
  2. Target memang, setidaknya satu Minggu baca satu buku untuk literasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, aku juga ditarget biar nggak cuma nurutin mood aja :)

      Delete
  3. mengenalkan pemahaman kita terhadap literasi kepada anak memang sangat penting untuk membuat anak jadi rajin membaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan hanya rajin namun juga aplikatif :)

      Delete
  4. Indonesia pasti bisa menjadi masyarakat atau warga literasi apabila membaca buku minimal 1 buku 1 hari ataupun 1 minggu 1 buku saja, yang penting rajin membaca dan menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, harusnya bisa belajar dan berkaca :D

      Delete
  5. Tahu kan,betapa pentingnya literasi untuk diri sendiri dan orang lain, literasi untuk anak dan keluargaa, artikelnya sangat lengkap kak trimakasihhh

    ReplyDelete
  6. Betapa banyak yang saya tahu, masih banyak hal yang belum saya tahu. Uhh ini bener banget mbak
    Sepenting itu memang literasi yang emang perlu dikenalkan apalagi sejak dini.
    Artikelnya kerenn Mbak
    TFs. Yahh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak, membaca cara mudah, enak, buat melihat pengalaman

      Delete
  7. Mengajak anak pada kegiatan bertema literasi buat aku masih jd Pr nih, karena kegiatan semacam itu belum banyak disini, jadi harus inisiatif emaknya sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, bisa dibiasakan di rumah dulu kak, nanti semoga dari pemda ada juga ya :)

      Delete
  8. Kepengen dah kelak mendidik anak agar menjadi penerus Habibie yg peduli dg ilmu pengetahuan tapi tidak meninggalkan ilmu agama.

    ReplyDelete
  9. Aku dulu suka banget pelajaran Bahasa Indonesia. Lalu beli buku itu termasuk hal yang istimewa. Jadi dulu ya ngandalin pinjam buku di perpus dan kebanyakan sastra lama. Tapi ternyata aku paham juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wih menyenangkan dong kak sudah baca dari dini hehe

      Delete
  10. Membaca Memeng gudangnya ilmu, keren bgt mba semua ulasan di atas betapa pentingnya literasi.

    ReplyDelete
  11. Bagi aku sebagai seorang penggiat literasi harus mengusahakan membaca buku entah apapun itu genrenya. Sesekali share di media sosial akan apa yang dibaca. Minimal quote nya sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah menyangkan pasti pengikut mba Tika :)

      Delete
  12. Lebih suka buku sih ketimbang ebook.
    .tapi kalo buku pada gak mau bagi orang-orang.
    Kalau ebook, mau lah di bagi.

    Intinya suka deh baca.😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ebook enaknya teori bisa langsung nyari keyword, kalau buku untul fokus menyeluruh :D

      Delete
  13. Mengenalkan literasi sejak dini itu penting. Yaaaa harus dididik untuk suka baca buku sejak kecil. Supay wawasannya luas. Otaknya berkembang

    ReplyDelete
  14. wah literasi memang harus dibudayakan. bahkan sejak dini. karena akan menjadi bekal yang baik utk kedepannya

    ReplyDelete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :)