Parasite (2019): Yang Coba Disampaikan dan Detail yang Diingat

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
"Jessica, only child, Illinois Chicago"

Tahun terbaik adalah tahun di mana kita bisa menikmati film-film apik. Sebagai tambahan, film yang tayang di bioskop. Tak ada yang menandingi rasa dan suasana meluangkan waktu di akhir pekan atau di sela siang yang panas untuk menebus satu atau dua tiket. Diajak kontemplatif atau membangun lagi imajinasi di sela rutinitas, langkah keluar dari studio menghasilkan hati yang bungah.

2019 setidaknya tahun terakhir dapat menikmati dan memilih film untuk ditonton layar lebar. Little Women, Gundala, Imperfect, 1917, Joker, Avengers Endgame, dan Parasite yang akan menjadi ulasan di postingan ini adalah daftar film-film terbaik pada masa itu. Sembari bernostalgia, mari duduk manis untuk melanjutkan ulasan mengenai film fenomenal, Parasite.

review film parasite
sumber: www.quora.com, Girish Kumar


Pada awal tahun 2020, Parasite kembali muncul di perbincangan pada linimasa media sosial. Berbagai meme-parodi dari film tersebut pun bertebaran di berbagai platform media sosial. Hal tersebut dikarenakan masuknya dalam nominasi penghargaan bergengsi, Oscar sekaligus adanya penayangan ulang di beberapa bioskop Indonesia. Sebelumnya, film ini telah lebih dahulu menduduki layar kaca bioskop pada rentang Juni-Juli 2019.

Sinopsis dan Alur Cerita Parasite

- Judul: Parasite/Gisaengchung
- Tahun Rilis: 2019
- Durasi: 2 jam 12 menit (IMDb)
- Genre: Drama, Thriller, Komedi
- Sutradara: Bong Joon-ho
- Pemeran (Utama):
  • Song Kang-ho sebagai Ki Taek
  • Jang Hye-jin sebagai Mrs. Kim
  • Choi Woo Shik sebagai Ki-woo
  • Park So-dam sebagai Ki-Jung
  • Lee Sun Kyun sebagai Mr. Park Dong-ik
  • Cho Yeo-jeong sebagai Ny. Park
  • Jung Ji-so sebagai Da-Hye
  • Jeong Hyun Jun sebagai Da-song
  • Park Myung Hoon sebagai Geun-se
  • Lee Jung-eun sebagai Moon-gwang

ulasan film parasite
Da-hye, Moon-gwang, Ki-woo. Sumber gambar: awardsdaily.com

Payung besar yang ada di film ini adalah mengenai kesenjangan kelas karena perbedaan status sosial dan ekonomi. Jurang perbedaan di antara keduanya menipis karena pada suatu kesempatan, keduanya bukan lagi bersinggungan namun berdekatan. Adalah mengenai keluarga Kim (Ki taek sebagai ayah, Chung-seok sebagai istri, Ki-woo sebagai anak laki-laki, dan Ki-Jung sebagai putri keluarga Kim) dan keluarga Park (Dong-ik sebagai ayah, Choi Yeon-gyo sebagai istri, Park Da-hye sebagai sang putri, dan si bungsu Park Da-song sebagai putra).

Awal film memperlihatkan kegiatan keluarga Kim dengan status ekonomi rendah dan tak memiliki pekerjaan tetap. Mereka tinggal di apartemen kumuh bawah tanah yang rentan kebanjiran saat musim penghujan. Kondisi yang ada bahkan memperlihatkan tempat pembuangan atau WC berkedudukan lebih tinggi dari pada tempat mereka beraktivitas. 

Di tengah hidup memberikan kemalangan, pintu kesempatan mulai terbuka saat teman karib Ki-woo menawarkan pekerjaan sebagai guru les privat di keluarga Park untuk menggantikannya. Berbekal rekomendasi tersebut, kehadiran Ki-woo (yang kemudian mengganti nama menjadi Kevin sebagai guru les) tak menemui hambatan berarti. Meskipun sebelumnya telah menyiapkan dokumen seperti ijazah palsu untuk mendukung kredibilitasnya sebagai guru.

Di rumah keluarga Park tersebut, Kevin memanfaatkan kesempatan di mana sang Ibu (Choi Yeon-gyo) resah terhadap perkembangan si bungsu dalam bakat seni karena tak menemukan guru yang cocok untuk jangka waktu lama. Kevin merekomendasikan Jessica, sang ahli sekaligus terapis seni palsu atau sebenarnya adiknya sendiri. Berkat keahlian dari pengalamannya menjadi aktor di pernikahan, Jessica akhirnya juga berhasil menjadi bagian dalam rumah tersebut.

jessica and da song
Jessica dan Da-song. Sumber gambar: mobyflick.it

Tak ada kecurigaan berarti, sandiwara tak hanya berakhir di sana. Ki-woo dan Ki-jung akhirnya juga memasukkan Ayah dan Ibunya untuk menggantikan supir dan pembantu sebelumnya dengan memanipulasi cerita pada majikan. Sampai di sini, bisakah kira-kira dibayangkan? Tentu saja tanpa diketahui bahwa mereka memiliki ikatan keluarga dan memainkan peran masing-masing. Sampai di sini, sudah dapat dibayangkan?

Satu keluarga "mengabdi" pada keluarga kaya dengan persiapan matang, kemudian datanglah rencana yang tak direncanakan. Pada saat keluarga Park pergi berkemah untuk merayakan ulang tahun Da-song, pembantu lama (Moon-gwang) datang berkunjung di saat semua anggota Kim sedang menikmati fasilitas rumah Park. Ternyata terdapat misteri di mana selama ini, Moon-gwang menyembunyikan suaminya di bunker rahasia yang terdapat di sana tanpa diketahui keluarga Park. Film yang berjalan dengan penuh warna dan mau tak mau penonton diajak lega sedikit karena lepas dari jerat kemiskinan, berubah menjadi tragedi. Saya berhenti di sini agar tidak spoiler terlalu banyak.

Review Film Parasite

Sutradara Bong Joon-ho dikenal memiliki produksi film-film yang khas dengan perbedaan kelas. Di film sebelumnya, Snowpiercer secara terang-terangan memperlihatkan perjuangan kelas bawah menuntut keadilan karena penderitaan yang diakibatkan selama bertahun-tahun. Jelas hitam dan putih karena ada eksploitasi dan power abuse di dalamnya sehingga merugikan satu pihak.

Namun berbeda dengan Parasite, tak ada unsur kebencian diperlihatkan dari awal film dan keluarga "miskin" Kim tidak ditampilkan dengan dramatisasi kemalangan demi kemalangan. Walau hidup dalam keterbatasan dan kepayahan, toh hidup terus berjalan dan mereka tetap bisa menikmatinya. Dalam praktik nyatanya, keadaan dalam ekonomi lemah dan serba terhimpit mau tak mau memang menemui satu jalan: menjalaninya dari pada bergelimang dalam kesedihan. Bagi mereka yang berekonomi lemah, meluangkan waktu bergelut dengan perasaan melankoli merupakan kemewahan dan tentu saja memilih untuk dilakukan.

Ki Jung and Ki Woo
Sumber gambar: cnnindonesia.com, CJ Entertainment

Namun saya senang karena di awal bersinggungan dengan keluarga Park, terasa perbedaanya bahkan hanya dari tampilan fisik. Tim produksi film Parasite tentu berusaha maksimal untuk memperlihatkan detail ini. Saya tak berbicara mengenai body shaming, namun sesuai dengan realita bahwa keluarga dengan ekonomi rendah biasanya memiliki ciri khas: kurus atau gemuk. Hal itu dikarenakan konsumsi harian yang tak seimbang, alias kalau ciri khas Asia bisa jadi lebih banyak nasi dari pada sayur dan buah yang mengandung serat. Dua anak, Ki-woo dan Ki-jung diperlihatkan dengan fisik yang kurus (tidak kurus sekali) dan orang tua yang memiliki fisik lebih tambun. Berbeda dengan keluarga Park yang proporsional dan terlihat terawat dengan perawatan-perawatan mahal secara rutin, didukung dengan pakaian-pakaian fashionable yang dikenakan.

Perbedaan kelas sosial-ekonomi juga terlihat pada bahasan mengenai bau badan. Pada satu adegan, Tn. Park mengeluhkan perihal aroma badan Pak Kim pada istrinya. Aroma yang menurutnya mirip dengan aroma subway: berbagai aroma keringat campur aduk. Hal ini yang kemudian di akhir film ternyata melahirkan tragedi bagi kedua keluarga tersebut. Tentu saja, perihal bau badan bagi orang kaya merupakan salah satu dari sekian opsi yang dapat dipilih, bahkan terlalu banyak. Berbeda dengan keluarga Kim karena sama sekali masuk dalam prioritas.

Lebih Dari Narasi Usang Si Kaya dan Si Miskin

Oh, tenang saja. Keluarga Park tak digambarkan jahat atau berlaku kekerasan pada keluarga Kim (di sini maksudnya sebagai peran mereka masing-masing: guru, supir, dan pembantu). Tn. Park hanya tak menyukai ketika orang yang tak sepantaran dengannya melebihi batas. Nyonya Park sendiri secara royal memberikan uang tambahan senilai terhitung satu hari les seni bagi Ki-jung/Jessica untuk menghadiri ulang tahun Da-song. Jika diperhatikan, keduanya sama-sama mendapatkan untung: jasa dan gaji. Dari pada disebut sebagai simbiosis parasitisme, interaksi dalam waktu ini justru terlihat mutualisme.

kim family parasite
Sumber gambar: rabbitholemag.com

Ada satu lini yang menarik ketika keluarga Tn. Kim sedang membahas kebaikan dan kemurahan hati keluarga Park yang tetap-baik-walaupun-kaya. Kemudian sang Ibu menimpali dengan satir: "mereka baik karena mereka kaya". Kesempatan dan pilihan merupakan pembeda di antara keduanya, jangan berbicara mengenai usaha keras untuk mendapatkan puncak kesuksesan, karena faktor yang membangun tak hanya teori "kerja keras". Lihat saja bukan hanya pada keluarga Kim, namun juga Moon-gwang dan sang suami (Geun-se). Kemiskinan struktural tak memberikan kesempatan itu, alias sekeras apapun mencoba, tetap saja identitas dan posisi melekat kuat seperti Ki-woo di akhir cerita. Jika ada beberapa yang berhasil, jangan lupakan mengenai survivorship bias.

Pembahasan mengenai film ini bertambah ramai ketika menyabet 4 nominasi Piala Oscar, yaitu Best International Feature Film (awalnya bernama Foreign Language Film), Best Director, Best Original Screenplay, dan Best Picture. Sebelum ramai ke layar lebar bahkan, film ini sudah lebih dahulu memenangkan Palme d'Or di Festival Film Cannes pada 2019, mendapatkan Outstanding Perfomance by a Cast in Motion Picture di Screen Actors Guild Awards 2020, dua penghargaan (Film Not In The English Language dan Best Original Screenplay) di British Academy of Film and Television Arts, dan Golden Globe Awards ke 77.

Park Family Parasite
Sumber gambar: talkfilmsociety.com

Interpretasi demi interpretasi dikemukakan, termasuk di dalamnya analisis mengenai simbol-simbol di dalam film tersebut yang memiliki makna tersembunyi termasuk poster-posternya. Tak terlepas juga perihal siapa yang sebenarnya menjadi parasit dalam interaksi antara kedua kelas tersebut. Bahasan di media sosial lebih banyak menilai apa yang seharusnya tak dilakukan "Si Miskin" yaitu bertindak tamak dan culas. Namun berbicara mengenai benar atau salah dalam konsep moral, kita tak bisa menafikan sisi abu-abu atau paradoks di dalamnya di dalamnya. 

Bong Joon-ho membawakan perbedaan kelas jauh lebih kompleks dalam interaksi manusia. Dari pada berdebat baik atau buruk, melalui Parasite lebih ditunjukan bahw kebaikan dan keburukan selalu ada di masing-masing kelas. Atas hal tersebut, saya seketika teringat tulisan Ariel Heryanto yang di dalamnya menyebutkan:

"Tak usah berdebat apa kriteria baik/jahat. Bukan saja soal itu relatif dan subyektif. Terlepas dari kriterianya apa, sejarah manusia tak pernah hanya berisi isi konflik orang baik lawan orang jahat." (kompas.id)

Porsi Parasite yang Presisi

Bong Joon-ho meletakkan Parasite dalam porsi yang pas, tak ada pemeran utama yang menonjol, dan meletakkan hint demi hint dalam adegan dengan hati-hati. Penonton dibawa suasana berwarma kemudian suasana temaram keputusasaan dalam pengemasan film tragedi komedi ini. Oh jangan lupakan juga sinematografi yang visualnya memanjakan mata dan scoring musik yang menawan. Jangan lupakan juga adegan ikonik Jessica dengan buah persik, diiringi instrumental The Belt of Faith yang nadanya tak semudah itu dilupakan ketika film berakhir.



Parasite merupakan film yang tak cukup ditonton hanya sekali untuk memperhatikan detail demi detail yang terlewatkan. Menonton film yang kedua atau lebih juga bisa melengkapi atau bahkan menggantikan persepsi saat pertama kali. Termasuk ketika saya menonton di tahun 2019 vs sekarang, rasanya jadi lebih terasa dan berbeda. Seperti kata Joko Anwar "give some movies a second chance to win your heart".

Itulah mengapa di tahun ini kala mencuri waktu senggang, saya lebih suka memutar film-film lama yang hampir selalu berhasil mengubah cara pikir sebelumnya. Seperti halnya manusia yang terus bertumbuh dan berubah, film pun ternyata dengan ajaibnya demikian. Jika setelah membaca ini tertarik menonton film lama dan bingung akan rekomendasi, membaca ulasan-ulasan di Bacaterus bisa menjadi referensi. Pilihan rekomendasi film serupa pun tersedia di sana, tak lupa juga aneka review yang menggerakkan hati untuk menonton.

parasite birthday party
Sumber gambar: gq.com

Pada akhirnya ketika berbicara mengenai film Parasite, kita akan berbicara banyak hal namun saling berkaitan. Filmnya, isu dalam filmnya, penghargaanya, dan tentu saja Bong Joon-ho. Seperti keluarga Kim yang melangkah melebihi garis batas, film Parasite pun demikian karena keterbatasan bahasa selalu menjadi hambatan untuk film mendapatkan nominasi dan kesempatan mendunia. Banyak yang terang-terangan tak menyukai menonton film dengan subtitle, padahal bahasa hanya satu aspek yang ternyata dapat meruntuhkan tembok tersebut.

Ada banyak cara bagi orang yang telah menonton film Parasite, apakah benda bernama batu, apakah isu ceritanya saja, Korea Selatan, cameo Park Seo-joon, sinyal Wi-Fi, bau badan, camping, lukisan, kode morse, dan seterusnya. Namun bagi saya, Parasite adalah "Jessica, only child, Illinois Chicago" yang ikonik dan wajah-wajah sumringah para pemainnya dalam glambot Oscar seakan-akan menyerukan "yeah, we did it!"

glambot oscar parasite
Sumber: kbizoom.com

Terakhir, satu kata bagi Bong John-ho, pemain, kru, tim, penerjemah, dan semua yang terlibat di dalam masterpiece ini: RESPEEECT!
***

Referensi:
IMDb, Parasite 2019
https://www.kompas.id/baca/opini/2020/09/12/orang-baik-3/
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

13 comments

  1. Aku juga udah nonton film ini. Alurnya bikin penasaran dan endingnya bikin terkejut. Dramatis sekali..Overall akting pemainnya keren semuanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar-benar puncaknya memang yang bikin nggak terduga ya :D

      Delete
  2. Seru banget ya kak jalan ceritanya, jadi penasaran pengen nonton film parasite. Apalagi kalo liat aktor-aktornya yang ganteng-ganteng jadi makin penasaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi ini seruuuu banget kak, wajib nonton :3

      Delete
  3. Setelah penasaran alur ceritanya dan belum sempet nonton filmnya, aku baru tau setelah baca artikel ini alur ceritanya seru juga ya ternyata, lengkap sekali reviewnya, makasih ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi saya nonton dua kali krn seruu, apalagi setelah tahu filmnya menang oscar

      Delete
  4. Alur ceritanya sungguh menarik yg disuguhkan oleh pembaca, termasuk aku. Memang terlihat bahwa flim ini mulai tayang di 2019 tpi tidak menghilangkan pesan-pesan dalam alur cerita. ini tentu rekomendasi banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Film yang bisa dikatakan pemenang 2019 ini hihi

      Delete
  5. Tontonanku selanjutnya iniii.
    Uda kebanyakan diracun sama review filmnya. Auto penasaran hehehe

    ReplyDelete
  6. Drakor ini udah lama tayang ya Mbak. Tapi dari judulnya aja aku memilih tidak menonton. Karena aku suka yang happy ending. Yang romantis. Tapi banyak juga hal yang bisa dipetik dari drakor ini.

    ReplyDelete
  7. Film Korea memang jadi Idola ya mulai kalangan Muda sampai Emak2.
    Seperti nya film Parasite ini layak untuk diagendakan nonton bareng Suami, xixi.
    Makasih rekomendasi nya ya.
    Nice review

    ReplyDelete
  8. Alur ceritanya bagus ya dan menarik kalo aku bacaa, lengkap sekali reviewnya, jadi penasaran sama film parasite ini, next film aku nonton deh parasite ini, sepertinya alur ceritanya sangat menarik

    ReplyDelete
  9. Film terbaik yang bikin merinding.
    Bener, tidak ada kebencian, hanya hawa kesenjangan ini terlampau besar. Kadang kita gak sadar kalau perbuatan kita tuh menyinggung orang lain, dengan mengatasnamakan "kewajaran".

    ReplyDelete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below (p.s: Mohon klik "NOTIFY ME" untuk mengetahui balasan komentar melalui email)