Bebas Definisi

The words. The thoughts. The journal.

September 22, 2019

Catatan di Persimpangan Jalan



Ini akan panjang dan isinya hanya teks saja, namun semoga kamu bisa mendapatkan sesuatu dari catatan ini.

Saya sudah lama nggak nulis ginian, sekalipun mau nulis catatan semacam ini nggak akan saya posting dan menggendap hanya menjadi draft saja. Alasan utamanya adalah tentu saja saya males ketauan lagi lemah dan bingungan. Saya juga sudah jarang nulis catatan personal yang sifatnya personal banget, selain karena saya rasa nggak penting lagi buat nulis jurnal semacam itu di internet, saya juga nggak nemu selama ini tulisan saya ada ruhnya atau nggak.

Kenapa pembukaanya terlihat kaya orang marah-marah ya. 

Ya intinya, tulisan-tulisan saya selama ini lebih ke pengalaman-pengalaman saja. Tahun 2019 ini cukup membawa pengalaman kepenulisan yang lebih kompleks—blog yang tiba-tiba G+nya ngga ada, DA menurun, dan kualitas blogwalking yang tak saya harapkan. Poin terakhir mungkin akan saya jadikan bahan tulisan suatu saat nanti. Lagi, makin sedikit saja bloger yang menulis personal. Saya memaklumi, karena yang tetap hanyalah perubahan.
September 20, 2019

12 Layanan Traveloka Xperience Untuk Gaya Hidup Milenial, Yang Mana Favoritmu?

Halo travelers, September ini udah ada rencana ke mana aja?

Ketika nulis ini, gue lagi pengin banget makan Mi Ayam Tumini Jogja sama Sego Sambel Iwak Pe, terus trekking dan sunbathing, ngebelangin kulit, ngga ada sinyal, terus diakhiri dengan mandi dan tidur di homestay dengan harga di bawah 100k. Terus besok paginya minum air lemon hangat, sarapannya roti bakar tiramisu atau oats dengan pisang, terus maskeran, dan baca buku favorit. Buset, kalau ngebayangin emang enak banget yee, halu aja dulu sampai keturutan jadi beneran kan siapa tahu hihi. 

Jadi keinget film Ada Apa Dengan Cinta 2 deh, boro-boro buat ngerasain gimana rasanya tersesat atau seharian lupa buat touch up make up, mau liburan aja terbatas paling dua hari dan kudu didaftar mana aja yang mau didatengin. Lama-lama, liburan aja jadi ikut-ikutan ritme hidup: perlu diatur dan harus mempunyai rencana. Eh tapi buang jauh-jauh deh pikiran-pikiran sedih kaya gitu, perluas lagi dari yang awalnya petualangan dibatasi waktu menjadi petualangan sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat. Hidup, kerjaan, tenggat waktu mah udah jadi petualangan sehari-hari, kok! Ayoo siapa yang tim liburan, laptop tetep setia di dalem ransel punggung? Nyahaha mamam. Ngga papa lah ya, biar nanti bisa lekas pensiun dini dengan sukses semuda mungkin biar bisa bantu banyak orang juga. Cakep jangan?

traveloka xperience

Tapi sebagai manusia yang pernah ngalamin ajaran-ajaran lama pola orangtua dan kecanggihan teknologi, gue masih suka melompat-lompat nih. Kadang pengin ngerasain susah dulu biar ngerasain bahagia, kadang yang simpel-simpel aja dah udah. Misalnya pas lagi iseng-iseng jualan barang-barang lucu, jaman SMK dulu sih masih keliling rumah abis sekolah, kalau sekarang tinggal pasang aja secara daring. Kemudahan teknologi inilah yang semakin membuka banyak peluang dan kesempatan buat dengan mudah generasi milenial termasuk gue buat pindah-pindah dari satu pengalaman ke pengalaman lainnya. 
September 19, 2019

USB OTG SanDisk Dual Drive: Solusi dan Kemudahan Back Up Data Smartphone Untuk Semua Orang

Halo, apa kabar?

Ada yang di sini aktif main Twitter? Kalau ada, pasti nggak cuma sekali dua kali aja menemukan berita kehilangan laptop di linimasa. Yang menjadi urgensi adalah berkas-berkas penting di dalamnya, dan yang menjadi perhatian adalah rata-rata berkas tersebut adalah skripsi—artinya milik seorang mahasiswa. Di era sekarang padahal sudah banyak cara untuk mencadangkan berkas, dimulai dari flashdisk, atau cara yang mudah secara daring yaitu email dan mengunggah di penyimpanan daring seperti Google Drive. Belajar dari pengalaman kehilangan tersebut yang tentu saja tak ingin kita alami, sebaiknya kita melakukan back up secara berkala. Pun, perlunya double back up data secara berkala ini bukan hanya sebagai antisipasi resiko kehilangan saja, namun ketika tiba-tiba perangkat rusak kan sudah tenang.

san disk usb otg android dual drive

Kalau kasus di atas itu laptop ya, orang cenderung akan lebih mencadangkan berkas kalau pakai laptop karena resikonya lebih terlihat. Bagaimana kalau smartphone atau gawai? Nah, padahal kalau dilihat resiko berkas di gawai itu mudah sekali buat terhapus dan tak bisa dikembalikan. Apalagi biasanya foldernya berantakan alias kurang terorganisir, mau menghapus buat kosongin memori rasanya #DibuangSayang. Pengalaman pribadi, kala masih punya gawai dengan RAM yang minim kemudian mengalami bootloop. Sudah sedemikian rupa berusaha mengembalikan namun ternyata ya hilang semuanya beserta aplikasi-aplikasi yang terpasang. Mana kan kalau unggah foto-foto lagi udah lupa dari mana aja kan ya?
September 18, 2019

Peran Keluarga Dalam Membiasakan Budaya Literasi Untuk Generasi Bangsa Yang Unggul dan Berkualitas



Halo, apa kabar?

Isu mengenai literasi saat ini santer dibicarakan dan seakan tak ada habisnya, seperti halnya dengan permasalahan sampah yang juga sama-sama ramai. Kedua hal tersebut sama, yaitu terletak pada kebiasaan, dan kebiasaan itu sendiri budaya yang sulit untuk dilakukan. Di kalangan saya saja yang mayoritas mahasiswa dengan seluruh dunianya, label manusia intelektual tak menjadikan seluruhnya paham akan budaya literasi maupun sesederhana membuang sampah di tempatnya saat berada di bioskop maupun rumah makan. 

Kedua isu ini juga kemudian menjadi solusi yang diambil melalui program di komunitas-komunitas, kampanye-kampanye di media sosial, dan agenda-agenda rutinan lainnya. Tapi kok, ada saja permasalahan yang sama dan menahun, di situ-situ saja dan tak beranjak meskipun dengan usaha sebanyak itu dalam ranah yang dipecah menjadi kecil-kecil. Untuk melakukan perubahan yang besar dan berdampak, saya jadi memabayangkan negara menerapkan sistem sendiri seperti misalnya wajib membaca atau denda dalam pembuangan sampah secara sembarangan. Namun, masa sih kita tuh terus-terusan harus bergantung pada negara? Kok, di mana kemandirian dan inisiatif yang sebenarnya semua orang punya itu? Lagipula, negara ini demokrasi dan bebas melakukan pilihan, yang mana hal-hal semacam ini seharusnya datang dahulu dari kesadaran bersama.

Saya menjadi menelaah dan mencoba mencari titik awal di mana seharusnya fokus yang sebaiknya dimulai untuk dibenahi. Berada di lingkungan sastra pun, masih sedikit saya temui kebiasaan membaca secara konsisten. Agak terbelalak juga ketika kecakapan kritis menghadapi permasalahan sosial masih kalah dengan mahasiswa yang berasal dari eksakta seperti biologi dan perikanan. Kuliah dengan waktu yang lebih fleksibel dari sekolah, dan memiliki kebebasan mengatur waktu namun luput untuk pentingnya membiasakan membaca.

Mengapa hal ini dapat menjadi masalah seperti bola salju? Tentu saja selama ini yang ramai dibicarakan mengenai literasi hanya sebatas kemampuan akan mengolah informasi baik dalam teks maupun visual dari kebiasaan membaca atau yang biasa disebut dengan literasi baca tulis. Padahal, literasi itu sendiri banyak macamnya:

imgsc: sahabatkeluargakemdikbud

Urgensi inilah yang kemudian menjadi suatu keresahan, bagaimana sebaiknya mengajak tanpa harus membuat merasa dibandingkan atau terhakimi akan pilihan masing-masing individu. Saya mencoba mencari pola dalam lingkungan kerja dengan budaya startup di kota kecil bernama Purwokerto. Di budaya kerja tersebut, bukan hanya kecepatan dan tuntas dalam mengerjakan pekerjaan—namun juga lingkungan dengan kebiasaan yang produktif yaitu membaca. Kala ada waktu senggang, para mentor biasanya membuka diskusi dengan mengeluarkan buku-buku manajemen. Buku yang ilmunya tak akan ditemui di teori-teori perkuliahan. Ada waktu di mana saya terbengong-bengong bersama mahasiswa lain saking takjubnya. Betapa sebanyak apapun yang saya tahu, masih lebih banyak hal yang saya tak tahu.

Kasus di atas, memang dikatakan sebagai kebutuhan agar bisnis berjalan lancar namun ada yang lebih penting dari itu—yaitu mental yang dibentuk. Para mentor dengan segudang pengalaman dan keahlian, menjadi pembicara dan trainer di sana-sini saja masih membiasakan dengan membaca buku. Dari kebiasaan tersebutlah, saya jadi dapat membedakan karakter orang bagaimana yang benar-benar terliterasi dan mana yang kurang. Pengambilan keputusan, cara memimpin, cara berinteraksi dengan orang lain dapat terlihat bagaimana karakter berwibawanya.
September 17, 2019

Berawal dari Jajanan Anak Sekolah, Makanan Ini ‘Naik Kelas’ Menjadi Menu Andalan di Café

Siapa yang masih ingat, waktu jaman sekolah dulu jajanan apa aja yang sering dibeli? Meskipun masih ada beberapa jajanan jaman dulu yang bertahan hingga saat ini, namun perkembangan kuliner yang tidak pernah berhenti juga terus-menerus menciptakan aneka ragam inovasi-inovasi baru untuk para masyarakat pecinta kuliner. Mulai dari kue cubit, kue lekker, pisang goreng, hingga telur gulung sering kali dijadikan sebagai jenis jajanan anak sekolah paling favorit saat ini.

Namun, siapa sangka bahwa jenis jajanan anak sekolah yang bisa kamu temukan dengan mudahnya di depan gerbang sekolah dengan harga ribuan, justru ‘naik kelas’ menjadi menu andalan di café-café mahal dengan harga yang mencapai puluhan ribu. Nah, di artikel kali ini, kita akan melihat jenis jajanan anak sekolah yang bertransformasi menjadi menu andalan di café-café. Pasti dari beberapa jajanan ini sudah kalian temui juga di café-café.

1. Kue Cubit 

kuecubitkekiniancafe
imgsc: opensnap.com

Siapa yang tidak kenal dengan kue kecil berbentuk bulat yang digemari oleh anak-anak ini? Biasanya gerobak kue cubit satu gerobak dengan kue laba-laba dan bisa ditemukan di depan gerbang sekolahan. Namun seiring berjalannya waktu, kue cubit bukan lagi hanya dijual di gerobak pinggir jalan, melainkan ‘naik kelas’ menjadi menu andalan di café mahal.