Bebas Definisi

The words. The thoughts. The journal.

August 16, 2019

8 Cara Menggendutkan Badan yang Ampuh, Berat Badan Langsung Naik!

Halo, apa kabar?

Kamu sudah bosan dengan artikel yang selalu memberikan cara-cara diet karena kamu sendiri susah untuk menaikkan berat badan? Kamu juga pasti sudah kebingungan karena sudah makan banyak tetapi berat badan segitu-segitu aja? 

feet fashion


Tenang, kamu gak perlu panik apalagi khawatir, coba deh intip dulu tips-tips di bawah ini:

1. Tidur Cukup

Kalau kamu sering bergadang dan badanmu kurus, mulai sekarang kamu harus berhenti tidur kurang dari 7 jam sehari. Ketika kita nggak mendapatkan tidur yang cukup, tubuh kita nggak bisa berfungsi dengan baik keesokan harinya – termasuk dalam menyerap kalori dan nutrisi yang kita konsumsi serta memperbaiki otot kita setelah olahraga. Kita juga menjadi takmaksimal dalam berolahraga dan beraktivitas keesokan harinya ketika kurang tidur.

2. Berhenti Merokok
August 12, 2019

Asuransi Kesehatan Sebagai Investasi Gaya Baru Milenial

Bahasan mengenai milenial selalu menjadi topik yang menarik tersendiri bagi saya. Mengenai gaya hidup, pandangan politik, ide-ide, karya kreatifitas, sampai peran mereka terhadap perubahan di berbagai aspek dalam kehidupan. Sebelumnya, udah tahu belum ciri-ciri milenial seperti apa? Menurut saya milenial ini unik dan menarik lho, berdasarkan modul Statistik Gender Tematik: Profil Generasi Milenial Indonesia ada beberapa ciri-ciri milenial. Yaitu dekat dengan media sosial, kreatif dan punya passion, produktif, dinamis, ingin serba cepat, open minded, kritis, dan berani. Jadi, di balik gerakan mereka yang lahir antara 1980-2000 ini begitu cepat dan produktifnya, tetep ada kelemahan. Kelemahan ini jika tak segera dilatih dan dibangun, masa depan bakal terancam.

Disebut Generasi Dinamis dan Kutu Loncat, Bagaimana Tantangan Milenial di Masa Depan?

milenial

Gini, pernah mendengar berita kalau di masa depan milenial bakal susah punya rumah? Ternyata yang disoroti adalah pola konsumtif dan serta habit yang buruk. Sebagai salah satu bagian dari milenial, saya juga merasakannya. Terbiasa dengan yang serba instan, milenial seringkali mudah bosan dan menjadi kutu loncat—loncat dari satu bidang ke satu yang lainnya. Menurut Firdaus Putra (Direktur Kopkun Institute) milenial harus hati-hati dengan habit ini, milenial butuh gagal, jangan hanya berkarya dalam permukaan namun harus mengakar. Jadi, nggak heran kalau sekarang melihat banyak milenial yang multitasking namun kerjanya tak tuntas, medioker, dan sulit mengerjakan sesuatu dengan detail. Alasannya ya bukan untuk romantisasi, namun membentuk mental yang kokoh di masa depan. 

Kualitas Premium OLED TV LG Hadirkan Pengalaman Terbaik Menonton Televisi



Sejak kuliah, saya jadi jarang nonton televisi. Selain karena memang disrupsi dari gawai, tayangan televisi lokal jarang ada yang bagus kecuali saluran tv tertentu. Itupun bisa dihitung dengan jari, dan karena semenjak menerapkan hemat waktu, dengan adanya iklan saya rasa lebih suka nonton tayangan ulangnya melalui YouTube. Namun kemudian apakah produksi televisi menjadi hilang di pasaran? Tentu saja tidak, mengikuti zaman fungsi televisi bukan hanya untuk menayangkan tayangan stasiun siaran saja namun bisa juga untuk menonton film atau iklan. Kan, kalau misal kita sedang di ruang tunggu rumah sakit atau manapun biasanya ada televisi agar tak jenuh.

TV OLED LG

Kalau di penginapan atau di hotel meskipun sekarang sudah serba gawai, tetep ada tuh yang namanya televisi. Saya juga suka nyalain walau kadang saya yang ditonton televisi, ya biar nggak sepi-sepi banget gitu nyahaha. Tapi seringnya sih nonton saluran televisi luar negeri yang tanpa iklan, biasanya banyak film keren—dan rasanya berasa puas nonton seperti bioskop mini. Kemudian terpikir, wah asyik juga ya kalau misal pikiran sedang ingin nonton film kemudian disalurkan ke televisi yang bening abis. Kamu juga rasanya puas seneng gitu nggak kalau nonton film di televisi yang bagus?
August 05, 2019

Ibu Kota Baru Untuk Masa Depan Indonesia

Pada suatu pertemuan, CEO saya Anis Saadah pernah memberikan sejumlah pertanyaan dari buku Factfullness dan semua jawaban salah, hanya beberapa hampir mendekati benar. Buku tersebut ditulis oleh Hans Rosling tersebut memberikan fakta-fakta di dunia yang selama ini salah. 16 fakta tersebut yaitu angka kemiskinan, tingkat minat daya baca, partisipasi perempuan dalam politik, angka harapan hidup, sampai kesejahteraan sosial yang mana banyak diasumsikan masih menjadi masalah atau penurunan, namun justru berdasarkan fakta sudah membaik. Melalui 10 tahun proses dalam pembuatan buku tersebut, Hans mengajak pembaca atau orang di seluruh dunia dapat berpikir lebih adil dan jangan hanya menggunakan insting, namun melihat pada data dan fakta. 

Hans dalam buku tersebut juga memberian fakta bahwa salah berasumsi dikarenakan manusia punya insting yang buruk bagi sekitarnya. Dan cara untuk menguranginya adalah selalu mempertanyakan data dan detail dalam melihat informasi. Kemudian, kami juga berdiskusi mengenai peran media yang acapkali memberikan tentang kekurangan, serta isu sosial kemanusiaan lain dalam bingkai bad news is a good newsnya sedemikian rupa. Hal tersebut memberikan informasi bahwa beberapa sedang tak baik-baik saja, namun lagi-lagi kembali ke satu hal: hal tersebut tak menyeluruh, harus berhati-hati dalam mengonsumsi informasi.

ibukota jakarta

Pemindahan Ibu Kota Indonesia-lah yang membuat saya teringat akan bahasan dari buku Factfullness tersebut. Seperti yang kita tahu, April 2019 lalu Presiden RI, Jokowi menggelar rencana pemindahan Ibu Kota yang sebelumnya telah dikaji 2 tahun sebelumnya (2017), dan sebelumnya sudah menjadi wacana pada 2016. Lokasi tepatnya akan diumumkan pada bulan ini (Agustus 2019) dan menurut Bambang Brodjonegoro1 (Menteri PPN/Bapennas) pemindahan dapat dimulai dibangun pada 2020 dengan target selesai 2024. Anggaran biaya pemindahan mencapai 466 trilyun yang berasal dari APBN dan kerja sama dengan pihak swasta.

Pemindahan Ibu Kota Merupakan Sejarah Panjang
August 01, 2019

ISoLLING 2019: Challenges and Opportunites for Digital Literature



Halo, apa kabar?

Sabtu, 13 Juli 2019 lalu saya mengikuti ISOLLing 2019 (International Seminar on Literature and Linguistics dengan tema Industry 4.0: Challenges and Opportunites for Digital Literature yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sabtu yang random, sebetulnya karena tiba-tiba saja pagi memutuskan untuk datang ke sini tanpa rencana, alias bayar di tempat juga. Sejauh ini seminar termahal yang pernah saya ikuti saat ini, tapi setelah mengikuti sampai akhir emang worth banget, penuh gitu dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore. Udah kaya kuliah, lagian kan semester ini nggak ambil mata kuliah jadi seneng banget bisa bahas mengenai language & literature ini. Pun, dengan tema yang menarik karena lagi-lagi mengusung revolusi industri 4.0, di mana-mana ada akan dan saya mencoba mengambil insight dari perspektif sastra dan bahasa.

isoling 2019 ump


Pembicaranya ada 6 yaitu Prof. Dr. Mohd Nazri dari Universitas Zaenal Abidin Malaysia, Hywel Coleman dari Leeds University, Shuri M Gietty Tambunan, Ph. D. dari Universitas Indonesia, Prof. Martin Ebner,Ph. D dari Graz University of Technology, Luthfie Arguby Purnomo dari IAIN Surakarta, dan Khristianto dari UMP sendiri. Dari 6 pembicara itu tentu saja membuka banyak perspektif mengenai digital literature dan memaaang ya ternyata ilmu itu luas banget. Satu jenis ilmu aja bisa nyabang ke mana-mana, karena hidup sendiri juga berdinamika dan memungkinkan ilmu-ilmu yang baru tumbuh dari sana.