Cerita Kucing

     Selain gampang diare, saya juga suka kucing. Bagi saya, kucing bukan sekedar peliharaan, tapi sekaligus teman, pembawa kemujuran dan anggota keluarga ke lima, ah anggap saja begitu. Kata bapa, waktu bayi saya pernah tidur bersama kucing, kucingnya diatas kepala saya, seakan saya dan kucing adalah dua makhluk menggemaskan yang tidak dapat terpisahkan.

     Walau saat bayi saya sudah didekati kucing, lantas tak membuat saya langsung menjadi penyuka kucing. Justru masa kecil saya sungguh mengerikan seperti psikopat, tidak seperti sekarang yang anteng, kalem, ora mitayani, ngantukan. Kata ibu dan bapak, dulu saya pernah memasukan anak ayam dalam pawon atau tungku yang ternyata masih ada bara apinya, untunglah pithik-pithik itu berhasil diselamatkan walaupun ada yang kakinya melepuh. Dan kemudian saya pernah memasukan kucing dalam karung, pernah juga melempar kucing dengan ekornya. Sungguh, kalau diingat-ingat saya merasa kotor dan ingin bertapa saja. Maka setiap Idul Fitri, atau waktu tertentu saya meminta maaf kepada dua kucing tersebut. Dua kucing korban kekejaman saya masih hidup, malah yang satunya masih kucing saya. Namanya kerennya Bruno, nama merakyatnya Guteng, bulunya yang hitam, besar dan kekar, kalau digigit maknyus. Karena dia kucing pengembara yang sudah dewasa maka dia jarang pulang, paling hanya sesekali untuk makan.

Bruno, kucing Backpacker.
     Saya tidak pernah dengan sengaja memelihara kucing, selalu anakan dari kucing bibi yang suka main ke rumah. Mungkin karena kucing tersebut menemukan 'rumah'nya, jadilah betah dirumah saya. Dari keluarga bapak, hampir semuanya menyukai kucing. Pak De saya yang tinggal di Irian Jayapun memiliki banyak kucing, sebagian ada yang diambil dari jalanan. Jenis kucingnya pun kucing lokal atau kucing kampung.

     Kucing saya berwarna abu-abu, umurnya sekitar satu setengah tahun. Namanya Kudet, bukan saya yang memberi nama, tetapi adik dan sepupu. Sejarahnya Kudet lahir pas anget-angetnya iklan Mie Sedap Cup. Kata mereka, Kudet artinya Kucing Update. Lumayan kreatif. Namun Kudet juga memiliki nama alias yang banyak macam teroris, seperti Momon, Kuku dan Daemon.Ibu saya yang suka drama korea juga tak kalah memberi nama alias, Meng-Meng. Warna Kudet yang kelabu juga membuat kucing ini mirip binatang lain, seperti tikus, kerbau, kus-kus, koala bahkan monyet. Percayalah.

     Kudet adalah anak dari Bruno dan Genit (nama induknya Bruno), jadi Bruno adalah bapak sekaligus kakak dari Kudet, yah namanya juga binatang. Kudet memiliki ekor bundel, hidung oranye, ukuran kepala yang tidak proposional dengan perut buncitnya dan garis tengah hitam memanjang dari kepala sampai ekor. Untuk seukuran kucing jantan dia termasuk pendek. Berbeda dengan namanya yang harusnya update, kucing ini tumbuh sebagai kucing rumahan dan cemen, keluar rumah hanya sesekali. Sekali keluar rumah ketemu Bruno, tarung dan kalah. Tapi Kudet yang rumahan dan kalahan membuat kucing ini berbeda, suaranya juga bukan meong, bulunya lembut menjadi favorit keluarga. Lebih suka menjilat daripada menggigit.

     Kudet selalu menemani saya belajar materi ulangan dadakan, duduk dengan nikmatnya diatas tumpukan buku, jika sudah jam 2 dini hari selalu datang ke kamar dan tidur didekat saya, saya memang mengijinkan, yang penting bersih. Suatu waktu Kudet pulang dengan luka, setelah dimandikan dan dikafani , dia dengan sendirinya pula masuk ke kamar saya. Saat itu merupakan momen yang membuat ngilu, Kudet tidak bisa bernafas normal, tidak makan setidaknya 4 hari bahkan keluarga sudah 'rapopo' jika Kudet mati daripada tersiksa.  Tetapi ternyata seekor kucingpun mempunyai harapan besar daripada manusia, dia sehat setelah di suntik paman (kata paman kulitnya lebih keras daripada kulit kambing) dan iming-iming janji dibelikan ikan oleh saya, bapak, ibu dan bibi jika sembuh, sungguh alay. Memelihara kucing memang tidak sesangar jika memelihara singa atau chimaera, tapi terbukti dengan mengelus kucing, stres bisa hilang.


Tumben Dor, kemut.

     Bagi yang ingin tau bagaimana tampang Kudet, berikut saya tampilkan foto-foto ekslusifnya, bagi yang punya kucing cantik, seksi dan menawan boleh lho Jeng, Jengboy buat dikenalin ke Kudet.

Foto KTP

Arip bos

Kala sehat dan kala sakit, aku tetep jomblo.

Hai

Partner in crime.

Karena orang yang suka kucing nggak bakal kemana sama kucing, di asramapun, saya punya kucing, nih







***


6 comments

  1. buset jauh amat dari Bruno ke Guteng haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong, daerah dan universal

      Delete
  2. Postingannya serius tapi ngakak, endingnya ngakak, partner in crime. Selain gampang diare, suka kucing ternyata. Lucu beneran sumpah, gak berhenti ketawa aku dari tadi.

    ReplyDelete
  3. hahaha ceritanya lucu mbak.jadi kalau si kudet sehat di kasih iming-iming mau dibeliin ikan ya :D

    ReplyDelete
  4. Fauzy Husni Mubarok : Awas ngakak sampai diare...

    ReplyDelete
  5. devina putri : Woo iyo, kucing bikin bangkrut..

    ReplyDelete

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^

Home