Tersesat Sebentar

Pada suatu waktu, saya akhirnya mengerti bahwa sebuah pilihan merupakan keputusan yang sangat personal dari berbagai pertimbangan. Namun yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, sampai kapan pilihan tersebut diambil dan dijalani? Akan lebih mudah bagi yang adaptif dan realistis, dan sedikit lebih susah bagi yang idealis. Jawabannya adalah menjadi realis idealis, fokus pada prioritas, dan kemudian selesailah sudah postingan ini.

Ah teknis banget, ayo cerita-cerita dulu biar nggak bolak balik nentuinnya.

cr: pixabay hudsoncrafted
Kalau di atas sudah terdengar seperti tantangan yang mengasyikan dan nggak membosankan, sudah bukan jadi masalah. Namun bagaimana jika menginginkan sebuah tempat untuk diri sendiri, karena melakukan hal di atas telah dilakukan hampir semua orang. Bagi saya, tak apa-apa untuk barangkali tersesat sebentar, menemukan berbagai jawaban atas banyaknya pertanyaan dalam diri, namun jangan lupa untuk kembali pulang dan hidup. Jangan lupa bahwa, kita memang bagian dari hidup. Apakah artinya ini bentuk dari menyerah? Bukan dong, ini adalah jawaban yang selama ini dicari dari perjalanan-perjalanan kebebasan. Bagi beberapa orang, kebebasan adalah waktu yang ditunggu setelah mengerjakan tugas-tugas utama, sebuah waktu sederhana yang bisa dinikmati di tempat itu juga tanpa harus berjalan jauh.

Beberapa waktu yang lalu teman saya membuat rekaman untuk siniar dan ada pertanyaan mengapa makin dewasa manusia makin sedih? Kami sama-sama menjawab bahwa ketika dewasa kita bukan berbicara mengenai diri sendiri, namun melibatkan orang lain—paling terdekatnya: keluarga. Diibaratkan mengendalikan kapal agar tidak oleng, namun juga sembari bersiap akan apa saja yang ada di depan. Satu hal yang tak kalah penting juga sekarang, yaitu tetap memberikan ruang bagi diri sendiri—sebuah bentuk tetap menyayangi diri sendiri dan bukan keegoisan.

Akhir-akhir ini, saya mulai tak berminat berbicara mengenai diri sendiri dan lebih berbicara mengenai ide, atau pengalaman yang dilakukan orang lain. Miracle on people, setiap orang memiliki cerita masing-masing yang tak bisa seenaknya memberikan label. Ya memang beberapa kali kita bakal ketemu yang sucks, namun kan ngga berakhir sampai situ. Sebagai manusia yang tumbuh dalam keadaan tak utuh, saya penasaran bagaimana cara menemukan dengan cara sendiri dan jalan mana yang paling cocok. Nemuin role model lah biar hidup nggak clueless dan nggak goyah sama tujuan dan fokus awal. Kita emang selalu punya pilihan, dan salah satunya adalah menghadapinya, mengendalikan.

Monmaap, sepertinya postingan ini terbaca kurang fokus.

Intinya sih sebenernya mau memberi lini bahwa lain kali, lebih berani dan lebih menerima di hadapan keragu-raguan. Jika saat ini posisi kedua kakimu berdiri di pesimpangan jalan dan di hadapanmu terlihat keragu-raguan. Tenang, tak perlu mengkhawatirkan benar atau salahnya dahulu karena akan membuat beban menghambat yang selalu dibawa, ayo tetap bisa mengontrol diri sendiri— kamu sudah separuh jalan.
***

2 comments

  1. "Mengapa makin dewasa manusia makin sedih?"

    Saya tertarik dengan pertanyaan ini.. apakah nafsu memiliki segalanya adalah alasannya sedangkan maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai?

    ReplyDelete
  2. Sambil nyanyi.. "aku tersesat dan tak bisa bangkit lagi..."

    ReplyDelete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :)