Malaikat: Apakah Kita Masih Melihat Gol Yang Sama?


               Hello there, the angel of my nightmare, the shadow in the background of the book~
Hai! Abaikan awalan postingan ini, sekarang saya mau review buku yang bawaanya kalo baca buku ini ingin berkata kasar.

Kasar.

Oke sudah. Gak lucu.

Saya dapet kiriman buku ini lengkap dengan tanda tangan penulisnya dari giveaway di Goodreas. Thanks a lot! Oke, detail bukunya dulu ya, serius ini buku oke punya.

Judul buku: Malaikat
Penulis: Agung Rusmana (@arusioso)
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Editor: Afrianty Pardede
Ilustrator: Pranaditya Andhika Widi
ISBN: 978-602-02-4840-0
Harga: Rp 57.800,-
Genre: Fiksi
Jumlah halaman: 328 halaman
Sinopsis:


Agra dan Abith, dua orang sahabat yang saling membutuhkan. Ketulusan hati yang mereka miliki tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Mereka sama-sama memiliki masa lalu yang sangat sulit untuk dilewati, tapi mereka sama-sama percaya hidup harus dijalani dengan cara yang indah.

Agra memiliki seorang “malaikat”yang selalu mendukungnya dalam setiap kondisi, walau akhirnya sanga “malaikat”pun harus meninggalkannya. Abith juga memiliki “malaikat”sebagai penyelamat hidupnya. Bagaimana para “malaikat”ini bisa memerankan fungsinya dengan baik? Mungkinkah “malaikat”itu meninggalkan Agra/Abith dalam kondisi yang hancur?

Editor's Note

Novel ini menunjukkan kisah yang manis antara dua orang sahabat yang saling menopang. Melalui novel “malaikat”pembaca akan semakin mengerti, Tuhan mempersiapkan seorang “malaikat”yang akan hadir dan tidak akan meninggalkanmu. (Goodreads)
*** 


Keputusan terpenting dalam hidup enggak pernah mudah.” (hal 72)

              Membaca lembar terakhir buku Malaikat membuat saya tertarik untuk lebih banyak membaca buku (non akademik-tentunya) karangan laki-laki. Jelas terlihat beda alur dan feelnya. Baik, Malaikat adalah cerita tentang Abith dan Agra dalam satu flat, Abith berusia 20an dan Agra 30an. Mereka memiliki karakter yang sangat berbeda, namun juga membuktikan bahwa perbedaan itu justru yang membuat mereka dekat, bromance, istilah gaulnya.

               Kemudian, jalan takdir mulai berubah saat munculnya Kaemitha di kafe tempat Abith bekerja. Suatu waktu Kae main ke flat Abith, dan ternyata sosok Kae mengingatkan pada masa lalu Agra, seseorang yang begitu disayanginya namun akhirnya berpisah. Lantas, jadinya Kae jadian sama Abith nggak nih? Atau malah sama Agra? Baca sendiri, ya.

Enggak usahlah sok mengorbankan diri sendiri untuk kepentingan orang lain. Kecuali lo salah satu relawan Armageddon.” (hal 145)

                Buku ini juga banyak pelajaran-pelajaran hidup yang diambil, seperti saat kita memutuskan sesuatu, saat merelakan, bahkan tentang moment, yang sering kita tunggu, harusnya kita ciptakan sendiri . Terus nih, jadi mikir juga nulis itu ternyata pekerjaan berat ya, bagaimana harus mendeskripsikan atau menggambarkan kejadian dari waktu ke waktu secara detail. Saya juga sangat suka bagaimana penulis menggambarkan apa itu jatuh cinta dan atmosfirnya melalui dialog-dialog Agra tentang Kae. Begitu nyata. Ini yang menurut saya menjadi daya tarik dari keseluruhan isi. Nice one, bang Arus! Saya amat suka! Contohnya nih:

"Ia ingin melihat pemilik suara itu. Pemilik suara yang indah dan syahdunya tidak sopan mengacak-acak ketenangan jiwa."

               Buat yang masih belum tertarik sama buku ini, diantara bab selalu ada ilustrasinya kok. Saya suka. Oiya, terus alurnya itu apa adanya, mengalir tapi nggak mainstream, gayanya masih metrotop. Terus, saya beberapa kali nebak ada yang melenceng, tapi ada juga yang bener. Selama baca rasanya ikut khawatir, ikut sedih, ikut senyum-senyum sendiri, bahkan dengan lucunya, ikut ketawa-ketawa sendiri.

"Enggak ada pesta yang nggak bubar." (hal 161)

               Begitu juga nggak ada gading yang nggak retak. Masih ada kelalaian editing kayanya di sini. Misal pada halaman 120 tertulis 'sudahdingin', pada halaman 164 'Agra' tertulis dua kali, dan halaman 227 yang harusnya Abith malah tertulis 'Abirh'. Selanjutnya bisa dijadikan koreksi. Terus yang halaman 313 tentang siapa yang ingin ditampar memang lucu, tapi semuanya pasti juga tahu, bang Arus. Mungkin ini ciri khas seorang penulis, sah-sah aja, berkarya itu bebas kok.  Overall, I did enjoy to read this book!  

Teruntuk pembaca, kalian kapan baca buku ini? Atau, boleh dong share, siapa malaikat dalam hidup kalian?

Terkadang semua terasa terputar kembali. Kita seperti pernah berada di ruang sama, dengan kejadian dan situasi yang sama, tetapi dalam waktu yang berbeda.” (hal 276)
***

No comments

Post a Comment

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^

Home