Pengalaman Konsultasi ke Psikolog di RS Ananda Purwokerto

Halo, apa kabar?

Senang sekali akhirnya bisa berkonsultasi ke psikolog setelah sekitar hampir setahun menunda dan maju mundur alias ragu-ragu. Biasalah, sudah menjadi kebiasaan kalau 'harus merasa' dahulu baru bertindak. Menunggu menumpuk dan membutuhkan pertolongan profesional dahulu baru mendaftarkan diri. Apalagi kondisi pandemi yang membuat pasien di poli psikiatri bertambah, rasanya jadi terburu-buru untuk dapat berkonsultasi secara panjang dengan dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater. Pun rasanya tak enak juga jika berlama-lama, maka menuliskan detail sebelum konsultasi juga saya lakukan agar ringkas namun tetap tepat tujuan.
pengalaman konsultasi ke psikolog
pict by: pch.vector, freepik


Setelah terpikir lama, saya membutukan tambahan bantuan berupa waktu lebih untuk dapat berbicara mengenai masalah yang ada melalui pendekatan pola pikir dan perilaku dengan tenaga profesional. Dan karena konsultasi pertama kali rasanya lega dan menyenangkan, saya coba membagi sedikit pengalaman dalam bentuk postingan blog.

Apa Bedanya Psikolog dan Psikiater?

Well, sebelum beralih ke pengalaman konsultasi, saya akan membagikan gambaran apa sih bedanya psikolog dan psikiater. Nah secara singkat, psikiater (dokter spesialis kesehatan jiwa) dapat memberikan obat sedangkan psikolog tidak bisa. Psikiater dapat memberikan dan menegakkan diagnosis masalah kesehatan mental, sedangkan psikolog hanya memberikan informasi kecenderungan dan biasanya dirujuk ke psikiater apabila memerlukan penanganan yang lebih lanjut. 

Biasanya sih alurnya ke psikolog dahulu untuk menguraikan masalah sebelum ke psikiater. Namun setiap kondisi orang berbeda-beda ya, ada yang pas ke psikiater langsung terlebih dahulu ketika kondisi sedang sangat down baru ke psikolog untuk terapi. Ada juga yang hanya membutuhkan konsultasi ke psikolog sesuai kebutuhannya masing-masing. Apakah selalu membutuhkan obat? Belum tentu juga. Nah untuk lebih lengkapnya, berikut perbedaan psikolog dan psikiater dari dr Jiemi Ardian:

perbedaan psikolog dan psikiater

Kapan Sih Kita Butuh Untuk Datang ke Psikolog?

Umumnya, orang datang ke psikolog ketika mulai merasakan masalah pada psikologis. Tingkatannya juga berbeda-beda, ada yang sudah menganggu kegiatan sehari-hari, cemas yang berulang kali datang secara intens, perasaan sedih dan yang lainnya. Namun sebetulnya, ke psikolog itu bukan hanya menangani masalah psikologis tersebut namun juga bisa membantu ketika kita sedang memilih karir/pekerjaan, jurusan kuliah, dan mengetahui diri lebih dalam untuk membantu kita mengembangkan diri. Serta, bisa juga berkonsultasi ketika sedang ada permasalahan di keluarga atau hubungan. 

Khusus untuk menangani permasalahan atau gangguan emosi, perilaku, atau kesehatan mental itu lebih ke psikolog klinis yang biasanya ada di rumah sakit atau praktik mandiri. Nah, sedangkan menurut psikolog klinis Nago Tejena, kita perlu datang ke psikolog ketika:
  • Aktivitas atau performa terganggu, misalnya pada pekerjaan, perkuliahan, dan kegiatan sehari-hari.
  • Kegiatan bermain (hobi) dan istirahat terganggu. Ini juga bisa menjadi salah satu tanda lho, ketika diri misalnya merasa tak lagi antusias atau enjoy pada hobi dan juga kualitas tidur yang terganggu.
  • Ketika hubungan mulai terkena dampak, jadi misalnya diri kita merasa tidak ada masalah namun perubahan tersebut justru dirasakan teman dekat, sahabat, pasangan atau keluarga kita.
  • Ketika tak memenuhi salah satu kondisi di atas atau simplenya, sudah merasa terganggu dan tidak nyaman. Bisa jadi, kita kesulitan mengurai apa penyebab yang sedang membuat resah dan mengganjal. Semakin tahu permasalahan dan solusi akan lebih baik dengan proses mengenali, mengakui, dan melakukan hal yang tepat. Jadi, tak perlu menunggu parah dahulu, ya.
  • Tambahan kalau dari saya, misal sudah mencoba berbagai cara self-healing seperti banyak melakukan hal seperti journaling, self affirmation atau meditasi namun tetap merasa ada yang kurang. Misalnya pikiran negatif atau kesedihan-kesedihan yang terus kembali.

Bagaimana Alur Konsultasi Psikolog di RS Ananda Purwokerto?

Karena yang saya tahu ada konsultasi psikologi di RS Ananda, jadi saya mencoba di sini. Ya, karena setelah melihat webinar juga sih sebelumnya dan terdesak kebutuhan, hehe. 

Untuk konsultasi psikologi di RS Ananda Purwokerto ini harus on call atau janjian terlebih dahulu, jadi nggak bisa langsung datang ya. Beda kalau konsultasi ke psikiater di RS Ananda yang bisa melakukan pendaftaran melalui aplikasi, bisa memilih hari, dan bisa melakukan pendaftaran jauh-jauh hari. Alurnya seperti berikut ini:
  • Telepon ke nomor RS Ananda di (0281) 636417 dan sebutkan keperluan untuk konsultasi psikologi. Nanti akan ditanya apakah sudah pernah ke RS Ananda atau belum, jika sudah nanti akan ditanyakan nama, tanggal lahir, dan nomor WhatsApp aktif. Proses selanjutnya nanti akan dihubungi oleh CS RS Ananda melalui WhatsApp untuk dibantu jadwal konsultasi psikolog.
  • Nanti akan ada pesan WhatsApp masuk dan menjawab pertanyaan seperti nama dan keperluan konsultasi terkait apa. Untuk keperluan konsultasi ini harus detail ya, apakah hanya konsultasi atau menginginkan tes seperti tes kepribadian karena tarifnya berbeda. Selanjutnya, mencocokan hari kapan bisa bertemu dengan psikolog.
  • Udah deh, tinggal datang saja di hari yang sudah ditentukan. Tenang saja, misal ada perubahan jadwal akan diinformasikan secepatnya dan akan dikonfirmasi kembali kesediaannya. Ini tergantung psikolognya ya apakah kuota sudah penuh atau belum. Saya pernah membuat janji dan mendapatkan hari di keesokan harinya, pernah juga menghubungi Senin dan baru dapat jadwal Kamis.

Apakah Dapat Menggunakan BPJS?

Untuk konsultasi psikologi tidak bisa menggunakan BPJS ya, jadi masuknya tarif umum.

Berapa Tarif Untuk Konsultasi ke Psikolog?

Rate untuk konsultasi psikologi saja di RS Ananda Purwokerto ini Rp 150.000,-. Sedangkan jika ada kebutuhan lain seperti tes kepribadian, tarifnya berbeda lagi. Bisa dibandingkan rincian tarif di bawah, yang pertama hanya konsultasi psikologi dan yang kedua konsultasi dan tes kepribadian.

tarif biaya ke psikolog

Rincian Tarif Konsultasi Psikologi

Konsultasi Saja:
  • Pendaftaran Rawat Jalan Lama: 15.000
  • Konsultasi Psikologi B: 110.000
  • Administrasi Rawat Jalan Umum: 15.000
  • Total Rp 140.000
Konsultasi + Assestmen Kepribadian (Tes):
  • Pendaftaran Rawat Jalan Lama: 15.000
  • Pemeriksaan Awal: 125.000
  • Konsultasi Psikologi A: 82.500
  • Administrasi Rawat Jalan Umum: 17.000
  • Total 239.500
(Tarif dapat berubah sewaktu-waktu)

Apa Yang Didapat Dari Konsultasi Psikologi?

Well, sebelum pergi ke psikolog lebih baik menuliskan apa saja yang sedang dirasakan. Sehingga dari situ, kira-kira kita tahu nih tujuan datang ke psikolog mau apa. Terus dengan menuliskan atau mencatat sebelumnya, bagaimana nanti kita bercerita akan ada alurnya sehingga tak melompat-lompat.

Berdasarkan pengalaman, psikolog aktif bertanya mengenai apa yang sedang terjadi dalam diri kita, latar belakang kondisi kita, bagaimana perasaan, dan bagaimana cara kita menyelesaikan masalah selama ini. Saya sebelumnya membawa catatan untuk berkonsultasi, dan berguna juga untuk mencatat apa saja hal penting yang dikatakan oleh psikolog.

Yang saya rasakan adalah divalidasi perasaanya dengan juga melihat fakta, diajak ngobrol bagaimana penerimaan, bagaimana bahwa sebetulnya diri ini tak pernah sendirian, dan usaha mana saja yang tepat. Karena memang saya membutuhkan berbicara dengan ahli atau profresional yang terlatih menangani masalah sespesifik ini, maka jawaban-jawabannya juga tepat. Tak lupa juga diberikan pilihan saran-saran misalnya sebaiknya periksa lanjut ke psikiater, mencoba pilihan terapi apa yang tepat, dan lainnya. Selebihnya ya tetap kalau kita yang memutuskan langkah atau usaha apa yang dipilih.

Oh iya, untuk ruangannya nyaman ya jadi hanya ada dua orang dalam ruangan. Tertutup juga jadi bebas mau mengutarakan apa yang sedang dirasakan. Dibantu diberi pertanyaan bagaimana sih akar permasalahan itu dimulai. Secara personal setelah konsultasi membuat saya nyeletuk "ini nih, selama ini yang dicari". Jadi pergi ke psikolog itu langkah yang tepat menurut saya, ya setelah mengakui dan merasakan bahwa memang banyak hal di luar diri yang nggak bisa dikontrol namun suara hati pasti inginnya melawan sekuat-kuatnya dulu. Mungkin dari cara pikir dan cara penyelesaian dengan melihat konsep yang lebih besar itu tujuannya sama, namun jalan yang diambil berbeda-beda.

Terus, apa bedanya curhat sama teman atau sahabat atau yang lebih dewasa saja misalnya? Hmm menurut saya beda banget, sih. Rasanya menyenangkan ketika berbicara dan berdiskusi dengan ahli yang tentu saja sudah berpengalaman, karena kita tak akan dinilai apalagi secara judgemental. Saya bisa berbicara secara terbuka, apa adanya tanpa rasa takut, dan jujuritu juga yang menjadi kunci bagaimana sesi konsultasi dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai. Terus, ya biar nggak sia-sia aja sih bayar hihi masih mahasiswa irit-irit niy bhooos~~`

Kalau saya pribadi, memang menyukai bentuk percakapan baik untuk menambah insight maupun membahas mengenai permasalahan hidup. Nah seiring waktu apalagi jelang usia dewasa muda gini, memang ke psikolog juga salah satu cara yang tepat. Ke psikolog membantu menyadari terlebih dahulu mengenai emosi-emosi dalam diri, mengaitkan kejadian satu dengan yang lainnya, dan belajar mengakui alias belajar tidak denial. Hasil bagi setiap orang berbeda-beda, karena setahun sebelumnya saya juga belajar untuk self-healing dan banyak membaca mengenai diri dalam cakupan ilmu psikologi.

Pertemuan pertama saya dan psikolog membuahkan rasa lega, namun tunggu dahulu. Di pertemuan kedua, meskipun sudah tahu bagaimana sebab-akibat dan melakukan tes kepribadian, rasanya campur aduk setelahnya. Jadi, pertemuan pertama itu seperti berkenalan dan konsultasi selama satu jam kemudian disarankan pertemuan kedua untuk tes atau assestment kepribadian. Kemarin saya jumlahnya 4 macam tes, nah tes ini opsional ya mau kamu ambil atau tidak. Bentuknya juga berbeda ada minat bakat dan lainnya tergantung kebutuhan.

Enaknya ya itu, durasinya lebih panjang dari pada ke psikiater jadi bisa curhat lebih lama, hehe. Selama 60 menitan itu juga bukan hanya kita saja yang bercerita namun psikolog aktif bertanya, ya memang pendekatannya seperti itu. Beruntung juga, Alhamdulillah saya cocok dengan psikolog tersebut sehingga tak perlu mencari yang lain lagi. Yap, kadang ke psikolog atau psikiater itu cocok-cocokkan juga.

Berkonsultasi dengan psikolog ini bisa menjadi pelengkap dalam proses pemulihan apabila ada yang sedang rutin rawat jalan dengan psikiater. Fungsinya untuk membantu memulihkan bagaimana cara berpikir, mengelola emosi, dan kebutuhan lainnya. Wajar jika merasakan kebingungan pada awalnya, namun jika rutin semakin bisa mengenali diri sendiri.

Proses memulihkan batin dari luka atau kejadian buruk di masa lalu itu bisa jadi panjang, dan menjadi perjalanannya masing-masing. Dalam prosesnya pasti akan teringat luka yang bisa jadi sudah lupa atau dikubur dalam-dalam padahal belum terselesaikan. Namun sekali lagi, pertolongan itu selalu ada dan izinkan diri untuk ditolong. Tidak apa-apa, proses.

Untuk yang masih takut akan stigma ke psikolog juga nggak perlu khawatir lagi ya. Seru-seru aja kok, saya pertama konsultasi malah rasanya jadi teringat saat bimbingan konseling saat SMP, hihi. Ke psikolog kan juga bisa kalau memang sedang kebingungan berada di persimpangan jalan atau ada rasa ragu akan pilihan sendiri. Nggak perlu takut juga akan dinilai lebay atau lemah perihal 'masalah gitu aja kok ke psikolog' karena masing-masing manusia itu berbeda tingkat resiliensinya, bagaimana pemecahan masalahnya, latar belakang biopsikososial yang mempengaruhi, dan lain-lain. Yang paling tahu tentang diri sendiri ya, pasti diri kita sendiri. Tubuh dan pikiran itu nggak bohong kok kalau sedang tak baik-baik saja. Dan juga masalah dan kesedihan itu bukan untuk dibanding-bandingkan atau kompetisi. 

Nah semoga bermanfaat ya dan terima kasih sudah berkunjung di blog ini :)
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

No comments

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :) (p.s: Sorry, a comment with an active url will be deleted)