Judul Buku : The Hunger Games – Catching Fire (Tersulut).
Penulis : Suzanne Collins.
Alih Bahasa : Hetih Rusli.
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama.
ISBN : 978-979-22-9946-5.
Cetakan : Kedua belas
: Oktober 2013, cover film.
Genre : Fiksi ilmiah, young adult, petualangan.
Harga : Rp 59.000,00.
Jumlah Halaman : 424 hlm.
Sinopsis :
Api pemberontakan
sudah tersulut. Dan Capitol ingin membalas dendam
Katniss Everdeen
berhasil keluar sebagai pemenang Hunger Games bersama Peeta Mellark. Tapi
kemenangan itu menyulut kemarahan Capitol. Kemenangan Katniss ternyata
membangkitkan semangat pemberontakan di beberapa distrik untuk menentang
kekuasaan Presiden Snow yang kejam.
Presiden Snow
mengancam Katniss untuk meredakan kegelisahan penduduk distrik dalam Tur
Kemenangan-nya. Satu-satunya cara untuk meredakan kegelisahan penduduk adalah
membuktikan bahwa dia dan Peeta saling mencintai tanpa ada keraguan sedikit
pun. Jika gagal, keluarga dan semua orang yang disayangi Katniss menjadi
taruhannya....
***
“Karena kadang-kadang
ada kejadian yang menimpa seseorang dan mereka tidak siap menghadapinya.” –
hlm. 41
Cerita
hasil imajinasi liar karya Collins tentang suatu saat pada generasi cucu dari
cucu-cucu kita akan ada wakil-wakil untuk “bermain” tak berakhir hanya sampai
buku The Hunger Games, berlanjut buku kedua dengan judul Catching Fire-Tersulut
yang menceritakan kehidupan Katniss pasca Hunger Games.
Ada
hari bahagia saat Katniss bisa mengenyangkan orang-orang di distrik, tetapi
masih ada satu masalah yang terus membelenggu karena buah berry, dan masalah itu tertuju pada Presiden Snow. Ketika saya
membaca buku ini, nggak kerasa kalo Katniss berusia 17 tahun, pengalaman
hidupnya 5 tahun terakhir membuat jiwanya lebih kuat daripada orang-orang
berpenampilan absurd di Capitol, meskipun begitu, Katniss nggak digambarkan
terlampau kuat, ada kalanya kehilangan kendali dan menangis, seperti remaja
pada umumnya. Tapi, masih satu ciri khas Katniss yang saya dapat dari buku
pertama : unpredictable. Bahkan
Katniss sendiri bisa saja nggak sadar, idenya selalu muncul di saat-saat
genting.
“Aku takkan pergi ke
mana pun. Aku akan berada di sini dan menimbulkan segala macam masalah.” –
hlm. 136
Sifat
Katniss yang nggak terlalu peduli tentang pertemanan, sedikit sarkastik dan tak
suka berbicara tentang baju-baju fashion seperti
anak seumurannya-mungkin karena kondisinya di distrik 12 sedikit mengingatkan
diri sendiri, yang kebetulan juga jarak umur saya dengan adik perempuan saya
sama seperti Katniss dan Prim,lucunya lagi, Prim digambarkan lebih berbakat
daripada kakaknya dan ini seperti adik saya, bedanya, adik saya menggambar,
bukan mengobati. Skip.
Seakan setelah beberapa dekade Hunger Games, Katniss yang
gadis biasa-biasa saja menjadi peserta Hunger Games yang paling berbeda,
menjadi sorotan semua orang dan tanpa sadar menimbulkan gerakan-gerakan di
distrik-distrik. Sampai pada titik ketidakpuasan Snow pada “hasil kerja”
Katniss dan Katniss harus kembali lagi ke arena, latihan-latihan lagi,
riasan-riasan, binatang-binatang rekayasa genetik dan senjata-senjata lagi.
“Ingat, kau tidak lagi
berada di arena yang penuh dengan anak-anak yang gemetar ketakutan. Orang-orang
ini semuanya pembunuh berpengalaman, tidak peduli apa pun kondisi fisik mereka
saat ini.” – hlm. 243
Kita akan dibawa dalam pikiran-pikiran Katniss lembar demi lembar dalam buku yan sudah diangkat ke layar lebar tahun 2013 lalu. Tenang,
meskipun tegang bahkan kesal dengan tingkah Snow, ini bukan buku fisika kok,
saya masih dibuat ketawa dengan tingkah Flavius, Octavia dan Venia dan
berandai-andai jika saya bisa dirias mereka, lalu masih ada tentang tingkah
orang-orang Capitol terhadap puisi Finnick dan keacuh-tak-acuhnya Johanna. Lagi, dibuat lapar dengan makanan-makanan Capitol. Penerjemah
buku ini juga lebih “mengindonesiakan” buku ini dengan kata-kata seperti “doyong”,
“kain kafan” dan “wayang”.
Terlepas
dari itu semua, ada juga beberapa yang menurut saya kurang di buku ini, nggak
ada daftar isi, juga pengulangan ingatan-ingatan Katniss tentang ucapan orang yang
begitu mendetail, beberapa juga menggunakan kata yang saya kira tak cocok
dikatakan Katniss, bukan karena kata kasar, tapi lebih kata-kata ilmiah, entah
mungkin Katniss pernah belajar di sekolah, misalnya “daya sentrifugal” dan “syaraf”. Untung nggak ada typo, jadi nikmat bacanya.
“Jangan kuatir. Aku
akan selalu menyalurkan perasaan-perasaanku ke dalam pekerjaanku. Dengan
begitu, aku tidak menyakiti orang lain kecuali diriku sendiri.” – hlm. 275
Dan buku ini memiliki akhir yang tak terduga, akhir yang
menjadi sebuah awal di Mockingjay, saya nyaman dengan cerita percintaanya dimana Katniss sedang dilema tapi tidak melulu melainkan seperti hanya cerita pelengkap dan menimbulkan banyak pertanyaan seperti “Bagaimana
keadaan distrik-distrik?”, “Buttercup dan kambing apa kabar?”, “Cinna masih
bisa ndesain gaun?” dan lain-lain.
Akhirnya,
3 dari 5 bintang, seperti judulnya, ini baru permulaan dari akhir kesatu dan akhir untuk permulaan di Mockingjay, jadi konflik belum terlalu dapet, seperti penjelasan atau pengantar. Mungkin akan lebih
banyak luka fisik dan psikis di buku ketiga, lebih banyak macam-macam emosi
yang akan keluar ketika membaca. Siap-siap saja. Semoga keberuntungan berada di pihakmu!
Write a comment
Posting Komentar
Halo, terima kasih sudah berkunjung!^^ Mohon klik 'Notify Me/Beri Tahu Saya' utk mengetahui balasan komentar via email.