The words. The thoughts. The journal.

September 25, 2017

Gunung Prau dan Tentang Pengalaman Pendakian Pertama


Finally, I did it again. Saya memang sudah lama ingin mencoba merasakan mendaki gunung-apapun itu. Alhamdulillah, saya masih dan semoga saja selalu dikelilingi dengan orang baik. Rencana ke Gn. Prau ini sudah lebih dari sebulan yang lalu dan direncanakan oleh teman saya, Yessy. Dia sendiri udah ngajak dua orang, dan rencana keberangkatan tanggal 24 September saat dia terakhir libur semester sementara saya udah memasuki minggu ke empat kuliah. Bukan seberapa hebat atau tinggi yang dilalui seperti orang lain, tapi tentang bagaimana kesan pengalaman pertama. Here's our journey.





Jumat malam kami bertemu, ternyata barang2 yang sudah kami pesa  tak bisa diambil gara-gara pemiliknya mau wisuda hahahaha. Yaudah jadilah kita nyari alternatif lain, akhirnya dapet juga dan lebih murah. Kemudian, kita berangkat pada Sabtu pagi sekitar jam 8 melewati Purwokerto-Purbalingga-Banjarnegara-Wonosobo. Perjalanan sekitar 4 jam itu bikin punggung dan pinggang pegel gara-gara bawaan tas yang lumayan berat baik berangkat maupun pulangnya. Saya merasa takjub ketika memasuki Wonosobo, ya namanya juga baru pertama kali. Suasananya sejuk, indah, dan bikin mikir "oh manusia bisa bikin pembangunan setinggi ini juga ya". Sesampainya di basecamp, kita langsung urus ini itu dan berangkat sekitar jam  1 siang. 

Ternyata perjalanan naik motor nggak seberapa dengan mendaki. Udah tas berat, dan beberapa kali kami dapet masalah. Dimulai dari Yessy yang sampai nangis minta balik karena pusing, lalu Irfan yang kedinginan super padahal udah di pos 3, dan juga hujan turun cukup lama yang membuat kami kotor layaknya abis bajak sawah. Saat di pos 3 sendiri awalnya saya juga ingin turun dan segala macam takut Irfan kena hipotermia kan, ya sebagai pendaki pemula pasti takut. Tapi Yoga yang dari awal sampai akhir semangat banget nyaranin buat terus jalan karena emang udah deket, juga kalau turun pasti lebih jauh lagi. Dan ya akhirnya walau hanya sampai Sunrise Camp nggak sampai puncaknya. Gn. Prau sendiri nggak tinggi-tinggi amat, dan emang bagus buat pendaki pemula, kamipun memang merasa cukup dengan porsi tersebut.







Sore itu karena abis ujan juga jadinya nggak ada sunset, langsung bangun tenda padahal udah dingin dan berangin banget. Tangan yang kena ujan dan angin rasanya udah mati rasa bahkan cuma ngaitin tali-tali tenda. Kita berempat nggak ada yang cakap bikin tenda, untungnya hari itu emang lagi ramai dan minta tolonglah kita. Percayalah, kalau kamu mendaki gunung, bukan cuma pohon-pohon dab kabut tebal ala film The Hunger Games aja yang bisa dilihat, tapi juga banyak sekali kamu akan menemukan orang-orang baik di sini. Dimulai dibantu tendanya sampai selesai, pasang kompor mini, bahkan hal sekecil saling menyapa ketika bertemu dan juga saling menyemangati saat kita sedang naik.

Hal lain yang kita hadapi adalah malam hari, saya merasa waktu berjalan saaaangat lambat. Jam 8 sampai jam 1 itu kerasa banget lamanya, tidur aja nggak pules gara-gara dingin banget dan ya peralatan kita debagian basah. Di sinilah kami merasa rindu rumah dan rindu kamar kosan. Saya sendiri nggak bisa tidur, karena kalo duduk bawaanya lebih hangat daripada tidur dan alhasil jadilah satu draft postingan. Sayang sekali, begitu pagi datang kabut tetep tebel, angin tetep bertiup kencang. Sunset dan sunrise yang kami harap bersua malah justru nggak ada. Artinya suruh ke sini lagi, mungkin.








Kalau ditanya pengin naik gunung lagi apa nggak, mungkin pengin tapi nggak gede-gede amat penginnya. Asal ada yang ngajak bareng gitu sih, sekarang penginnya kaya jelajah ke Solo atau Surakarta aja, yuk? Dari perjalanan kemarin banyak hal yang saya temui, kalau di atas sudah disebutkan hal yang positif tentunya juga ada hal negatifnya. Saya berasumsi di manapun tempat yang bisa dijamah manusia, kemungkinan tempat tersebut rusak itu ada. Ya bisa dilihat betapa masih banyaknya sampah walau sesepele tissue dan bungkus permen. Masih juga ada yang norak dengan nulis-nulis nama di batu, ngebuang urin di botol gitu aja, atau cabut bunga hanya buat foto-foto. Kaya, perih ga sih liat hal-hal itu? Manusia yang harusnya memperbaiki malah merusak, iya sih nggak semuanya namun sayang sekali. Belum lagi tanah bekas jejakan, itu aja udah ngebentuk jejak sendiri di mana aliran air pasti jadi gampang lewatnya. Eh udah ah, malah jadi cerita sedihnya.

Abis mendaki perdana pasti jadi tau gimana persiapan matangnya. Kemarin sih sebenernya modal niat nekat segala terjang aja walaupun penuh drama dari diomelin mamak-mamak warung, pinggang pegel, basah kuyup, dan tetap beruntung juga karena dua kali makan digratisin. Yang harus dibawa sih banyak mantel, plastik-plastik dan trash bag. Jangan terlalu banyak bawa jajan makanan, bawa dikit tapi ngenyangin. Fisik juga pasti udah dilatih dulu walaupun cuma jogging. Kalau saya sih lebih berat pas naik daripada turunnya, walaupun turun juga tetep gemeteran. Dan yang penting, tetap menjaga sikap kita sebagai manusia, tetap bersahabat, bukan cuma ingin memenuhi tampilan media sosial doang. Dan juga pas pikiran udah siap, jangan sampai di atas malah kepikiran revisian. Jadi, sampai jumpa di postingan selanjutnya! :)

Thanks to the team: Yessy, Irfan, Yoga.

No comments:

Post a Comment