Bali: Bagian dari Perjalanan Hidup

Kalo dilihat-lihat lagi, saya ini orangnya jarang ke mana-mana padahal jiwanya ingin melalang buana ke mana-mana. Ke pantai, luar daerah, dan yang lainnya masih bisa dihitung pakai jari. Maklum aja, anaknya kontradiktif dan masih terlalu takut untuk pergi sendirian, kan penginnya sama kamu. Iya kamu. Eh nggak deng nggak, saya tetep berani mencoba hal baru walaupun kebanyakan gagal blas ora mutu. Contohnya turun ke gelanggang silat walau hasilnya tulang kaki jadi ada cekungannya, berani mencoba naik gunung padahal kedinginan super, nyoba naik kora-kora padahal takut ketinggian dan rasanya mau mati aja, berani nyoba lari maraton walau celana kedodoran, berani ikut lomba pidato bahasa Inggris. Oke, yang terakhir emang nggak mutu, masih kalah sama anak SD, tapi sebagai penganut jelek asal sombong dan pede, udah otomatis bahagia. Iya, saya mah orangnya gampang bahagia.

Satu hal baru yang saya coba lagi adalah mulai perawatan kulit atau skincare. Sebagai manusia yang memasuki umur 20 dan sering dibilang kalau umur segitu bakal cepet tua, cepet jerawatan dan cepet keriput udah pasti panik dong. Segala macam review versi bloger, addersnya bunnyneedsmakeup, dan juga akun-akun Instagram. Ternyata walaupun masuk anak bengal yang selama ini modal pelembab, bedak bayi dan lip balm bisa kalap juga. Mungkin saya habis sekitar 300rb, dan sayang sekali hampir nggak semua cocok. Lalu kenapa nggak kepikiran buat beli madu aja yang alami dan sehat, itupun masih nggak rutin. Ya, mungkin aja ini yang dinamakan belajar dari kesalahan dan pengalaman.

Bagi saya, pengalaman-pengalaman akan mencoba hal baru ini selain bentuk pencarian diri sendiri, juga bentuk rasa syukur. Seringnya ya, belajar bahwa nggak semua yang kita rencanakan bakal cocok di kita. Di saat teman-teman saya sudah ahli bahkan membuka jasa make up artist, saya justru suka kalau warna kulit wajah dibilang cokelatan, sedikit jerawat, dan juga kantung mata yang udah banyak keriputnya karena bagiku itu seksi, keren, dan memberi kesan tangguh. Hahaha. Nope, bukan karena enggan merawat diri, namun saya masih menikmati flaws semacam itu. Jadi bebas tanpa stereotipe jadi cewek harus ini ini ini. Hidih, jauh banget dari kata anggun inimah, namun bukan berarti saya insecure sama diri saya sendiri. Saya bahagia kok walau paha dan kaki saya segede gaban, kan karena suka olahraga. Nyahaha. Ya, bagi saya semua orang memiliki zona waktu yang dipilihnya masing-masing. Mungkin nanti saya akan berubah jadi feminim banget, namun untuk sekarang nikmati versi begini dulu lah ya.

Ada satu pengalaman yang juga ingin saya coba, yaitu tantangan nulisnya Mak Pung buat berlibur di Bali selama 4 hari. Percaya atau nggak, saya belum pernah ke Bali sekalipun study tour. Bali? Bayangannya cuma kaya di novel Rule of Thirds dan Perahu Kertas atau cerita-cerita temen betapa bagusnya atmosfir historis di Istana Tampak Siring, atau Tanah Lot. Mentok-mentok juga tahu beberapa tempat penginapan atau warung-warung makan yang direkomendasiin kalo ke Bali, itupun karena dulu tugas artikel pas jadi freelance. Belum lagi sapaan semacam “Obama sama Greyson Chance aja udah ke Bali, masa kamu belum?” Belum-belum piscok goreng, udah dong men di mimpi tentunya, sama liat-liatin foto di instagram. Kata mama mah kalau pengin sesuatu gapapa, gedein dulu aja keinginannya biar kewujud. Ngenes amat, nyahaha. Sungguhlah, demi tantangan ini saya sampai membuat akun Instagram, padahal daridulu emang nggak kepengin punya. Nyahaha.






Sederhana aja sih, buat orang yang masih jarang ke mana-mana kenapa harus melewatkan kesempatan itu? Diterjang sekalian perginya yang jauh 4 hari 3 malam di Bali, bareng bloger hits pula. Selain itu, bakal nyenengin banget kalau ke Bali dengan waktu yang beda dari waktu orang kebanyakan. Bagi saya ya kalau misal pergi nggak cuma asal pergi. No, nope, Bali mungkin saja bisa menjadi perjalanan spiritual, atau setidaknya bisa melihat langsung semua aspek cultural di sana. Kenapa jadi kaya mata kuliah ya? 

Dan ya, tawarannya menarik! Ada cycling, trekking, dan rafting. Alam banget! Nganu deh, siapa sih yang bakal nolak kegiatan seperti itu di Bali? Ketiga kegiatan itu mengingatkan saya saat kecil, yang hobinya sepedaan di jalan-jalan bertanah di area kampung, seluncuran di sungai sampai baju robek, jalan-jalan ke hutan atau kebun-kebunan orang sampai nggak jarang juga nyabut singkong atau pisang buat dibakar dan dimakan. Sungguh, ih, mau dong ya main-main ala masa kecil gitu, ingin banget! Mungkin nanti abis main-main di Balinya bukan makan singkong dan pisang bakar lagi dong, tapi ayam betutu, sate lilit sambil leyeh-leyeh menertawakan tugas-tugas kuliah.






Lalu, Pulau Dewata, akankah jadi bagian dari perjalanan hidup saya selanjutnya?
*** 

"This post is my attempt to be chosen as 1 of the 4 winners of Bali Funky Blogger Hunt in collaboration with Pungky Prayitno"

ps: All the pics are taken from @balifunky
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

4 comments

  1. Semoga bisa ketemu di Bali :)

    ReplyDelete
  2. Gua malah sebaliknya, Kak Umi, kalo dibilang "Ih kamu kok kulitnya iteman?" itu malah jadi insecure sekaligus bingung juga dan bertanya dalam hati, "Emangnya gua pernah putih yak?"
    .
    Kirain ini pos yang nyeritain Kak Umi pergi ke Bali, semoga terwujud ya impiannya ke Bali, ngeliatin Bule-Bule Gemes sambil mempraktikkan skills Bahasa Inggris Kak Umi yang pastinya ciamik.
    .
    Instagramnya Kak Umi apa, ya? Biar tak follow?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai ini komentar dari masa depan ehehe. Ya namanya halu aja dulu wakakakaka udah mutualan ye kita

      Delete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :) (p.s: Sorry, a comment with an active url will be deleted)