A thoughts journal by Marfa

November 28, 2017

Patah Hati Di Usia Awal 20an, Bagaimana Menyikapinya?

             Patah hati adalah perkara berat, hal yang tentu saja tak ingin dirasakan berulang-ulang. Yang dulunya saling berbagi cerita, pengalaman dan luka lalu tertawa bersama, namun ternyata tak ubahnya kembali menjadi luka masing-masing. Butuh keberanian yang besar bagi seseorang untuk mengalami patah hati daripada menjalani hubungan yang tak sehat, tak tahu kemana arahnya, dan berlarut-larut dalam kebahagiaan yang sudah lama hilang. Untuk itu, ada kalanya lebih baik belajar mengikhlaskan.





             Sekali lagi, patah hati tak pernah mudah, dan butuh waktu yang lama. Apalagi di usia 20an, usia di mana hubungan seharusnya bukanlah untuk main-main. Hubungan yang sudah seharusnya dewasa, dan memiliki kesadaran satu sama lain, saling terbuka. Bagaimana bisa saling percaya jika tak bisa terbuka dan tak berani berkomunikasi? Atau cara berkomunikasinya yang salah? Dalam sebuah hubungan, hanya membuthkan hal yang sangat sederhana, yaitu komunikasi. Apalagi di era milenial, bukan lagi di era kirim surat dengan merpati. Kemudian, apa yang harus dilakukan jika mengalami patah hati di usia 20an? Mari, silakan membaca.


1. Jangan menyangkal kesedihan.




             Setelah memutuskan untuk berjalan masing-masing, mungkin ada perasaan akan baik-baik saja, ada perasaan akan kuat yang membentengimu dari segala bentuk kesedihan. Tak perlu pura-pura untuk bersedih, toh hidup memang tak selamanya hanya diisi oleh kebahagiaan. Seperti kata Raditya Dika, persilakan dirimu untuk bersedih yang sesedih-sedihnya. Tiba-tiba aja udah nangkring ngedengerin lagu lawas seperti Lyla - Bernafas Tanpamu, Rama - Bertahan, atau Padi - Semua Tak Sama. Keluarkan semua rasa kecewa yang ada di dalam benak dengan berbagai ekspresi. Menangis, berlari kemudian berteriak, menyanyi dengan sekeras-kerasnya hingga lelah. Tidak, hal tersebut bukan berarti kamu lemah dan cengeng. Bahkan kamu cukup kuat untuk mengakui bahwa kamu sedang menerima satu titik lagi dalam hidupmu.


2. Penerimaan.


             Hal kedua setelah merayakan kesedihan, adalah menerima keadaan diri sendiri dengan seikhlas-ikhlasnya. Akan ada perasaan bahwa diri ini tak berguna, menyedihkan, atau terus-terusan merasa bersalah. Kamu butuh ruang untuk sendiri dan segala perenungannya. Jangan sampai termakan asumsi sendiri dan justru terjebak di dalamnya. Melakukan hal-hal bodoh dan menyiksa diri sendiri hanyalah akan menambah lukamu. Jangan juga mencari orang lain sebagai pelampiasan, karena menjadi bahagia tak perlu menyakiti orang lain. Kamu perlu menerima dan memeluk dirimu sendiri dengan tenang. Ini hanya hal kecil tentang kekecewaan, lihatlah dengan banyak perspektif dan menyadari bahwa kamu memiliki kekuatan untuk kembali bangkit. Ibaratnya bagaimana bisa kamu mencintai seseorang jika kamu sendiri tak mencintai dirimu sendiri? Mencintailah lagi dengan siap, benar-benar siap.


3. Menghabiskan hari dengan mencari inspirasi baru.




Dari pada satu hari kamu sibukkan dengan galau dan bosan, alangkah lebih baik kamu pergi ke luar. Akan banyak energi dari sekitar yang mungkin akan memberikanmu pencerahan serta inspirasi yang baru. Atau misalnya berolahraga, dapat membantumu lebih lega dan bahagia dengan berkeringat. Menulis puisi dan cerita fiksi berdasarkan pengalaman boleh juga, asal tak turut hidup berkesedihan dengan cerita itu. Hal lain yang bisa dilakukan juga bisa hanya sesederhana mengamati kesibukan hinggar binggar orang. Kamu juga bisa bercerita pada sahabat dan teman-temanmu yang bahkan mereka justru akan menertawaimu, itulah bentuk bagaimana mereka peduli dengan menghiburmu.


4. Membuka mimpi-mimpi lama. 



              Mungkin dahulu, mimpi kalian melebur menjadi satu dan memiliki tujuan. Seperti memiliki rumah impian, membangun studio bersama, memiliki album, atau buku bersama. Mimpi-mimpi yang perlahan-lahan kalian bangun mungkin mulai runtuh, namun tidak dengan mimpimu yang mungkin kamu simpan dahulu. Buka kembali daftar mimpi-mimpi itu, kemudian fokus mengerjakannya. Akan lebih bahagia lagi jika mimpimu juga dapat mewujudkan atau membantu mimpi orang lain, karena sekali lagi kita hidup tak sendiri. Atau bisa saja, mencoba hal-hal baru yang belum pernah kamu jajaki sebelumnya, seperti bergabung dengan organisasi kemanusiaan yang mungkin akan membantumu menurunkan ego dan belajar banyak dari sisi manusia, dan lain-lain. Ingatlah bahwa waktumu masih begitu panjang dan lama.

             Sekali lagi, patah hati hanyalah salah satu dari bagian hidup kamu. Kamu mungkin akan merasa sakit, pedih, dan segala perasaan pengalaman buruk. Namun dari sini kamu juga belajar menjadi manusia yang semakin bijak. Tak usahlah fokus pada segala hal buruk yang kamu rasakan, pilih saja hal-hal positif seperti bagaimana pernah ada waktu-waktu yang produktif, pernah ada masa menyenangkan, pernah merasakan hal-hal yang baru juga. Semua serba seimbang pada dulu orang yang kamu pilih, dan juga kamu yang dipilihnya. Untuk alasan itulah, mengapa harus ada dendam pada sebuah pembelajaran? Sudah terlalu banyak kemarahan di sekitar kita.

             Sejatinya, masing-masing akan mengalami pembelajaran dari patah hati. Bagaimana yang dirasakan dan dilakukan akan segera tahu sendiri, dan tulisan ini hanya sebagai pengingat, menambah sudut pandang baru jikalau kamu mungkin tak terpikirkan. Jadi, selamat menjalani kehidupanmu lagi dan lagi. Patah hati selalu sepaket dengan jatuh cinta. Kita ini manusia, terlepas dari segala kelemahan dan kekurangannya, manusia itu bisa berkali-kali kecewa kemudian bangkit lagi kok. Hiduplah dengan berani. Salam!

Scpct: pixabay