melancholia hours


Selama masa-masa sebelum mengerjakan skripsi, saya banyak menemui malam-malam dengan penuh mimpi buruk dan tangis. Hal itu nggak hanya berlangsung mingguan saja namun bahkan sudah sampai bulanan. Sebenernya, skripsi bukan masalah utama namun transisi di depan mata yang terlihat menakutkan: ketidakmampuan, ketertinggalan, dan ketidaknyamanan. Kemudian jadi lari dan enggan mengenali tugas utama tersebut, yang justru efeknya membuat rasa sakitnya dua kali lipat. Dtambah arena saat ini jadi kosong, nggak ada kelas, nggak ada rekan bekerja, dan lawannya hanya diri sendiri. Rasanya jadi overwhelmed, nggak pernah selesai, dan jadi ngaruh banget ke baik fisik dan pikiran.

sc: Annie Spratt, pexels

Kalau ngomongin solusi, kelihatannya gampang banget tinggal memulai, ngerjain, rajinin, dan kelar. Saya tahu betul, kalau semudah itu tak akan ada tulisan ini. Menjadi lebih susah karena bukan hanya memulai dari nol namun minus dengan sambil berdamai akan banyak hal dalam diri. Hal tersebut yang ternyata sudah numpuk dan nggak sadar adalah rasa marah, rasa takut, rasa terluka, dan rasa tak berguna yang terus-terusan ada dari masa lalu. Dahulu, saya biasa menutupi itu semua dengan mencari kebahagiaan, melalui tempat, melalui orang yang tak pernah ditemukan akhirnya. Banyak yang berkata kebahagiaan kuncinya ada di dalam diri, namun bagaimana bisa menyelam saat mengenali diri sendiri saja enggan karena terlalu banyak kesedihan?

Bukan hal yang mudah akhirnya, saya jadi sering nangis bahkan bisa tiap hari. Tapi saya juga jadi sadar kalau itu untuk detoks dan lebih melegakan, rasanya langsung plong dari pada kalau nunggu numpuk dan meledak. Terus jadi sering puk-pukin diri sendiri kalau selama ini udah hebat banget buat mau bertahan. Ah yas, dalam kondisi ini saya juga meminta pertolongan psikiater dan mengambil beberapa obat karena ternyata ada disorder. Dari sini juga jadi ngeh atas hal-hal aneh yang terjadi selama ini. Dari sini juga akhirnya terbuka lebar kalau psikiater dan obatpun hanya membantu, sepenuhnya ada di kontrol diri. Yang bisa menyelamatkan diri sendiri memang ya diri sendiri. Whoah, betapa selama ini yang terabaikan justru yang paling setia apapun keadaanya. Sebuah babak baru dalam hidup.

Memang, untuk tidur malam masih susah karena jam sudah terlanjur otomatis. Namun sudah beda lagi, jika dulu tidur untuk melupakan rasa sakit dan malah memperburuk, sekarang sudah bisa tidur dengan sebelumnya self-talk dulu sambil banyak nulis. Kadang juga tangan auto muter lagu sedih nyahaha, gimana si rasanya patah hati teramat sangat namun dengan diri sendiri. Rasanya lelah juga kepala berisik dan hal-hal yang baik di sekitar jadi tak ternotice karena pikiran sudah stuck dengan negativity bias. This is not what I want.

Berusaha embrace berkali-kali, sampailah pada titik di mana sadar kekuatan dalam diri itu bukan hal-hal yang baik aja. Bukan tugas hal baik atau kelebihan dalam diri juga untuk menutupi kekurangan. Yap, kekuatan bisa berasal juga dengan mengakui penuh atas kekurangan-kekurangan itu yang bisa menjadikan kita terus melangkah belajar dan nggak besar kepala. Dilanjut kemudian dengan penerimaan akan hal-hal yang selama ini nggak saya terima, dengan meletakan masa lalu dan nggak mengkhawatirkan masa depan. Setidaknya, stop blaming pada diri sendiri.

Jika pada akhirnya hal ini adalah proses bertumbuh dan menjadi pribadi yang lebih kuat, maka akan sangat menyenangkan. Kadang berpikir coba saja menjadi normal dan biasa saja, namun kita semua juga sama-sama tidak bisa memilih untuk dilahirkan seperti apa. Penerimaan memang ternyata proses yang sangat panjang, dan menjadikannya berkat dari sudut pandang lain adalah salah satunya.

Pada waktu-waktu melankoli dalam hidup sampai akhirnya tertidur, ada diri yang mekar dan bertumbuh. Seperti lirik dalam Hiruplah Hidup karya Ananda Badudu:

Dan semua yang lusuh
Dibenamkan takut
Akan jua sembuh ditenangkan waktu

 Dan teruslah-terus
Berkeras mengarung
Ke lautan luas dan badai yang ganas

Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

No comments

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :) (p.s: a comment with active url will be deleted)