A thoughts journal by Marfa

March 27, 2018

Media, Budaya Konsumtif, dan Melatih Nol Sampah dari Pikiran

Halo, apa kabar?

Berawal dari mata kuliah literary criticism dengan tema ecocriticism di mana adanya hubungan fenomena alam dengan sastra, kemudian membaca tokoh perempuan dengan gaya hidup zero wastenya tiba-tiba saja mikir. Memikirkan hal yang juga harus dibagikan lebih luas, dan tak hanya sekadar artikel selesai dibaca dan sudah. Ditambah lagi lagu dari Rara Sekar dengan judul Apati menambah bertanya-tanya:

“Apakah kita terlalu sibuk memikirkan perkara antar manusia sehingga lupa akan lingkungan, akan alam. Yang telah memberi kita segalanya, dan tanpa membayar.”

Pun saya senang juga dengan pesatnya media informasi seperti sekarang, bukan hanya manusia saja yang jadi punya kesempatan hidup lebih lama dengan saling membantu, namun juga hewan-hewan. Nggak jarang saya lihat open donation untuk berobat kucing atau anjing. Dari situ juga membuat pandangan tenteram, indah sekali ya kalau bersahabat antar makhluk hidup begini.

Oke, kembali lagi ke lingkungan. Masih terkait dengan media dan serba-serbinya, kali ini dampak buruknya yaitu menambah rasa lapar mata atau budaya konsumtif. Emang sih, trik marketing yang cerdas dengan pengambilan gambar kemudian didukung caption yang sugestif bikin banyak orang jadi penasaran kemudian beli. Namun, apakah yang dibeli orang tersebut benar-benar berguna? Sebenarnya ini dapat dikembalikan dengan nasihat-nasihat lama seperti prioritaskan yang dibutuhkan dan hidup berkecukupan. Ternyata nasihat-nasihat tersebut memang bukan kosong semata.

Nggak usah jauh-jauh deh, saya aja merasakan kok. Iya, emang kadang kudu merasakan dulu baru sadar. Seperti budaya konsumtif di atas, kadang kalap beli barang-barang lucu padahal akhirnya nggak ada gunanya. Biasanya kalau hasrat penasaran kaya gini saya diamkan aja dulu dua hari, baru lihat kembali barangnya dan biasanya bekerja sih—jadi nggak punya “nafsu” lagi buat ngemilikin barang itu.

Lauren Slinger

Nah hubungannya sama Zero Waste apa nih? Well, jadi buat yang belum tahu, ada aktivis lingkungan sekaligus bloger di dan entrepeneur bernama Lauren Singer yang “keren” abis, atau the new way of inspiring! Berdasarkan artikel yang saya dibaca kemarin, dia ini bener-bener udah nerapin gaya hidup yang bener-bener zero waste atau nol sampah. Bahkan dengan sampah nggak sampai satu jar penuh di lima tahun terakhir. K O K B I S A? 
Toiletries ala Lauren

Less trash!

Selama ini usaha kita dalam menyelamatkan lingkungan apa aja sih? Ternyata nggak mentok hanya dengan buang sampah pada tempatnya, dan bawa kantong belanjaan sendiri dong. Udah jauh banget dari ini si teteh ini mah, mulai dari penggunaan skin care, peralatan mandi seperti sikat gigi, cara konsumsi makanan, dekorasi rumah, alat kebersihan, teknologi, hingga kebutuhan saat menstruasi! Kesamaan saya sama teh Lauren ini selain less plastic dan minimalis, ya paling baru suka beli pakaian/buku secondhand. Well, kalau di dunia ini banyak yang seperti teteh Lauren ini, sampah-sampah bakal berkurang banget tentunya. Tapi, apa bisa?

Ya, mengingat beberapa kebiasaan buruk yang tetap masih ada di lingkungan kita aja nih. Misalnya:

x Masih suka buang sampah tidak pada tempatnya, atau sembarangan. Ini sih, udah klasik banget dari jaman kapan tetep ada. Bahkan ninggalin sampah di kursi penonton bioskop yang paling bikin risih, coba padahal mudah loh membawa bungkus-bungkus keluar dan naruh di tempat sampah. Ngebantu pekerjaaan petugas kebersihan juga, jangan karena dalih tugas mereka seperti itu jadi bisa seenaknya sih, Terus usahain banget biar less plastic, berusaha buat tetap pakai kantong belanja sendiri. Kalo di kasus the Lauren sih memang harusnya ada peran para penjual biar ramah lingkungan, tapi kita sebagai konsumen harus jangan manja dulu dong biar perhatian sama lingkungan hihi.


x Boros listrik. Well, jangan lupa untuk tetap matikan pencahayaan yang nggak perlu, cabut charger jika sudah selesai karena walaupun sedang tak mengisi daya.


x Gengsi dan konsumtif. Well, perilaku kurang baik dan boros seperti ini juga bisa mematikan pengrajin lokal loh. Banyak banget pengrajin lokal yang kualitasnya bagus, terus produk handmadenya juga unik-unik. Seperti teh Lauren ini, mulailah dengan produk handmade lokal. Tenang aja nggak bakal kesusahan, udah ada qlapa.com yang menyediakan semuanya lengkap dan unik, bisa juga buat referensi kado. Di sana tersedia aneka dekorasi dan peralatan rumah, bahkan perawatan kecantikan. Selain bangga, juga mendorong penghasilan dan kreativitas pengrajin lokal, bukan? 


x Tak menghabiskan makanan yang dipesan. Limbah makanan tiap hari itu banyak banget, apalagi makanan sisa. Sayang banget karena kerja keras penanam bahan makanan seakan sia-sia dan juga banyak yang masih butuh makan di luar sana. Emang sih, kita nggak bisa langsung nyetop limbah makanan nggak ada, syukur sih sisa makanan kalau bisa buat ternak jadi nggak hanya jadi limbah doang. Tapi baiknya kita memang paham porsi kita berapa sebelum pesan, atau bungkus kalau memang nggak kuat ngabisin. Masih untung sih kalo makan bareng ada salah satu yang jadi perut karet, bisa ngabisin kaya saya nyahaha.


x Meja berantakan, ini sih bisa gabungan antara poin satu dan tiga ya, abis makan rame-rame seneng-seneng, eh keluar tempat makan seenaknya, meja berantakan, sampah di mana-mana. Kalau dilihat jadi kurang etis sih. Tetep jangan lupa buat selalu tumpuk tengah, ngebantu mas atau mbak yang ngeberesin banget jadi lebih cepet, terus sampah seperti kertas pembungkus nasi dengan botol plastik juga usahain buang di tempat sampah sendiri.

See? Itu baru empat poin doang lo, sedikit dan remeh memang kelihatannya. Tapi dari kebiasaan-kebiasaan itu bisa jadi perubahan yang besar, atau bisa aja jadi kaya teteh Lauren ini. Saya juga sedang berusaha bisa nol sampah sih, atau minimal banget lah nggak bikin lingkungan tercemar. Kalau ada program semacam tanam pohon itu juga silakan diikutin, saya juga pengin. Saatnya kita jadi pahlawan untuk lingkungan kita sendiri, lebih sadar akan sekitar, dan lebih peduli. Karena untuk dapat bernol sampah, mulailah sejak pikiran.

Bagi yang ingin berdiskusi atau nambahin info tentang fenomena ini boleh banget di kolom komentar loh. And see ya in the next post!
***

*All the pictures are taken from trashisforthetossers instagram.

3 comments:

  1. Makasih udah ngingetin, saya paling berhemat, pakai clodi, bawa tas belanja sampe emang sayur bilang saya teteh go green padahal belum ada apa-apanya buat menyelamatkan bumi huhu

    ReplyDelete
  2. Wah iya nih, kalau habis kumpul biasanya banyak sampah yang ditinggal seenaknya. Kesadaran harus mulai ditumbuhkan.

    ReplyDelete
  3. inspiratif banget artikelnya. mudah-mudahan bisa mengikuti juga gaya hidup zero waste :)

    ReplyDelete

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^