On Choosing The Wrong Things and Path, Maybe

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
Hi, what's up? 

There's a thing I realize saat jadi freelancer: kerentanan, dan saya memulai karir dengan ini. Menjadi freelancer artinya harus bekerja keras, namun hasilnya masih kalah jauh dengan gaji tetap (yaiya, lah!). Berhenti dulu di pertanyaan "nggak pasti tuh, ada yang sukses juga. Nggak mesti tuh, kalau rajin ya bakal kaya juga." Stop dulu karena nggak akan membahas itu, dan lagipula tak sesederhana itu.

cookies
pict: senjakelabu29, pixabay

First thing first, I am beyond happy that menulis pada akhirnya berubah jadi hobi yang bisa menghasilkan. Meskipun awal berangkatnya adalah ternyata jenis tulisan nantinya berbeda dan lama-lama menyesuaikan. Tapi itu sementara, yang dulu-dulu disenangi atau let's say dibanggakan pun lama-lama jadi kebalikannya. Barangkali memang pas ketambahan waktu yang nggak pas, dan di sanalah mulanya.

Nyampe juga di masa kalau keputusan yang diambil ini salah, karena kaitannya sama waktu. Di sisi lain memang lagi di usia-usia tanggung, jadilah otomatis comparing itu kerasa kuat banget. Nggak cuma sekali ketika lagi ngelaptop, yang timbul bukan lagi senang dan antusias namun well, benci sama diri sendiri.

I know ini cuma fase, tapi sampai kapan? Manusia memang butuh kepastian biar tenang, ya. So called manajemen waktu, manajemen fokus udah berkali-kali bongkar pasang untuk waktu yang efektif. Kadang saking clueless terysnya ngerasa kalau, lagi apes banget. ((Oh okay I shouldn't say that)) ((this is getting funny I am overthinking it on a POST??)

Freelancing artinya dari satu project ke project lainnya yang dicari sendiri. Pemasukan juga tergantung mana yang nyaut. Prosesnya sampai payment bahkan tak selalu satu bulan sekali, bisa 1,5 bulan. I'm not gonna say this is a bad thing, ya, hanya saja saat ini cost untuk memproduksi terlalu banyak. Soalnya, di rumah kurang mendukung karena lingkungan berisik mengakibatkan susah sekali fokus. Susah fokus artinya jadi lambat, atau kuantitasnya dikit. Jadi rindu masa-masa di asrama. Before it questioned, sudah rutin mengerjakan di luar satu dua kali seminggu. Things get worsen jika menerima kabar-kabar buruk dan pondasi belum kuat.

I have a hard situation and I'm pretty sad and this is not so myself lately karena nggak tahu apa yang dilakukan apakah akan membawa ke hal-hal baik nanti. Tahu benar tak ada yang ideal tapi reaching normal point aja belom, but what's normal anyway. Rasanya jauh tertinggal dan terjebak, dan itulah mengapa membuat postingan random ini untuk menanam patokan. Siapa tahu nanti, siapa tahu nanti. Terdengar seperti tulisan keluhan sih, tapi nyatanya ditulis dalam...keadaan tenang. This is like kejadian hidup yang tak disangka-sangka. I hope it gets better and I deserve better things and life and happiness and health and compassion and love and fortune and ocassion and opportunity and well-being and any someday. Someday.

Sorry if this one looks pathetic but it's not--you know what I talk 'bout. It is what it is so, yea. Thank you for reading and please stay hydrated.

No comments

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below (p.s: Mohon klik "NOTIFY ME" untuk mengetahui balasan komentar melalui email)