Peran Bank Indonesia Wujudkan Inklusi Keuangan dengan Pengembangan Literasi Keuangan Pada Masyarakat

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
Keuangan dan perencanaan di dalamnya tak pernah final bagi setiap orang, serta sifatnya berbeda-beda sesuai kondisi dan kebutuhan. Sebagai Generasi Z dan akrab dengan era digital savvy, saya menyadari bahwa mengurus dan mengatur keuangan bukan sebatas menabung sebanyak-banyaknya seperti kebiasaan generasi orang tua atau kakek nenek saya.

Sumber gambar: Bank Indonesia


Generasi Z dan juga milenial, pasti akrab dengan kemudahan bertransaksi secara digital. Membayar tagihan listrik, membeli pulsa, membayar pesanan makanan di merchant, hingga melakukan pembayaran belanja online cukup hanya dengan ponsel pintarnya. Alasan lain selain kemudahan itu adalah terdapatnya cashback atau potongan harga sehingga jauh lebih murah. Jika beruntung, berbelanja bisa lebih hemat dengan adanya fasilitas promo ini.

Adanya kemudahan ini, bukan artinya tanpa sisi efek lain yang menyertai. Adanya ilusi promo bisa jadi malah mengeluarkan uang lebih banyak dengan nominal kecil namun frekuensi lebih intens. Pengaruh FOMO dari media sosial yang lagi-lagi akrab bagi dua generasi ini juga bisa menjadi pengaruhnya. Latte factor atau bocor-bocor tipis pada pengeluaran yang tak dihitung juga seringkali menjadi salah satu faktor.

Meskipun saat ini telah banyak edukasi mengenai keuangan yang dapat dengan mudah diakses, perencanaan pada keuangan sendiri merupakan jalan yang panjang. Dari sini, kita akan mengenal banyak produk keuangan mulai dari deposito, asuransi, hingga investasi. Namun sebelum jauh membagikan uang di sana, masih lebih penting mempertimbangkan dana darurat.

Pun jika ingin belajar dan mengambil investasi, pastikan dahulu bahwa uang yang digunakan adalah uang dingin dan tak lekas menginginkan imbal hasil yang instan. Jangan sampai juga gegabah dalam mengambil keputusan dan terkena iming-iming dengan nominal besar. Misalnya terkena risiko akan investasi abal-abal seperti skema money game, ponzi, dan seterusnya yang justru akan mengacaukan keadaan finansial.

Contoh lain, saat ini banyak tersedia juga produk dari fintech yaitu PayLater dan pinjaman online. Keduanya sama-sama bagus jika digunakan semestinya, secara bijak, dan memang diperuntukan untuk kebutuhan yang teramat mendesak. Di beberapa aplikasi fintech sendiri, PayLater atau bayar nanti sesuai jangka waktu tertentu bukan hanya menyediakan fasilitas itu sendiri namun juga potongan harga. Sedangkan pinjaman online dinilai bisa memberikan uang segar secara instan.

Namun perlu diperhatikan beberapa hal untuk mengatur kebutuhan dan tak bertindak secara impulsif. Segera lunasi dan lebih baik jauh sebelum jatuh tempo jika sudah ada uang pengganti, selain itu dapat menghindari denda yang bertambah. Karena jika gagal melunasi, nama akan terdaftar buruk di SLIK OJK dan BI Checking. Menggunakan kedua ini juga perlu sangat berhati-hati, pastikan memilih yang legal dan terdaftar di OJK.

Untuk itu, kesadaran akan produk keuangan ini bukan sebatas hanya sebagai pengguna namun memaksimalkan manfaatnya secara betul dan memahami risikonya. Cara ini dapat dilakukan dengan membekali diri dengan literasi keuangan, karena memiliki manfaat sebagai berikut:

  1. Financial Wellbeing atau melek keuangan dan dampaknya pada kesejahteraan keuangan yang sehat.
  2. Financial Resilience atau memiliki perencanaan keuangan dalam menghadapi masa-masa sulit.
  3. Membantu pemulihan ekonomi nasional karena adanya peningkatan penggunaan produk keuangan. Selain itu juga bisa mempengaruhi penggunaan pada masyarakat lebih luas.

Mengapa literasi keuangan ini menjadi penting, karena pengaruhnya bukan hanya pada individu namun berdampak ke yang terdekat, sampai keadaan ekonomi nasional. Terutama karena ditambah akan keadaan saat hampir dua tahun pandemi ini yang melemahkan ekonomi.

Jangan lupakan juga akan salah satu bahasan dalam Forum G20 di Desember mendatang di mana Indonesia menjadi Presidensi dan salah satu bahasannya merupakan inklusi keuangan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Bayangkan jika memiliki alur keuangan yang sehat di masyarakat, kesejahteraan pasti akan bertambah jauh lebih baik dan meningkat.

Perwujudan inklusi keuangan ini erat kaitannya juga dengan perkembangan dari literasi keuangan dan peran dari Bank Indonesia. Salah satu fungsi dari tiga pilar Bank Indonesia adalah mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Di mana di sinilah pentingnya literasi keuangan ini bukan hanya milik generasi Z, generasi milenial, ataupun generasi muda namun seluruh lapisan masyarakat.

Bank Indonesia dalam meningkatkan literasi keuangan ini memiliki agenda tahunan. Misalnya seperti Festival Edukasi Bank Indonesia atau Feskabi yang dilakukan setiap tahun. Kegiatan ini lebih menyasar pada mahasiswa di berbagai kota untuk sosialiasi dan edukasi. Tiap tahun sendiri memiliki tema yang berbeda, misalnya pada 2019 bertemakan QRIS, 2020 mengenai Transaksi Digital, dan 2021 ini bertemakan Cinta Rupiah.

Feskabi selalu diakhir dengan NETIFEST, yaitu puncak acara Feskabi untuk memberikan awarding bagi para peserta kompetisi digital dimulai dari blog, vlog, animasi, dan video pendek satu menit. Tahun ini sendiri akan diadakan kompetisi bertajuk Digital Content Competition yang berlombakan video animasi, short movie, video 1 menit, dan komik.

Tentu saja hal ini bagus karena mengasah kreativitas terbaiknya dalam menyampaikan tema seputar keuangan. Bukan hal yang mudah pastinya mengemas dalam karya, namun hal itu sekaligus menjadi tantangan. Selain para peserta yang akan jauh lebih memahami tema keuangan yang dilombakan dan terliterasi, masyarakat umum juga dapat belajar mengenai keuangan dari karya tersebut.

Selain Feskabi, terdapat juga LIKE IT atau Literasi Keuangan Indonesia Terdepan yang merupakan acara kerja sama dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan melalui Pasar Keuangan. LIKE IT yang dikemas dalam series webinar ini merupakan lanjutan dari peningkatan literasi keuangan dan lebih khusus. Yaitu bertemakan menjadi investor di negeri sendiri dan tentunya aman.

Investasi yang dikenalkan ini berbentuk ritel yang cocok untuk jangka menengah. Keuntungan lain dari Sukuk Ritel ini dapat dibeli secara online, minimal hanya dimulai 1 juta, adanya kupon tiap bulan, dan sudah syariah karena sudah dikeluarkan fatwa dari Dewan Syariah.

Tentunya ini menghindari tren investasi yang berisiko karena datangnya ritel dari pemerintah. Penting juga memahami kontrak yang ada beserta ketentuan, selain itu berinvestasi SBN ritel ini juga membantu pembangunan negara.

Peran Bank Indonesia dalam pengembangan literasi keuangan ini merupakan salah satu target dalam mewujudkan inklusi keuangan. Jika tercapai dan terwujud, tentunya akan berpengaruh pada stabilitas keuangan yang baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
***

1 komentar

  1. Bener banget ini mungkin tanpa adanya Bank akan sulit mengatur dan menyimpan uang, apalagi sekarang enaknya mau bertransaksi pasti memakai Bank.

    BalasHapus

Halo, terima kasih sudah berkunjung!^^ Mohon klik 'Notify Me/Beri Tahu Saya' utk mengetahui balasan komentar via email.