The words. The thoughts. The journal.

November 28, 2014

Katniss Everdeen Sang Mockingjay



 
Katniss Everdeen yang diperankan oleh Jennifer Lawrence


     Nama Katniss Everdeen tidak lagi hanya terkenal oleh pecinta buku, namun juga penikmat film sejak film The Hunger Games dirilis. Dalam postingan ini, saya tidak akan mereview The Hunger Games : Mockingjay part 1, karena saya yakin, teman-teman sudah mabok membaca review, sampai hafal jalan ceritanya saat nonton, walaupun belum baca novelnya.


     Sejak Harry Potter menjadi cinta pertama saya, anak laki-laki yang bertahan hidup, sang terpilih dan anak laki-laki yang berbohong dilahirkan oleh JK Rowling mampu menyihir saya tanpa ramuan Amortentia, saya seakan tidak bisa lagi menjadi penggemar sejenis karangan fiksi Harry Potter dengan gaya penulisan yang berbeda-beda, hanya sekedar suka. Itu pun lebih cenderung karena aktor yang terlalu tampan atau efek kreatif, bukan jatuh cinta pada karakter fiksinya.


     Pertama mengenal The Hunger Games, saya naksir dengan pin Mockingjay, lambang burung emas-lambang kebebasan menurut saya, dipadukan dengan lingkaran. Bagus. Saya kira, The Hunger Games adalah karya sejenis Harry Potter (fiksi-fantasi) dan kisah percintaan remaja biasa, ternyata saya salah, akhirnya setelah menelusur, saya pun jatuh cinta dengan karakter Katniss Everdeen, yang secara tidak langsung mempermainkan Capitol (mengenai dandanan Capitol, menurut saya Collins kreatif).

November 21, 2014

Belajar Dari Gita Sesa Wanda Cantika





"Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. - @infoFAKTA"


     Sebenernya postingan ini adalah repost tulisan saya di Kompasiana satu-satunya 2 tahun yang lalu. Iya, gara-gara Rabu lampau pulang pas lagi hujan dan tiba-tiba saja teringat masa SMP saat kelas 9. Jadi, waktu SMP guru PKn saya suka menulis di Kompasiana dan beliau sering bercerita disela-sela ngajar, dan menyarankan muridnya untuk membuat akun disana. Beberapa siswa membuatnya dan sayapun demikian. Awalnya saya mengisi dengan cerpen-cerpen hasil copypaste dengan rata-rata pembaca 100 atau 200an saja.


     Dulu saya tergabung dalam suatu komunitas Sahabat Abadi Keke (Almarhumah Gita Sesa WandaCantika) di Facebook, dari sinilah saya mengetahui Keke, motivasi saya dulu dan masih sampai sekarang. Dulu, saya hanya tau lewat Facebook dan meminjam novel adik kelas, belum difilmkan apalagi disinetronkan.  Saya yang pada waktu itu sedang antusias menunggu film Surat Kecil Untuk Tuhan tayang di tv (maklum, dulu saya nggak tau arah jalan ke bioskop, dan ternyata filmnya jauh dari perkiraan saya, peran Keke agak terlalu manja, namun salut dengan Dinda Hauw yang mau gundul) mencoba menulis sedikit tentang Alm. Keke di Kompasiana, dan sudah dibaca 19.000 kali sampai sekarang dengan alami nggak pakai segala trik. Jika saya mengetik "Gita Sesa Wanda Cantika" di Google postingan tersebutpun berada di atas nomor sekian. Sayapun nggak tau bagaimana sampai sebanyak itu, seneng, pasti. Bisa mengalahkan guru PKn saya kok #heh. Lalu semua cerpen saya hapus, karena copypaste itu nggak baik, jadi tinggal postingan itu saja semata wayang. Dan dari situlah, saya ingin membuat postingan atau tulisan, banyak yang baca dan banyak yang copas.






     Dan ini postingan saya dulu di Kompasiana, dengan sedikit perubahan, maafkan bahasa SMP saya.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa


     Dalam hidup, kita telah bertemu dengan banyak orang, ada yang berkesan, ada pula yang terlupakan atau bahkan kita yang terlupakan begitu saja. Kemudian, saya bertemu Pak Wariyo, salah satu orang yang antimainstream menurut saya, karena beliau masuk dalam daftar orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupan saya, dan tentu saja, tidak pernah saya lupakan.

     Beliau adalah sang guru, saya mengetahuinya sejak saya menjadi murid kelas satu sekolah dasar. Kemudian, saya akhirnya diajar olehnya pada saat kelas 5, yang sebenarnya beliau biasanya mengajar kelas 6. Saat diajar olehnya begitu menyenangkan dan mudengi, seperti kebanyakan guru SD akan menghandle semua mata pelajaran kecuali Bahasa Inggris, Pendidikan Agama, Komputer dan Olahraga. Meskipun bertemu setiap hari, tak sedikitpun rasa jenuh saya rasakan, atau mungkin saya lupa.

     Beliau berperan sebagai guru dan ayah yang mempunyai wajah menenangkan, dan lagi-lagi jarang ada guru yang seperti beliau.  Saya jarang cocok dengan guru, namun saya betah diajar beliau yang tidak membeda-bedakan murid, jadi tidak ada murid yang terdiskriminasi. Tidak ada murid yang paling pintar atau bodoh. Dengan sabar dan tekun beliau mengajarkan kami macam-macam materi. Mengajarkan kami sampai seakan kami bisa menguasai dunia, tidak ada murid tertinggal yang terlampau jauh, iya, semuanya bisa. Beliau yang berhasil membuat jidat saya kelihatan di foto ijazah ini punya cara sendiri dalam mengajar, yaitu menggunakan hafalan seperti mejikuhibiniu, contohnya nama-nama planet disingkat menjadi mevebumayusauneplu, nama-nama bangun ruang tapri mangan kebo, atau apa saya lupa.

Hujan


Malam dingin aku terjaga
Mendapati diriku dalam sunyi
Ditengah deras tetes hujan
Bawaku kembali dalam ingatan
Yang telah terkubur dalam
Namun, hujan menyimpan memori
Apa kabar?
Jawaban tak berganti
Dengan luruhnya hujan di helai daun
Kupersilahkan diriku merelakanmu