The words. The thoughts. The journal.

January 21, 2016

Daily Prophet #394 - Gulungan Perkamen Untuk Alan Rickman


               Hari ini tepat 7 hari kepergian dari pemeran Severus Snape, Alan Rickman. Awalnya sempet kaget tiba-tiba nama Alan Rickman jadi trending topic di Twitter, perasaan langsung nggak enak, dan ternyata emang bener,  the-bravest-Slytherin-man itu pulang pada usia 69 tahun karena kanker. Para pemain Harry Potter seperti Emma Watson, Daniel Radcliffe, Evanna Lynch, Oliver dan James Phelps, Bonnie Wright, Matthew Lewis dan sang penulis Harry Potter, JK Rowling mengungkapkan ekpresi berduka cita yang mendalam di akun media sosial mereka. Seketika itu juga Potterheads-sebutan untuk fans Harry Potter seperti berkumpul kembali dalam euphoria film Harry Potter baru di bioskop. 

Namun, kali ini bukan kegembiraan, melainkan perasaan kehilangan yang sama untuk kedua kalinya.


                Meskipun memainkan peran Snape yang dingin, sombong, galak dan hateable, namun Alan Rickman adalah sosok yang hangat, cerdas dan murah senyum. Saya juga awalnya membenci tokoh Snape, yang kemudian berubah setelah membaca spoiler  novel Harry Potter and the Deathly Hallows. Kalo nggak salah, saya pernah baca, menurut JK Rowling dua karakter yang perfectly fit dalam Harry Potter adalah Severus Snape oleh Alan Rickman dan Luna Lovegood oleh Evanna Lynch, meskipun menurut saya Hermione Granger cocok juga untuk wanita cerdas seperti Emma Watson (kowe ki sopo, Mb!). 

 
                Padahal saya berharap Alan Rickman juga bisa menonton Fantastic Beasts and Where to Find Them. Sosok lelaki yang nggak jauh berbeda dengan Snape, mengutip info dari Harry Potter Indonesia, Alan menghormati keputusan istrinya yang tak ingin memiliki anak walaupun dirinya ingin, wah suami yang baik ya, coba kalo di sinetron Indonesia, yang ada suruh cari istri lagi. Seperti Helena Bonham Carter, Nicolas Cage, Johnny Depp dan Robert Downey Jr, peran-peran film yang dibawakan oleh Alan Rickman juga selalu khas dan totalitas, selain Harry Potter, saya juga suka perannya di film Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street.  

                Kepergian Alan Rickman mengingatkan saya dalam kutipan salah satu iklan Thailand (bisa dilihat disini), yaitu: “the first place that dead man will go is in the memory of someone, but the memories are good or not, depending on what we do with that person when we alive”

Yap, merenung sedikit. Pernah kepikiran nggak bagaimana kita di mata orang-orang setelah kita meninggal? Nah, seperti kutipan di atas tadi, yang pasti akan berbeda-beda bagi setiap orang. Saya pernah bayangin, kalau saya meninggal nanti jadi kayak berita macam “Orang ini terkenal pendiam dan jarang berbicara semasa hidup”, jujur saja saya suka sebel sama kata-kata itu di televisi, seperti karakter diam itu salah banget, padahal kan nggak juga. Bisa jadi orang tersebut introvert, diam dalam karya. Coba tanyakan pada sahabatnya, seberapa ekstrovert sang introvert itu. Lalu jadi inget kutipan di The Fault in Our Stars yang diambil dari surat-tepatnya eulogy Gus untuk Hazel: “See the thing is... we  all want to be remembered. We all want to leave a mark, but not Hazel. Hazel is different.” Nah, semua orang punya caranya sendiri bagaimana ia ingin dikenang, bahkan dengan cara tak ingin dikenang seperti Hazel.


                Namun yang pasti, kematian akan datang pada siapa saja, waktunya sulit diterka. Tuhan percaya kita dengan memberi kehidupan, percaya bahwa kita mampu membawa perubahan atau berguna bagi sesamanya. Kecewa, hasil nggak memuaskan, penolakan-penolakan, stres udah jadi normal dalam fase kehidupan. Lelah boleh, menyerah jangan. Segera bangun, sesuai kata Alan Rickman There's a voice inside you that tells you what you should do. Nox!
***

Sumber gambar :
nacion.com
fanpop.com

No comments:

Post a Comment