A thoughts journal by Marfa

March 28, 2018

Hidup, Mimpi, dan Perencanaan

Dalam salah satu buku karya Adhitya Mulya, dikatakan bahwa sebaik-baiknya hidup adalah hidup yang mempunyai rencana. Iya sih, selama ini saya lebih ke hidup tanpa banyak rencana, lebih membiarkan kuasa Tuhan dengan berbagai “kejutan”, namun tetap melakukan segala sesuatu dengan bahagia dan semaksimal mungkin. Tentu saja ada alasan di balik itu, seperti hidup yang tak hanya sekedar hidup dengan memenuhi target saja, atau hidup dalam standar orang-orang. Tapi, mau nggak mau kita hidup memang harus face and deal with the reality kan? Hidup boleh saja bebas, namun kebebasan sendiri bagi saya adalah bebas dan memiliki kontrol. Seperti sebelum usia 40, ada beberapa mimpi sederhana yang benar-benar ingin saya lakukan, terutama untuk hidup yang berkepanjangan dan membawa manfaat bagi orang lain. Seperti:

Turut Serta “Membangun” Rumah 
 

Menurut saya, sebelum seorang anak memilih untuk benar-benar mandiri, kemudian nantinya akan menikah dan menghuni rumah impiannya yang telah diidam-idamkan, dia perlu turut membangun rumah masa kecilnya dahulu. Bayangkan saja bagaimana ibu dan ayah dahulu menempati rumah yang ditinggali seorang anak sampai lulus SMA. Mungkin yang dulunya hanya beralas tanah sekarang berkeramik, dulu hanya menggunakan tungku sekarang sudah kompor gas, dulu harus berkali-kali mengecek selang air sekarang dengan mudah pompa air, dan lain-lain. Sudut-sudut rumah yang memiliki cerita.

Membangun di sini bisa dalam banyak artian, misalkan mungkin ikut memperbaiki rumah, tagihan listrik atau air, atau mesin cuci baru untuk memudahkan pekerjaan. Dan hal tersebut tentu saja ingin saya lakukan, sedikit demi sedikit. Tentu saja, tak ingin hanya menjadi peran anak dengan haknya, namun juga “membangun” suasana rumah yang penuh cinta kasih dan sayang.


Bekerja di Konservasi Hewan


Ini mungkin mimpi masa kecil saya yang kembali teringat baru-baru ini. Dulu, pernah sekali ingin berfoto dengan singa di kebun binatang sampai saya tahu beberapa hewan di kebun binatang sedemikian dipaksa untuk menjadi konsumsi publik, seperti sengaja dilemaskan, dilatih secara “manusiawi”, hingga pertunjukan lumba-lumba yang sebenarnya menyiksa.

Saya memang bukan berlatar kedokteran hewan, biologi, atau semacamnya, namun jika semesta mendukung dan dengan campur tangan Tuhan siapa tahu? Saya ingin lebih dekat dengan makhluk hidup selain manusia, merawat mereka, pasti hal yang akan sangat menyenangkan bukan?


Membuat Markas Bacaan


Mungkin jika saya menjadi guru, saya kurang memiliki passion di sana. Namun saya tetap ingin menjadi seorang pengajar. Suatu saat, saya ingin membuat rumah bacaan sendiri dengan koleksi buku yang saya punya, berdiskusi isu yang ada, menulis pemikiran lalu mengunggahnya di berbagai media dan juga berbagi ilmu. Namun sebelum itu, saya butuh diri sendiri untuk perlu bisa—tak perlu menjadi pintar, namun memiliki personalitas dan sikap yang matang.


Tentu saja selain persiapan ilmu, perlu dukungan lain seperti tabungan dan asuransi nantinya terutama asuransi jiwa dan kesehatan. Sudah tahu kan kalau badan sehat adalah investasi terbaik, namun tak selamanya kita dapat melindungi diri sendiri, tetap harus ada perencanaan melindungi di masa depan dengan berbagai manfaat asuransi. Bisa juga nanti dengan perencanaan unik link, jadi bukan hanya perlindungan dengan asuransi saja namun juga untuk investasi tergantung keuangan. Dan ya, semoga semesta mendukung mimpi-mimpi di atas!
***
Sumber gambar: Pixabay

No comments:

Post a Comment

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^