The words. The thoughts. The journal.

June 15, 2018

Contact (1997) – Ketika Manusia Dikelilingi Banyak Pertanyaan

Dalam hidup, kita sebagai manusia tak lepas dari masa pencarian identitas atau jati diri. Langkah demi langkah diambil untuk menjawab segala pertanyaan yang memenuhi ruang isi kepala, begitu juga oleh Dr. Arroway dalam film Contact. Pada masa kecil yang dipanggilnya Sparks, Arroway melakukan percobaan komunikasi melalui transmiter radio ke berbagai tempat sampai pada akhirnya menemukan sinyal di titik koordinat luar bumi pada saat usia dewasa. 


Perjalanannya tentu tak mulus, dimulai dari pencarian dana dan juga menyakinkan pihak pemerintah. Setelah berita sinyal dari kehidupan di luar bumi tersebar, penduduk Amerika gempar dengan pro dan kontranya. Berbagai kelompok dari masyarakat mendatangi tempat di mana Arroway mendapatkan sinyal demi mengikuti kelanjutan dari kegiatan tersebut. Kelompok tersebut terdiri dari fanatik, agama, maupun kelompok-kelopmpok kecil yang masyarakat tak akan berpikir keeksistensiannya namun nyatanya ada. Kelompok tersebut mayoritas terdiri dari yang memercayai ada kehidupan di luar bumi demi kebaikan bumi itu sendiri, maupun yang menentang karena dipercaya akan menimbulkan kerusakan dalam bumi itu sendiri.

Yang menarik dalam film science fiction ini sendiri adalah memasukan berbagai aspek dalam kehidupan namun tak memihak. Keyakinan, politik, agama, idealisme dipadu menjadi satu dalam area paradoks—tak ada yang benar maupun salah. Setelah Dr. Arroway memahami pola sinyal dan mendapatkan rumus matematika yang rumit untuk membuat mesin penjelajah waktu ke bintang bernama Vega, dia sebagai kandidat penumpang diwajibkan melakukan serangkaian tes. Tes terakhir yang membuatnya gagal adalah pertanyaan tentang keberadaan Tuhan. Dalam film itu, “haram” hukumnya sekalipun seorang ilmuwan berangkat ke luar angkasa karena tak memercayai adanya Tuhan.

Hal ironi kedua dalam film ini adalah penyebutan bagaimana di dunia ini, idealisme hadir sebagai keuntungan yang diambil dan bukan sebagai sesuatu yang dihargai. Dalam dunia nyata kita juga dapat melihat banyaknya potensi yang dimiliki oleh individu namun seringkali disalahgunakan. Kalah dalam perjalanan karena kurangnya “modal” atau permainan politik. Dan individu atau kelompok ini tak akan mati, justru tetap hidup dengan cara mereka sendiri sekalipun tak ada pengakuan.

Kendati demikian, Dr. Arroway berhasil berangkat pada kesempatan kedua. Mengalami perbedaan waktu 18 jam dengan waktu sekejap di Bumi membuatnya kecewa bahwa alam semesta memang luas adanya dan tak dapat direkam dengan kata-kata. Sayangnya, ia tak dapat membawa bukti apapun dalam perjalanan “spiritual”nya tersebut. Hal-hal tanpa bukti tentu saja tak dapat berterima, namun apakah perjuangan idealisme Dr. Arroway dari kecil dinilai gagal? Jawabannya ada dalam kita sendiri.

Film ini memberi setidaknya gambaran bahwa alam semesta yang tak dapat dikira-kira luasnya ini menyimpan begitu banyak misteri. Alam semesta yang mungkin terdiri dari lapis-lapis yang begitu banyak dan tak dapat diterima akal manusia. Lapis-lapis tersebut mengingatkan pada diri manusia yang kendati diri sendiri merasa sudah sangat mengenal, ternyata masih banyak hal yang bisa ditemukan melalui pertanyaan-pertanyaan. Lantas kita sebagai manusia, apakah hanya akan seterusnya peduli tentang “keakuan” mereka sendiri?

No comments:

Post a Comment

Hai. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Jika postingan ini menarik/menginspirasi, jangan segan untuk dibagikan ke media sosial agar blog ini terus semangat memberi manfaat. Jangan segan juga untuk memberi kritik/masukan/komentar. Tetap berlangganan agar tak ketinggalan postingan terbaru ya. Salam, Marfa.