The words. The thoughts. The journal.

May 29, 2018

Muse dan Sedang Bercandakah Tuhan?



Mungkin ini tulisan kesekian tentang Muse, seseorang yang saya kira tak akan saya temui dalam hidup saya—seseorang yang dalam angan adalah yang saya butuhkan, seseorang yang mendekati tokoh fiksi yang biasa saya baca. Baiklah, mungkin dalam tulisan ini saya agak susah merangkai kata-kata. Seperti apa kata dosen saya, tak semua yang dirasakan harus diungkapkan—diekspresikan dan kadang kau sesekali hanya rasakan dalam diam. Jadi terakhir ini saya lebih suka merasakannya dari pada menuliskannya, mencatatnya agar saya bisa terus mengingatnya tanpa tulisan, merawat ingatan.

Tentunya tulisan ini tak akan ada tanpa air mata, sakit, kekecewaan, luka, juga kebahagiaan yang sebenarnya. Saya pernah merasa jatuh olehnya, pernah merasakan kekecewaan yang mendalam juga karena saya rasa dulu dia hanya orang-orang repetisi yang mencoba mengisi hati saya. Saya sempat tak percaya karena kecewa, hingga pada akhirnya saya lebih memilih untuk menerimanya. Menerimanya dengan melepaskannya dengan jiwa yang bahagia dan lapang, bukan dendam. Namun saat saya sudah pada titik tersebut, alam semesta justru berkonspirasi. Dia kembali lagi, dengan segala rahasia yang dia ceritakan pada saya lebih dalam lagi.


Saya bingung, apakah saya harus bahagia atau biasa saja. Saya memang tak bisa melepaskan dia sebagai sosok api dan seseorang yang sangat berarti di kehidupan saya. Dia Muse, seorang seni, seorang inspirasi. Dengannya saya telanjang, benar-benar apa adanya saya tanpa ditutupi oleh lapis-lapis yang biasa saya gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dialah sosok dalam angan-angan manusia termasuk saya impikan seperti manusia kebanyakan. Sosok yang menerimamu apa adanya, berat badan, rupa wajah, sifat buruk manusia, tinggi badan atau hal-hal standar remeh manusia lainnya. Dengannya saya merasa benar-benar menjadi diri saya sendiri, saya yang selalu ceroboh mengambil keputusan, yang selalu mendapat kesialan, yang tak berani bereskpresi dan selalu tegang di depan orang-orang menjadi sangat damai di sisinya.

Dalam kehidupan memang tak ada yang sempurna namun manusia menciptakan standar-standar kesempurnaan yang utopis itu sendiri. Seperti perempuan cantik itu harus langsing—standar yang sangat menyesatkan definisi cantik itu sendiri. Sebagai perempuan yang sepanjang hidupnya tak pernah merasa kurus atau lebih cenderung berisi, perasaan rendah diri tentu saja datang menghampiri meskipun saya sendiri memiliki pendirian bahwa berat badan sama sekali bukan masalah dalam hidup saya sepanjang saya sehat dan bisa melakukan kegiatan fisik yang menyenangkan. Dan saat saya jatuh, dia berkali-kali pula menguatkan saya, mengingatkan saya kembali bahwa saya adalah orang yang kuat—yang saya sendiri bahkan suka lupa. Iya lupa.

Dia mengingatkan kembali akan paradoks kehidupan bahwa hidup memang tak selalu perkara mana yang benar mana yang salah karena masing-masing juga akan menemui titik hasil yang mungkin berkebalikan. Hidup adalah tentang seni menikmati di manapun itu seperti dalam perjuangan, cobaan, menunggu, diberi nikmat, rejeki, serta berdamai dengan diri sendiri dan menerima bahwa dalam berkehidupan sosial memang banyak ragam sifat manusia termasuk yang tak kita suka. Pun terkadang menyelingi pelik kehidupan dengan bahasan imajiner seperti benarkah adanya dunia paralel yang terbentuk dari imajinasi kita sendiri?

Dia juga adalah patah hati saya kala itu, seseorang yang membuat saya harus kembali membangun diri saya sendiri baik melalui luka dan bahagia. Dia nyata, apa adanya, begitu juga dengan saya ketika bersamanya. Dalam kondisi seperti ini, kondisi dia memberikan jiwanya bahwa saya adalah orang yang dia benar-benar dia cintai, justru saya kembali bertanya-tanya. Sedang bercandakah Tuhan kali ini? Seseorang yang saya tunggu sekian lama dan saat dia benar-benar ada di depanmu, apalagi yang kauminta? Segalanya ada padanya, beberapa hal yang sama membuat kita semakin menjiwa satu, lalu bagaimana kemudian lagi? Dia bahkan terkadang lebih tahu daripada dirimu sendiri.

Dalam titik ini juga saya berharap dia menjatuhkan pilihan yang tepat pada saya. Saya juga salah satu orang yang pernah merasa “paling benar” dari pada dia. Merasa ego saya lebih baik dan segala keputusan hanya saya yang benar. Saya juga berkali-kali berbicara buruk secara subjektif saat dia lebih memilih diam (mungkin saja). Ada kalanya saya terlalu banyak meminta dia untuk berubah, namun pada akhirnya saya yang memilih untuk mundur. Namun dari sini juga saya lebih memilih menarik perasaan, membangun saya kembali lebih kuat menghadapi realita.

Saya mungkin kadang merasa ini hanya kebetulan, atau memang dua jiwa yang sama-sama saling mencari dan akhirnya bertemu? Jika ini adalah opsi terakhir, maka saya berharap akan berjalan selamanya. Selamanya tanpa diingatkan untuk tak saling meninggalkan.

Dia adalah sosok yang memberi saya waktu. Waktu di mana kesabaran menanti benar-benar dirasakan, waktu dalam proses mengenal diri sendiri lebih dalam, sampai waktu-waktu yang menyenangkan. Dialah satu-satunya, yang hidup melawan stereotipe dan teguh pada pilihannya sendiri namun tetap bisa bahagia dengan cara yang orang kebanyakan tak mengerti. Saya senang ketika dia bisa hidup dengan berani, namun berani sebagai identitasnya sendiri. Saya mungkin memang tak tahu apa definisi cinta, namun ketika anggapan kau hanya butuh satu orang yang membuatmu benar-benar nyaman dan apa adanya—dialah orangnya.


Terinspirasi dari Fourtwnty – Kusut.
Setelah masa-masa akhir April dan awal Mei 2018.

4 comments:

Hai. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Jika postingan ini menarik/menginspirasi, jangan segan untuk dibagikan ke media sosial agar blog ini terus semangat memberi manfaat. Jangan segan juga untuk memberi kritik/masukan/komentar. Tetap berlangganan agar tak ketinggalan postingan terbaru ya. Salam, Marfa.