peralihan babak dalam hidup dan pemaknaan mendewasa

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
Kurasa, babak peralihan hidup menuju kehidupan dewasa bagi beberapa orang akan berbeda ceritanya karena pandemi ini. Tak ada manual booknya atau kepada siapa junior-junior fresh graduate belajar menghadapi dunia baru bernama pekerjaan namun dengan topping pandemi. Apa jika seperti ini bisa dikatakan sebagai angkatan pertama?

pict: Michelleraponi, pixabay

Ketika biasanya yang baru mentas perkuliahan akan menyesuaikan satu dua tahun antusias sebagai first jobber dan bahkan banyak side projects, kita akhirnya terpaksa menunggu lebih lama dahulu untuk menyesuaikan ulang. Aku punya perasaan jika bagaimana kita-kita yang ada di usia ini memaknai perjalanan pribadi, pertemanan, kerinduan, kekosongan, dan juga keluarga akan berbeda lagi. Di tengah-tengahnya ada kebingungan bagaimana menghitung secara rasional agar semuanya berada di tempatnya. Meski kita tahu bahwa beberapa adalah pekerjaan yang.......sia-sia karena ada yang tak bisa dalam kontrol dan jangkauan. Namun toh, pada akhirnya kita tetap bertumbuh dari sana.

Aku menjalani jalur yang agak berbeda dari kebanyakan sehingga membuatku bertambah bingung. Mungkin juga karena overthinking yang selalu membuat bertanya-tanya apakah nanti aku akan mendapatkan tempat yang tepat, apakah nanti pada akhirnya aku akan berkata "finally", dan terakhir tentu saja apakah aku akan pada akhirnya membayar lunas semua kekacauan-kekacauan yang kuperbuat sebelumnya.

Aku melewatkan banyak hal dalam fase ini seperti melihat teman wisuda, melihat teman mendapatkan pekerjaan, melihat teman menikah, dan rasa-rasanya ada hal yang semakin mengabur bahwa kita sudah bukan lagi mahasiswa yang hanya pusing karena tugas. Aku bertanya-tanya apakah kehidupan dewasa itu artinya harus bijak dan menghilangkan sama sekali anak kecil dalam diri. Atau apakah kehidupan dewasa itu benar kita pada akhirnya harus menghilangkan kepentingan dan keinginan diri, karena hidup bukan tentang dan bukan lagi hanya tentang diri sendiri.

Pada awalnya memang aku merasa sedikit kaget dan bertanya-tanya apakah harus seperti itu. Aku menolak untuk sekadar hanya melupakan atau tak merisaukan suatu hal yang menurutku menjadi masalah, karena harus dilalui dan dijalani meskipun itu rumit dan susah. Atau dari sana memang aku yang belum selesai dengan fase ini namun aku melihat yang sudah lebih dulu berlari. Ya nggak nyambung. Tapi kurasa, yang sudah berpengalamanpun belum tentu memiliki hal yang sama untuk sama-sama dibicarakan sehingga aku harus mencari jawaban lainnya yang lebih memuaskan.

Pertanyaan yang menuju tulisan seperti ini memang biasanya menjadi angin lalu saja, Namun aku menolak untuk tidak direnungkan agar di masa depan tak mengulang lagi pertanyaan yang memang seharusnya sudah selesai pada saat ini. Sekaligus juga, mungkin bisa menjadi bahan menertawakan diri sendiri atau malah menyalakan kembali api dan cahaya dalam hidup. Kita tak akan pernah tahu.

Aku baru mengetahui bahwa kehilangan saat menuju kehidupan dewasa itu banyak sekali maknanya. Kehilangan diri sendiri atau yang sebenarnya justru membuat kita jauh lebih baik, kehilangan momen bersama teman, kehilangan masa-masa ngobrol jelek dengan teman, kehilangan tempat dan suasana, kehilangan rasa, kehilangan momen, atau kehilangan masa-masa muda yang belum sempat dicoba. Namun dalam hal ini aku perlu menekankan untuk belajar tak hanya terpaku pada hal-hal yang buruk saja karena bisa jadi negativity bias.

kartuposinsta
Menulis ini jadi teringat instastory dari kartuposinsta ini

Pun, tak semuanya juga bisa kita dapatkan sesuai mimpi dan angan-angan. Namun realita tersebut yang justru akan membuat marah kemudian jadi lebih kuat dan lebih tahan banting. Definisi bahagia dan kebahagiaan juga akan berubah seiring hal-hal yang terjadi pada hidup. Namun aku yakin juga ada satu dua hal momen dalam hidup yang akan mengingatkan kembali masa-masa diri kita penuh cinta, kasih, senang, haru, perasaan pulang, dan kenyamanan. Itu masih lebih baik dari pada hanya terjadi di mimpi, karena satu dua kali terjadipun tak apa untuk kembali menguatkan si diri ini yang barangkali sedang kepayahan. Memori, itulah yang akan kembali mengingatkan, menyelamatkan, dan menyadarkan.

Aku jadi melihat lebih banyak orang dan mencoba menerka-nerka cerita apa yang mereka pikul dan ingin didengarkan. Aku melihat banyak cinta dalam berbagai bentuk, dalam pekerjaan mereka, dalam ketabahan hati, dan dalam masa-masa untuk lebih banyak menunggu dan bertahan. Terkadang, aku mencari bagian dari diri sendiri melalui mereka dan membangkitkan kembali keberanian yang jumlahnya sedikit itu namun energinya bertahan lama. Selebihnya, aku belajar untuk berkenalan kembali dengan diri sendiri.

Kehidupan dewasa itu menyebalkan, menyakitkan, bikin tangis, membuat menerka-nerka dari kemungkinan-kemungkinan, menghadirkan beribu penghiburan yang barangkali menyedihkan namun juga begitu menyenangkan untuk dirayakan—dalam sebagai bentuk apapun. Masa yang begitu banyak pertentangan dengan diri sendiri, untuk kembali mengajak diri sendiri lebih sabar menunggu, lebih melembutkan hati yang keras, dan tak mengeraskan hati begitu kuat untuk menempatkan cinta walau sedikit. 

Hal di atas termasuk bagaimana kita akan begitu menghargai kemenangan kecil, atau menemui diri yang bertolak belakang dari apa yang direncanakan. Atau, menemui waktu yang sekarang terasa begitu cepat—aku berani bertaruh bahwa 1 tahun rasanya sekejap sekali. Entah karena terlalu sibuk dengan angka-angka dan memenuhi segala yang kita kira perlu diisi. Tak lupa juga dengan alasan-alasan tak masuk akal dan aneh saat umur kita lebih muda sekarang menjadi tak lagi aneh. Kemudian mengetahui bahwa dengan menghadapi hasilnya jauh lebih bagus dari pada lari. Seperti kutipan dalam buku The Hate U Give berikut:

“Brave doesn't mean you're not scared. It means you go on even though you're scared.”

Kemudian, adakah cerita kehidupanmu di saat ini? Boleh untuk berbagi kabar di kolom komentar, ya! :D

***
Tulisan dibuat sembari berulang kali memutar lagu favorit: Warrior - AURORA.
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

No comments

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below (p.s: Mohon klik "NOTIFY ME" untuk mengetahui balasan komentar melalui email)