Terima Kasih Untuk Terus Menyalakan Cahaya Dalam Hidup

Halo, diri sendiri

Hari ini kamu menangis lagi, hari ini kamu terpukul, dan hari ini kamu patah hati lagi. Kamu teringat masa-masa kecilmu dan lupa warna-warna kala itu. Apakah kau dilahirkan dengan membawa beragam warna keceriaan dan keramahan, atau justru hadir dalam keabu-abuan. 

dreams


Jalanmu tertatih-tatih berusaha menyembuhkan diri sendiri selama satu tahun ini, berkali-kali pula kamu gagal di hari pertama memulai. Pedih rasanya, malam-malammu yang biasanya sulit tidur karena efek kopi yang telah menjadi candu beralih menjadi sulit tidur karena mimpi-mimpi buruk. Dulu, kamu bertanya-tanya mengapa ada yang bisa sampai kesulitan tidur karena mimpi buruk—dan kini kau akhirnya merasakannya juga.

“Maaf ya, lama.” 


Kata-kata itu terucap kemarin sore ketika pada akhirnya kau bisa menyelesaikan satu dari empat proses yang kamu kira susah sekali akan menaklukannya. Ternyata mudah, padahal untuk melaluinya kamu butuh banyak air mata akan ketakutan dan kekhawatiran. Selanjutnya akan kau lalui dengan begitu luar biasa juga. Kamu percaya hidup akan selalu kembali baik-baik saja, dan selalu akan seperti itu.

Ada masa-masa bahkan kamu sudah tak bisa menangis lagi karena bosan—tubuhmu barangkali bosan dengan pola yang sama dan tak kunjung merasakan bahagia. Lagu-lagu sedih yang kaudengarkan sudah tak lagi membuatmu meneteskan barang satu tetes air mata, menggenang saja tidak. Pegal di pundakmu, sakit di kedua kakimu, dan pusing di kepalamu. Hidup memang tak akan berubah menjadi lebih mudah, kitalah yang harus menjadi lebih kuat. Kau meyakini itu. 

Halo, diri sendiri. Terima kasih sekali kamu telah bertahan melalui masa-masa tak menyenangkan dan masa-masa ingin menyerah. Terima kasih untuk berani pernah gagal dan ribuan kesalahan. Terima kasih untuk setidaknya pernah menyalahkan Tuhan akan keadaan namun akhirnya kamu kembali. Terima kasih untuk pernah menjadi bodoh, arogan, dan terlalu ambisius hingga lupa masih banyak hal-hal sederhana namun bisa membuatku bahagia dan tersenyum lebar. Terima kasih untuk tetap tak menyerah meskipun kewalahan dan kepayahan namun tetap menggunakan tenaga terkecilmu untuk terus bertahan hidup. Sekali lagi, tak apa-apa untuk terus mendengarkan lagu-lagu self-healing sampai menangis untuk memeluk diri sendiri, sampai tak berbentuk rasanya. Tak apa-apa menjadi sedikit berbeda. Terima kasih untuk terus menyalakan cahaya dalam hidup.

Kamu meyakini kamu akan menjadi sesuatu suatu saat nanti. Jangan pernah berhenti untuk memulihkan dari luka. Ingatlah, kamu akan berbahagia karena kamu memiliki banyak luka yang membuatmu tak sempurna. Itulah yang membuatku bertahan bahwa kamu mampu dan kamu begitu kuat. Terima kasih untuk terus memiliki keberanian dan keyakinan bahkan ketika kamu bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa. Aku bangga padamu, untuk terus mencoba mencari arti dan terus mencoba bermakna dalam tubuh ringkih dan kecil. Harapan itu selalu ada di setiap pagi kau membuka mata. Begitu juga dengan semangat yang kadang naik turun dan perlu selalu dirawat. Jangan menyerah, jangan menyerah, jangan menyerah. Terima kasih, untuk tetap bertumbuh dan mengambil kesempatan dengan susah payah dan sesak.

No comments

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :)