Tarian Lengger Maut: Kurang Memuaskan, Namun Potensial

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
­­Libur lebaran tahun ini, bioskop kembali diisi dengan deretan judul film. Hal ini tentu saja menarik kembali keantusiasan penonton seperti pada sebelum pandemi dengan memanfaatkan waktu liburan dengan menonton. Genre film-film lebaran ini biasanya terbagi menjadi empat, yaitu film animasi, film bertema keluarga, film bertemakan agama/spiritual, dan yang terakhir film horror atau misteri.

Bersamaan dengan tanggal-tanggal penayangan tersebut, muncul satu film thriller berjudul Tarian Lengger Maut yang dibintangi oleh Della Dartyan dan Refal Hady. Film ini sementara menjadi satu-satunya film thriller Indonesia yang sedang tayang pada suasana libur lebaran kali ini. Tarian Lengger Maut ini sekaligus juga film thriller pertama yang dikeluarkan oleh Visinema Pictures dan Aenigma Pictures.

Tarian Lengger Maut

"Menjadi penari Lengger adalah sebuah. Tidak semua orang bisa menari dengan indah. Dan bagi yang sudah diberi anugerah, pasti ada pesona tersendiri."

Dari judul, sudah pasti akan membawakan kesenian tari dari daerah Banyumas, Jawa Tengah. Dari sinopsisnya sendiri, film ini dimulai dari kejadian misterius di Desa Pageralas di mana satu per satu warga mulai menghilang. Di saat yang bersamaan, penari Lengger baru bernama Sukma (Della D) sedang menjalani penerimaan Indang yang dapat melindungi tubuh penari dan memberikan pesona terutama saat menari. Dokter yang ada di desa tersebut mulai terganggu dengan suara jantungnya sendiri setiap kali melihat penampilan tarian Sukma. Dari sinilah juga yang ditampilkan dalam trailer film yang cukup dapat memberikan ekspetasi tinggi.

Sayangnya, respon penonton sehabis menonton film ini tak sedikit yang kecewa. Alasannya rata-rata karena ending yang tak jelas, judul yang tak nyambung, plot yang membosankan dan terlalu singkat, dan yang terakhir adalah kegocek "film horror". Kalau yang terakhir ini sih, karena kurang teliti saja karena memang genrenya thriller. Tapi wajar sih, dari judulnya dengan kata "Maut" dan kesan "Penari" pasti mengharap film yang menyeramkan.

Review Film Tarian Lengger Maut


Melalui artikel ini, saya ingin turut memberikan sedikit opini juga mengenai film ini. Sebelumnya, saya jarang sekali nonton film berbau horror atau thriller Indonesia, karena ya memang bukan preferensi dan malas kaget kalau ada jumpscare saja. Namun khusus Tarian Lengger Maut ini saya menonton dengan alasan beberapa hal, yaitu karena mengangkat Lengger di mana berasal dari daerah saya dan film ini memiliki misi untuk memberikan sudut pandang lain dari Tarian Lengger yang tak berkonotasi ke arah negatif. Yang kedua karena Della Dartyan—siapa yang tak jatuh cinta akan pesona peran sebelumnya sebagai Arini Chaniago yang di film ini menjadi pemain utama. Yang ketiga karena di film ini melibatkan 70% pekerja seni lokal di daerah tempat produksi itu sendiri.

Maka, bersamaan dengan kesempatan nobar Tarian Lengger Maut 13 Mei lalu, saya menonton film yang sebelumnya berjudul Detak ini. Well, saya tak akan bohong atau melebih maupun mengurangi kalau sempat berkata "HAH?" ketika film ini selesai. Rasanya di kepala hanya fokus pada kekurangan-kekurangan dan seharusnya-seharusnya. Untuk itu dan semoga tak spoiler, akan memberikan review film ini dalam poin-poin yang menurut saya potensial untuk dikembangkan kembali.

Film ini sebelumnya berjudul Detak yang kemudian berganti menjadi Tarian Lengger Maut. Mungkin pergantian judul ini memberikan harapan agar lebih banyak menarik penonton, apalagi secara khusus menyembut nama suatu kesenian dari daerah. Sayangnya, di film ini tak terfokus pada tokoh Lengger itu melainkan pada tokoh dr. Jati dan ambisi anehnya. Dari awal juga film ini tak memberikan pertanyaan siapa pelaku karena jelas penyebab utama ada di tokoh dokter ini. Dua judul tersebut sudah mewakilkan dua hal viewpoint yang berbeda, malah menurut saya lebih cocok Detak dari pada Tarian Lengger Maut apabila berdasarkan filmnya. Hal itu karena, tentang daya magis atau cerita tokoh Sukma sebagai Lengger baru di desa tersebut tidak ditonjolkan lama dalam film ini.

Sukma Tarian Lengger Maut

Film ini lebih berjalan dengan datar karena sudut pandang hanya berganti dari tokoh Sukma kemudian dr. Jati, namun hanya peralihan-peralihan saja dari adegan-adengan tanpa perkembangan yang perlahan menanjak. Sebenarnya jika dilihat lagi, memang kita bisa melihat melalui warna-warna dari film ini di mana tokoh Sukma dari lemah lembut menjadi lebih tegas, dan dr. Jati dari awalnya rapi perlahan menjadi berantakan. Perhatian ini luput karena tak didukung dari peralihan konflik satu ke yang lainnya.

Ditambah lagi ada beberapa adengan dalam film yang dinilai "kurang masuk akal" seperti misalnya saat warga mulai menghilang. Kesan yang diberikan hanya kesan seram namun di sisi lain tak ada tindak lanjut dari kecurigaan tersebut. Saya juga bertanya-tanya mengenai latar waktu di film ini, apakah mengambil di beberapa tahun silam atau saat ini untuk memberikan tambahan dukungan saya berasumsi di film ini. Tak ada gadget ditampilkan, namun ada koran di sini. Cluenya hanya kehidupan masyarakat yang masih ala pedesaan dan serba tradisional dan dengan dr. Jati yang menjadi pembeda karena lebih modern secara tampilan dan apa yang melekat,

Perihal durasi, di IMDb sendiri film ini memiliki waktu 108 menit sedangkan yang ditampilkan di bioskop hanya 71 menit. Bukan berarti kalau tak dipotong akan jadi lebih bagus, bisa jadi memang sudah dipoles yang paling sesuai. Namun saya tentu saja penasaran apa yang menjadi pembeda jika film ini berdurasi 108 menit itu.

Terakhir, kekurangan yang paling fatal dalam Tarian Lengger Maut ini adalah tidak adanya subtitle ketika sedang berbicara Bahasa Banyumasan. Kalau untuk saya sendiri dan yang tahu Bahasa Jawa sih nggak masalah, namun kalau untuk penonton lebih luas seharusnya ada apalagi misinya adalah mengenalkan kebudayaan ke khalayak lebih luas.

Penghargaan Film Tarian Lengger Maut

Ada beberapa fakta menarik dari film yang menurut beberapa informasi ini sudah lebih dahulu berpetualang di festival-festival. Film ini masuk nominasi Best Drama Feature dan Best Cinematography di Tokyo Genre Celebration Festival 2020 dan memenangkan European Cinematography Award sebagai Best Feature Film, Best Cinematography dan Best Poster Film. Tak hanya sampai di situ, film yang sudah diproduksi mulai 2019 ini juga mendukung gerakan zero waste dalam proses produksinya untuk mengurangi sampah produksi dengan menggunakan prasmanan saat konsumsi, tak menggunakan peralatan makan sekali pakai.

Della Dartyan sendiri belajar selama 1.5 bulan untuk dapat luwes menarikan Tari Lengger yang diajari secara langsung oleh Lengger Senior Wanita dan Lengger Lanang yang berada di Purwokerto dan Banyumas. Tak heran jika di film ini, tarian yang dibawakan oleh Della tak mengecewakan dan memberikan warna sendiri sebagai penawar atas beberapa kekurangan di atas. Eh tak hanya itu sih, musik skoring di sini juga bagus sebagai pendukung beserta visual warna-warnanya.

Della Dartyan Tarian Lengger Maut

Overall, Tarian Lengger Maut ini memang belum sempurna namun sesungguhnya sangat potensial. Bagus misalnya suatu saat nanti ada remakenya dengan durasi lebih panjang dan pengembangan lebih pada alur cerita. Dengan begitu, bisa sekaligus mengenalkan kebudayaan khas asli yang dipadukan dengan eksekusi cerita yang ciamik bukan hanya nasional namun juga internasional. Saya sendiri akan sangat antusias jika misalnya nanti ada film mengenai Sukma sendiri secara solo dalam perjalannya sebagai Lengger.

Meskipun demikian, film ini memang bisa jadi bukan untuk semua orang karena lebih memberikan clue-clue dan teka-teki. Keunggulan yang ditampilkan memang lebih melalui visual dari pada kata-kata atau penjelasan, namun bagaimana menyampaikannya itu juga masih kurang apalagi karena ditujukan pada komersil melalui layar lebar. Namun, tentu saja saya tetap memberikan apresiasi atas keberaniannya melangkah melalui layar lebar dengan membawakan tema dan ide besar dan para kreatif di belakangnya dalam proses produksi yang pasti menemui banyak tantangan di tempat. Bukan hal yang mudah dan mulus-mulus saja apalagi kondisi pandemi saat ini. Yang pertama kali memang tak perlu atau harus langsung melejit "sempurna" terlebih dahulu, namun potensi ke depan selalu ada.
***
Gambar: Visinema Pictures

Rujukan artikel:
1. Aryanna Yuris dan Yongki Ongestu: Keberlanjutan Film dan Film yang Berkelanjutan
(https://infoscreening.co/keberlanjutan-film-dan-film-yang-berkelanjutan/)
2. Mendobrak Mitos, Simak Fakta Menarik Film Detak yang Dibintangi Refal Hady
(https://journal.sociolla.com/lifestyle/fakta-menarik-film-detak)
3. Kupas Tuntas Film 'Detak' yang Menang European Cinematography Awards
(https://www.mldspot.com/inspiring-communities/kupas-tuntas-film-detak-yang-menang-european-cinematography-awards)
4. Menanti Film "Detak" Tayang di Bioskop
(https://kumparan.com/harris-maulana/menanti-film-detak-tayang-di-bioskop-1sWCU7Dzu2F/full)

Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

No comments

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below (p.s: Mohon klik "NOTIFY ME" untuk mengetahui balasan komentar melalui email)