Surviving, Thriving, and RISING!

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
Apa yang terjadi ketika ada tekanan yang begitu besar datang terus menerus? Ada dua kemungkinan, yang pertama hancur dan yang kedua adalah melenting menjadi lebih kuat. Saya memilih nomor dua, terutama setahunan pandemi ini. Setelah segala penolakan, kekecewaan, dan rasa bersalah, ternyata masih ada dalam diri yang ingin melenting dan bangkit lebih keras lagi. Saya kira, saya sudah ada limitnya. Namun mungkin limit itu hanya ada di pikiran, atau memang sebenarnya menyesuaikan atas apa yang terjadi sesuai dengan kondisi.

life path
cr: 9GAG



Sejauh saya ingat, saya cenderung selalu merasa cemas dan overthinking ketika akan menghadapi sesuatu. Kombinasi antara bawaan dalam tubuh dan pengalaman masa kecil barangkali turut mempengaruhi, dan kedua perasaan tersebut sungguh menganggu karena datangnya selalu periodik. Membuat saya tanpa sadar memberikan jarak yang kadang terlalu lama, lari, atau menunda-nunda. Ciri yang khas sekali untuk menghindari kemungkinan rasa sakit, yang sayangnya baru saya sadari di usia 20an ini.

Belum selesai menjadi master akan permasalahan ini, pandemi datang memberi beban lebih karena saya merasa belum selesai. Apa saya langsung seketika mengubah haluan 180 derajat? Oh tentu saja tidak, saya malah mendiamkan diri sejenak untuk seakan marah dan tak menerima kenyataan yang menghancurkan rencana-rencana. Kenyataan pahit saya terima dan sadari bahwa saya bukan satu-satunya yang "menderita", melihat orang lain bangkit dan mengesampingkan perasaannya membuat saya ingin thriving juga.

"Berikan saya ketenangan untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah, keberanian untuk mengubah apa yang bisa saya ubah, dan kebijaksanaan untuk tahu perbedaan antara keduanya" - Reinhold Nieburh.

Setelah memakan cukup lama perenungan-perenungan, menikmati berkabung dalam kesedihan, menyalahkan diri berkali-kali pada penyesalan-penyesalan yang tak diambil, dan puas memberi makan negativity bias ternyata saya merasakan bosan juga. Bosan karena muak sekaligus puas jika tetap berada dalam keadaan ini, maka akan menambah beban penderitaan dan perlahan-lahan pasti hancur. Saya mengajak sisi dari diri sendiri yang lebih positif untuk bersama-sama menata ulang. Banyak sekali PR yang perlu diselesaikan dan beberapa ternyata hanya perlu ditata ulang. Membereskan pola pikir yang keliru, melihat sekeliling dan orang-orang terdekat, dan mendengarkan cerita untuk turut serta mendapatkan pengharapan-pengharapan.

Mungkin ini yang dinamakan proses pendewasaan di mana lebih tepatnya proses menjadi diri sendiri yang lebih bijak. Benar memang, sebagian masalah memang bisa jadi sebagian besar berasal dari dalam diri. Maka dari itu, harus berani dan secara tepat kapan untuk melawan, kapan untuk menemani dan memberi pemahaman, dan kapan untuk meregulasi emosi dalam diri sendiri. 

Selama hidup, saya juga meletakkan sendiri ketakutan dalam tempat yang begitu jauh dan sebisa mungkin dijauhi. Saya menganggap ketakutan itu sebagai bentuk yang merepotkan dan membuat hidup sengsara. Namun berkat pandemi ini, saya jadi belajar untuk mengenali ketakutan. Yes, ketakutan ada untuk dikenali. Terutama ketakutan yang membuat diri sendiri terjerat akan limitasi karena pikiran sendiri, membuat diri sendiri lebih rendah dari kenyataan, dan memberi makan ego yang menutupi hati atau perasaan yang lebih murni.

Barangkali proses di atas juga termasuk salah satu bentuk dari self-love yang bukan hanya afirmasi dalam bentuk perkataan, namun diterapkan dalam berpikir dan bertindak. Karena mencintai diri sendiri itu bukan sebuah akhir, melainkan yang dirawat setiap hari. Ketika diri sendiri sudah merasa cukup dan bebas, rasanya menghadapi dan merespon terutama yang ada di luar kendali menjadi lebih ringan. Bukan semata karena lebih mudah namun sudah lebih dahulu siap dan menerima.

Belajar mencintai dan memahami diri sendiri juga ternyata menumbuhkan perasaan empati kepada orang lain. Bahwa masing-masing berjalan sesuai dengan caranya sendiri-sendiri. Dahulu mungkin ada beberapa yang dikira "aneh", namun ternyata semua kehidupan yang ada di Bumi ini memang tak terlepas dari hal-hal aneh.

Hidup ternyata jadi lebih mudah ketika tak perlu lagi menghitung pada apa yang terjadi di masa lalu, apalagi yang menjadi beban pemberat di masa sekarang. Konsep memaafkan juga bukan berarti menerima kembali, namun lebih ke bagaimana kita sendiri membebaskan diri sendiri dan tak apa untuk memberikan jarak atau memilih jalan yang lebih baik. Beberapa hal yang perlu diselesaikan, selesaikanlah dan letakkan pada tempatnya.

Menerima ketidakpastian di depan mata juga bukan hal yang menyenangkan, namun sekarang tinggal mengucap mantra "nothing to lose, whatever happens, let it be.". Bukan pasrah, namun lebih tepatnya amor fati, ketika misalkan suatu hari jatuh atau gagal, saya akan tetap merasa baik-baik saja seiring kehidupan yang tetap berjalan. Kalau kata Baskara Hindia mah, apapun yang terjadi tidak apa.

Belajar mengenai kesabaran, ternyata juga luar biasa prosesnya. Apalagi selama ini memang inginnya cepat-cepat, tak ingin merasa tertinggal, yang ketika menemui sedikit saja kegagalan rasanya jadi begitu ambyar. Namun terima kasih pada proses, karena telah membawa ke jalan-jalan yang begitu indah.

Menciptakan momen-momen kecil dan menghargai kemenangan-kemenangan kecil juga sangat membantu dalam proses ini. Tak sadar bahwa selama berprosespun harus menciptakan standar yang tinggi untuk bisa dibilang batas mencapai sesuatu, padahal baru prosesnya saja. Belajar dari hal ini, ternyata mengambil secukupnya dalam kehidupan dan bisa merasa cukup karenanya itu menyenangkan dan menenangkan.

Saya rasa, ini akan menjadi catatan kebanggaan saya suatu saat nanti. Beserta saat tulisan ini dibuat, berikut gambar-gambar yang mengiringi langkah penguatan sampai saat ini yang barangkali "menemukan" teman-teman pembaca juga. Tumbuhlah melalui apa yang kau lewati.

kata-kata penguatan

kata-kata tentang keberanian

going through

kata kata skenario Tuhan
dari Instastory: rreffl

perihal memaafkan diri sendiri

struggling with life
***
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

No comments

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below (p.s: Mohon klik "NOTIFY ME" untuk mengetahui balasan komentar melalui email)