Berbicara Mengenai Realita dan Hidup yang Absurd

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
Akhir-akhir ini, kata realita lagi sering banget muncul. Ya, didukung sama kemunculan film Dr. Strange 2: Multiverse of Madness juga kali ya. Lupa juga deh, udah pernah bahas di blog ini apa belum atau pernah nulis di mana, tapi ya ini versi pemikiran sekarang dan ingin ditaruh di sini. Jadi, mungkin akan agak-agak nyeletuk random yang dijawab sendiri dan santai gitu deh ya ini postingan. 

hidup yang indah
sumber gambar: M-S-Night. Pixabay


Mungkin seiring bertambahnya usia jadi lebih kerasa mengenai realitas ini. Ada pertanyaan yang selalu pop up aja di kepala gitu, kira-kira gini:

"Kok bisa ya, orang menjalani kehidupan yang begitu berbeda dengan diri ini. Padahal dulunya kita bareng, usianya juga sama"

Hmm, iya tahu kalau kaya gini tuh faktornya banyak: latar belakang ekonomi, sosial, kesehatan, lingkungan, pendidikan, pilihan hidup, jodoh, dan seterusnya—bahkan takdir. Tapi memang yah, kadang sulit mencerna aja karena seperti dua kehidupan yang berkebalikan. Mirip-mirip lah sama intro kakak beradik di drakor Startup (2020).

Memang kita tuh ya nggak bakal terlepas dari apa yang sudah melekat dalam diri. Mau lari atau menghindar gimanapun kalau misal belum dilalui atau diselesaikan, cuma menambah waktu aja. Kita jadi nggak ke mana, aslinya ya di situ-situ aja. Duh, bacanya aja udah capek ya?

Saya juga sering berpikir secara otomatis aja kayanya kehidupan orang lain itu enak bener, bahkan kehidupan yang medioker aja. Tapi setelah beberapa kali diberi kesempatan mendapatkan atau berada di posisi yang dulu saya kira akan menyenangkan, jawabannya malah biasa aja atau sebaliknya. Awalnya ya tentu saja bingung, tapi lama kelamaan jadi ngeh kalau sebaik-baiknya pilihan ya pilihan kita sendiri. Pilihan yang tidak selalu sempurna, pilihan yang berkali-kali ngalamin jatuh ke lubang dulu, pilihan yang kalau dipikir-pikir, konyol.

Terus kadang, kalau mikirin realitas gini kan suka bikin sedih ya. Apalagi misalnya belum mencapai suatu hal tertentu, bahkan mencapai bare minimum aja belum. Di sisi lain kalau kaya gini tuh memang tetep butuh gerak, tapi sambil afirmasi diri juga banyak-banyak kalau nanti akan ada masanya nggak kaya gini lagi. Prosesnya bener sih bisa tahunan, tapi kalau udah sampai di sana rasanya jadi nggak merasa sia-sia; termasuk sedih-sedihnya.

Jadi wondering pula, apa orang-orang juga mengalami kebingungan semacam ini? Bagaimana sih orang-orang menjalani hidup itu? Apakah selalu merujuk pada realita dan mikir solusi-solusi-solusi. Apa ada waktunya untuk mempercayakan segalanya pada Sang Pemilik Hidup. Soalnya kalau untuk ease the burden, nulis juga mimpi-mimpi dan harapan yang sekiranya bikin nyaman dan tenang lebih sedikit. Bahkan yang sepertinya akan sulit tercapai jika "manut realita".

Tapi hal di atas juga sebenernya insting buat survive juga nggak sih? Kita perlu merasakan rasa lega dikit di tengah pelik dengan harapan-harapan, dan untuk napas yang lebih panjang. Sekaligus untuk menjeda dan menikmati atau mengamati kehidupan itu sendiri. Sambil bertanya-tanya "memangnya hidup itu apa sih dan kita ngapain?"

Suka bertanya-tanya memang, apa nih yang akan disampaikan atau diantarkan dari diri ini di hidup yang singkat ini. Tapi dari pada pusing dengan pertanyaan kaya gitu, idup setidaknya buat saya ini buat banyak belajar dan bersabar. Belajar jadi manusia yang utuh, jadi manusia yang tak dikendalikan beragam nafsu berlebihan, belajar lebih baik dalam interaksi manusia, dan belajar bersabar ini.

Terus lama-lama jadi tahu, bisa merasakan indahnya bersabar itu ternyata sebuah kemewahan. Menyadari bahwa kita butuh jeda atau jarak sebelum mengikuti keinginan-keinginan, apalagi di zaman yang serba cepat ini.

Selain itu saya percaya bahwa, sepertinya kita hidup memang untuk mengemban dan menuntaskan misi tertentu. Bentuknya ya beda-beda, ada yang penuh untuk orang di sekitarnya, ada yang dimulai dari yang paling dekat yaitu diri sendiri terlebih dahulu, dan yang lainnya.

Hidup sejauh ini bagi saya juga perihal mencari, menemukan, dan mencoba. Lagi-lagi langkah ini yang kudu gerak gitu lho, atau memancing terlebih dahulu. Ya di tengah jalan tentu kita akan ketemu orang-orang yang membantu, yang mengobati, yang memberi. Ini sejalan dengan kata-kata seperti keberuntungan mengikuti usaha, atau hanya kita sendiri yang sebetul-betulnya bisa menolong diri sendiri. Luar biasa, ya?

Balik lagi ke realita tadi, mungkin dalam hidup kita akan nyeletuk semacam:

- "kok si anu bisa gini sih orangnya?"
- "kok bisa sih pilihan hidupnya kaya gitu?"
- dan pertanyaan yang diawali dengan kok lainnya.

Lagi-lagi, kehidupan ini sendiri memang aneh dan absurd. Nggak ada satu formula tepat yang bisa digunakan untuk semua orang; masing-masing memiliki formulanya tersendiri. Ya untuk beberapa hal umum seperti usia tertentu harus ngapain memang tetep aja sih, atau yang diatur-atur dengan kebijakan itu. Namun kalau yang nggak diatur, rasanya jadi blur begitu saja.

Pernah juga ada di masa depressed, nggak bisa berpikir jernih, dan tak ada hari tanpa merasakan kesedihan. Saat udah bisa mulai berpikir dengan lebih baik, saya flashback ke belakang dan mencari kira-kira di mana sih letak kesalahannya. Apalagi rasanya yang runtuh bukan satu hal melainkan beberapa hal sekaligus. Salahnya di mana? Apakah sejak awal sudah salah? Yang terakhir ini udah masuk overthinking sih haha.

Namanya ya juga pertama kali "kontak", baru mengerti segalanya yang terjadi dalam hidup terutama yang nggak menyenangkan ini justru membuat saya belajar dan bertumbuh. Tapi memang dulunya semacam gambling antara apakah benar keadaan akan berubah atau stuck di sana. Alhamdulillah sungguh merasa beruntung dan dilindungi untuk bisa merasakan kedua hal tersebut. Tentu saja dengan dukungan orang-orang yang entah saya mintai tolong atau mereka dengan kebaikan hatinya memberi dukungan.

Terus karena mikir "kenapa ya harus mengalami hal seperti ini? Nggak masuk di akal aja rasanya" jadi inget sama kutipan film To The Bone, yang gini:

"There is no point. Or, at least, big picture, we don't get to know what it is. Why we live... , why Megan lost the baby... , why that girl killed herself..." - (Dr. Beckham)

Emang bener ya kayanya nggak semua pertanyaan dalam hidup itu diketemuin dengan jawabannya. Apalagi kalau untuk masa-masa pemulihan dari kejadian nggak enak, kadang fokus ke hal-hal yang lebih solutif akan lebih dibutuhkan. Tapi nih tapi, yang gini-gini bikin pengalaman bagaimana orang lain menjalani hidup itu selalu menarik untuk didengarkan. Terutama mereka-mereka yang menjalani kehidupan dengan absurd-absurd, yang bahkan bukan mereka yang minta gitu.

Di sisi lain, hidup pun kayanya bakal super-ultra-flat kalau semuanya dijalani dengan hal yang sama, berasa mesin robot aja. Meskipun absurd dan kadang susah dicerna oleh otak, langsung keinget aja dengan salah satu cuitan dari Dokter Ryu Hasan, begini:

ryu hasan tweet

Begitulah, kira-kira realitas ada agar kita bisa "sadar" akan kebutuhan pada hidup. Idealisme, mimpi,  harapan, dan pemaknaan juga ada untuk menjaga diri tetap waras selama hidup. Keduanya sebenenarnya saling berhubungan, tinggal memang gimana kita memprosesnya saja.

Dinikmati sembari diusahakan, diusahakan sembari berdoa dan berharap banyak-banyak. Realita mungkin memberimu hal-hal yang tak ideal, yang berbeda pada yang lainnya, atau yang terlihat buruk dan rasa-rasanya ingin dihindari saja. Namun itulah, lama-lama jadi tahu mengapa kita ada di sini. Kita ada dalam hidup barangkali memang untuk menjalani dan menyelesaikan misi; dari yang paling dekat yaitu diri sendiri.

Pada akhirnya, semoga hidup memang selalu memberikan kita banyak keindahan. Semoga pula lekas menuntaskan apa-apa saja yang terpendam di hati dan semoga selalu bisa melampaui ketakutan-ketakutan.

See ya!
***

Tidak ada komentar

Halo, terima kasih sudah berkunjung!^^ Mohon klik 'Notify Me/Beri Tahu Saya' utk mengetahui balasan komentar via email.