A lifelong learner's digital journal you will read passionately

January 27, 2016

Dolan Pasar Mbanyumas


                Begitulah istilah yang dipakai orang-orang saat seseorang pergi belanja ke pasar terutama di hari Minggu. Artinya sendiri yaitu main ke pasar Banyumas. Ini yang saya lakukan pada Rabu pagi hari tadi, ngapain? Mencari. Mencari jodoh? Bukan, mencari sisa jejak kenangan masa kecil yang tertinggal, beli klepon dan juga buat materi blog. Sendirian dik? Iya. Skip.


                Di Kecamatan Banyumas sendiri sebenarnya memiliki banyak pasar yang tersebar di desa-desa. Saya juga tadi berniat mengelilingi pasar-pasar tesebut namun rasanya nggak hemat waktu, pun di desa saya sendiri nggak ada pasar. Jadilah saya ke Pasar Banyumas, pasar utama di Kecamatan Banyumas, satu-satunya pasar yang saya kenal sejak saya kecil. Pasar ini dikunjungi masyarakat dari berbagai desa bahkan kabupaten, juga penjualnya, itu karena pasar ini memiliki tempat yang luas. Pasar ini terletak tak jauh dari Alun-Alun Banyumas, bisa diraih dengan menggunakan ragam sarana transportasi seperti becak, ojek, angkutan umum, delman dan bus.

 Angkot yang melewati desa saya. Biasa disebut koprades oleh masyarakat di sini, yang memang singkatan dari Koperasi Angkutan Pedesaan. Namun lebih sering disebut dengan Kol Kuning, Kol berasal dari kata colt, dan kuning sendiri karena warnanya. Waktu SMP dan SMK, saya sering pulang sekolah dengan kol kuning, nggak seringnya karena hanya beroperasi sampai sekitar jam 11, karena sekarang sudah banyak yang memakai motor dan juga menyesuaikan jam emak-emak belanja. Jadi seringnya saya bengong bingung. Ini caption kok panjang banget.

Nggak cuma pasarnya yang tradisional, alat transportasinya juga. Ini sering disebut dengan Dokar, seperti kol kuning, Dokar berasal dari kata Dog Car yang sering dikatakan oleh Belanda yang ditirukan pribumi. Saya pernah naik satu kali, sisanya saya kasihan sama kudanya. Jomblo lihat kuda sendirian seperti di atas bawaanya pengin nemenin.
Ini juga Koprades dengan melewati rute dan desa berbeda. Dibedakan dengan warna. Ini merah, merah artinya berani.

                Pasar Banyumas yang tak berubah sejak saya kecil ini pun menyediakan kebutuhan manusia yang lengkap. Seperti:

1. Beras dan telur. Ini penjualnya lagi nglayab kayaknya.


2. Ikan asin. Makanan saya dan kucing saya. Bedanya kucing saya nggak suka pake sambel.


3. Bahan Rokok. Di sini kaum adam masih ada yang suka nglinthing atau membuat sendiri rokoknya. Bahan-bahan juga tersedia di pasar ini. Nglinthing berasal dari kata menggulung.


4. Ayam? Ada.


5. Serabi.


6. Buah dan Sayur.


7. Baju. Sepatu dan sendal juga sebenernya ada, di sebelah baju. Nggak kefoto.


8. Kedai Jajanan Pasar.


                Ini saya namakan sendiri dengan Kedai Jajanan Pasar, biar sama kaya blog saya. Karena ternyata udah rame dan jajanan juga mulai bervariasi, nggak cuma jajanan pasar seperti biasa. Kebab mini, burger mini dan risoles juga berjajar bersama jajanan pasar. Mungkin saya akan sering kesini, tadi dapet klepon, nasi kuning, dan kebab mini.


9. Bakul Ayam (Penjual Ayam). Ini di luar pasar, waktu dulu para penjual masih menggunakan sepeda. Sekarang sudah beralih jadi motor. Bedanya saa nomor 4 apa? Nah, itu ada keranjang fungsinya sebagai tempat ayam. Khusus jualan ayam yang masih hidup. Itu di sebelahnya juga ada tukang becak, sebenarnya ada juga yang berjajar.


10. Ayam Goreng. Ayam goreng pun ada, itu ibu-ibu candidnya bagus juga. Kaya mau travel  kemana bu.


11. Petai.


12. Sesajian. Maih banyak loh yang jual kelengkapan sesajian di sini, karena tradisi yang membutuhkan sesajian juga masih berjalan, atau bisa jug buat nyekar. Isinya kebanyakan bunga-bunga, jadi kaya Syahrini deh, banyak bunga-bunga.


                Udah, masih banyak yang lainnya. Cukup 12 aja biar sama kaya distriknya Katniss Everdeen. Tentang harga? Murah kok, dan juga bisa nego gan, seperti di pasar-pasar tradisional lainnya. Masalah keamanan? Tenang, pasar yang mulai dari pagi hingga sore ini juga memiliki Kantor Pasar Banyumas, dan juga Pos Polisi. Itu dikarenakan pasar ini terletak di jalan yang ramai. Sering tuh ada yang kena razia deket pasar.  

                Kenapa kok masih suka main ke pasar? Ada interaksi, yap. Meskipun nggak kenal tapi masih bisa ngobrol bahkan bercanda. Murah, udah pasti. Buah dan sayur masih segar, udah pasti. Pasar tradisional juga simbol kerja keras manusia pedesaan, betapa tidak? Untuk buah dan sayur perlu ditanam dulu, perlu perawatan, baru dipanen, lalu dibawa ke pasar. Iya, rejeki memang udah ada yang menentukan, tetapi rejeki itu butuh dijemput.

                 Pasar tradisional juga kumpulan manusia dengan ribuan karakter. Ada yang jujur, ada juga yang suka nipu anak seumuran SMP kalo lagi belanja. Pasar tradisional juga panggung drama yang unik, kenapa? Biasa dilakukan emak-emak nih, tawar menawar, biasanya si emak udah nawar tapi penjualnya tetep nggak mau, biasanya si emak pergi “yaudah gak jadi beli”, lalu penjualnya akhirnya mau. Begitulah perempuan, maunya menang.

Perjalanan pulang bersama para emak di dalam angkot. Untuk pelajar tarif masih 2rb. Untuk umum 4rb. Untuk jomblo? Seikhlasnya aja.
 ***

No comments:

Post a Comment