The words. The thoughts. The journal.

June 22, 2016

Tentang Kopi, Kita dan Perjalanan Menuju Angka 20

                Halo, apa kabar? Hari ini kau menapaki usia dua puluh, usia yang dimana kau harus bijak mengambil suatu pilihan. Namun kau tak perlu khawatir, jika kau dulu bisa memilih pilihanmu,  mengapa sekarang tidak? 

                Hari ini kau yang berusia dua puluh, dan aku di sini masih menikmati usia belasan terakhirku, dan agak menertawakanmu dan juga aku yang lebih berbahagia daripada kamu. Bukankah, kebahagiaan orang lain juga kebahagiaan kita juga, seperti yang sudah aku tulis di Antara Mimpi dan Kebahagiaan. Kemudian aku berpikir, hadiah apa yang pantas diberikan pada lelaki yang baru memulai usia di angka dua? Mau aku carikan one piece? Ah, asal kamu tahu saja, ini pertama kalinya aku memberi kado berupa draft postingan pada orang lain, membacakannya di depanmu dan kau mau-mau saja aku tulis ulang di blog, dengan sedikit pengembangan tentunya. Karena kau merasa, apa yang aku tulis di sini, begitu menyedihkan, selalu gadis yang patah hati. Ah, dasar kamu nggak tahu sastra, betapa nikmat dan candunya menulis kalimat-kalimat sendu, dan belum tentu, aku mengalaminya. Tahu apa kamu, biosel dan biodas? 
June 19, 2016

A Long Visit, Arti Sebuah Kunjungan (REVIEW)

                Mencari tujuan hidup bisa dilakukan dengan cara apa saja, nyari tempat tujuan studi selanjutnya, nyari tempat kerja yang baru, melakukan hal-hal baru, atau melakukan hal kecil sehari-hari seperti, mandi sambil mikir, randomly ngadem di Alfamart, tulis postingan seperti yang ini, njemur pakaian dan streaming film. Then, entah kenapa dari kemarin saya streaming film dengan kebanyakan tema tentang perempuan dan kehidupan dalam berbeda-beda genre.

                Dimulai dari Spy, dengan kesimpulan wanita yang menarik bisa jadi lebih ke wanita dengan perangai unik, nggak selalu yang tinggi-langsing-dan segala lainnya, dan banyak yang tak sadar. Merembet ke film Gravity, mengajarkan agar kita nggak boleh putus harapan. Lalu Gone Girl, bahwa menjadi wanita cerdas itu perlu agar nggak ditindas, dan juga jangan pernah memainkan seorang wanita. Kemudian Still Alice, tentang perjuangan wanita yang terkena Alzheimer di usia yang tergolong muda, bagaimana perjuangannya yang perlahan-lahan jadi pikun padahal dirinya wanita cerdas. Well, namanya juga perempuan, malah salah ke fokus ke bagian suaminya bilang “Whatever happens. I’m here.”  Oke skip, film ini mengajarkan agar kita bersyukur dan tetap melakukan kegiatan produktif, selama kita sehat.
June 13, 2016

Endlessly (REVIEW)



Judul Buku : Endlessly (Paranormalcy 3)
Penulis : Kiersten White
Penerjemah : Nadya Andwiani
Penyunting : Bunga Siti Fatimah
Pewajah Isi : Aryo Ceria
Penerbit : Laluna and Friends
Jumlah Halaman : 448
Harga : Rp 68.000,-
Genre : Fantasy, Adventure, Romance
Sinopsis :  
June 05, 2016

Kamu Kok Diem Aja?

                Kemarin saya nyoba riset (apaapaan) kecil-kecilan tentang: kalo pertama liat Marfa menurutmu itu gimana sih?

Dan jawabannya adalah

1. Galak,
2. Pendiem,
3. Gak asyik,
4. Datar,
5. Jomblo,

Kemudian saya nangis sekebon. Ternyata gini kalo punya wajah yang mendukung banget buat jadi tukang palak, padahal mah dalemnya rapuh dan butuh sandaranmu, bang. 

                Well, selama beberapa waktu saya melabeli diri saya sendiri sebagai introvert, dan memang nggak sepenuhnya salah. Saya lebih suka diem, atau memerankan diri sebagai si pendiem-gak terkenal- nggak mencolok-nggak menonjolkan diri-ngebosenin. Kinda crazy but I do  enjoy it. Makanya kalo ada teater atau drama nggak pernah bagus. Saya lebih suka mengamati orang-orang berbicara, melihat ekspresi mereka, dan misa kalo lucu mah ikutan ketawa. Saya suka keheningan, dan itu memang benar. Namun ada kalanya saya butuh ketenangan dalam keramaian, iya. Kalo lagi gabut, saya suka ngacir ke kerumunan orang, sendirian, ndusel ditengah-tengah mereka, dan hanya sekedar mendengarkan, menyerap keriuhan mereka. See? 

                Saya terkadang percaya bahwa saya adalah agen entah dari mana yang dikirimkan entah siapa dengan tujuan membantu orang-orang tertentu di muka bumi ini. Bukan, saya bukan lagi mabok jadi Nabi baru. Ini hanya tujuan hidup yang diimajinasikan, kok. Mungkin itulah mengapa saya terlihat selektif atau pilih-pilih, hanya beberapa individu yang bisa nangkep dan nyambung. Kadang pengin juga sih nampilin sifat asli ke semua orang, dikenal sebagai individu yang ceria. Namun, “Tak perlu bersikeras menjelaskan siapa dirimu, karena orang yang mencintaimu tak membutuhkan itu, dan orang yang membencimu takkan percaya itu.” – Ali bin Abi Thalib

                Udah dulu mah postingan gabutnya, bahaya kalo kebanyakan berimajinasi, inget kata Albus Dumbledore yang ini:



P.S : When you realize that Marfa isn’t the- unpopular-boring-stiff-intovert- girl anymore, you must be very lucky. Namun tetap saja, terserah kau mau mengenalku sebagai apa, pujangga, budak nafsu perilaku hedonis, pengembara, psikolog, astronot, guru, deadliner, troublemaker, unwanted shit creature, the unique, learner, atau, kemangi dalam kobokan.

Ditulis di tengah-tengah pencarian tujuan hidup.