A thoughts journal by Marfa

April 04, 2018

Sebuah Pengingat Untuk Tetap Bertaut Pada Jiwa



Hidup memang sedemikian mengejutkannya. Ada kalanya sudah memersiapkan segalanya namun semuanya tak sesuai rencana. Ada kalanya kita bertanya-tanya mengapa sangat berbeda dahulunya ketika sangat teratur kemudian berantakan. Membuat bertanya-tanya di usia yang sudah seharusnya ini itu justru malah masih berulaang kali membangun hidup. Belum lagi perassan sebagai manusia tanggung atau manusia tengah-tengah, mengerti dua-duanya namun tak dapat memihak. Tentu saja seringnya jalan di tempat.

Mungkin, ini adalah tentang dealing with the negativity, masalah utama manusia apa sih? Kayanya lebih ke suka comparingnya deh baik secara sadar maupuun tak sadar, ini tentunya dipengaruhi latar belakang kehidupannya. Nggak mudah loh mencintai diri sendiri seutuuhnya walaupun akun media sosial sudah mengikuti berbagai akun motivasi, curhat sana-sini, nasihat motivasi juga cuma lewat bak angin. Hidup terasa begitu cepat berjalan, saling mengejar, sedangkan ada yang masih terdiam di depan cermin dan bertanya-tanya: “setelah ini apa?”



Atau ketika rasanya baru setahun membelikan kado pernikahan teman SMPmu, kemudian dua bulan yang lalu kado sudah berganti menjadi biskuit bayi 6 bulan dengan kemasan yang lucu, kaos kaki bayi, atau beanie, kemudian disusul dengan baju bayi laki-laki lucu, jaket anak perempuan, atau sepatu-sepatu mungil. Barang-barang yang sepatutnya dapat menyenangkan ibu muda, namun terasa asing di tangan, apakah benar sebegitu bahagianya jika sudah menjadi ibu?

Sebenernya postingan tentang opini random kaya gini udah banyak di blog ini, seperti Ngopi Dulu, atau Sekumpulan Manusia Depresif Yang Mencoba Hidup dan Berarti. Tiba-tiba aja terpikir saat kuliah sudah menginjak semester tua, semester tanpa main-main namun juga terjebak dengan banyak standar, dan bisa membuat tak percaya diri. Ya, memang, masing-masing manusia memiliki waktunya sendiri. Ada baiknya memang kita mengurangi sifat membandingkan yang berlebih, karena ya nggak bisa semua standar kita penuhi. Sebenernya kalau kita nyoba apa yang orang lain raih, atau sebenarnya itu versi standar mereka—batin kita nggak bakal puas kok, atau nggak lama. Mungkin menurut orang lain kita buruk di bidang ini ini itu, namun ada beberapa bidang yang tentu kita lebih bisa—dan itulah yang bisa membuat alasan hidup.


Rumit sih, tapi ya sambil bertanya-tanya tentang hidup bisa sekalian menikmatinya. Salah satu biar nggak lupa atau setidaknya punya persiapan adalah memiliki catatan, karena hidup juga sebenarnya repetisi loh, cuma beda lingkup dan waktu saja. Jadi nggak perlu memulai dari awal lagi, atau setidaknya udah ada di fase “saya pernah berada di kondisi seperti ini.”

Saya percaya hidup selalu memiliki banyak sisi, atau dikerucutkan menjadi dua sisi yang selalu saling berhubungan. Jika sedang dalam masa kehilangan diri sendiri, merasa terjebak, susah sekali untuk bersyukur bahkan demotivasi, tetaplah bertaut pada jiwa seerat-eratnya. Bisa jadi kita mengkaji ulang, bahwa titik saat ini adalah titik terbaik meskipun dulunya bukan impian, adalah semesta yang sedemikian rupa memberi kejutan, membuat kita memahami lebih dalam “rahasia-rahasia” mengenai hidup.
***
Semua gambar diambil dari kamera ponsel pribadi

2 comments:

  1. udah lama gak baca tulisan kayak gini T.T baguuuus

    ReplyDelete
  2. Setuju banget, nikmati dan syukuri setiap fase hidup kita..

    ReplyDelete

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^