The words. The thoughts. The journal.

March 09, 2019

Dilan 1991: Review Jangan?

Halo, apa kabar?

Salah satu cara mengembalikan diri saya sendiri adalah dengan menonton film di bioskop. Ya bagaimana tidak, untuk ukuran mahasiswa semester sekian dengan pundi-pundi recehan, ke bioskop adalah tempat yang lumayan mewah untuk membayar beberapa jam bertukar dengan kontemplasi. Dan film Dilan 1991 mengawali film pertama yang saya tonton di tahun 2019, yang ternyata film terakhir yang saya tonton adalah Milly Mamet. Itu artinya saya berhasil melewatkan film-film incaran selama seperti Januari-Februari seperti Keluarga Cemara, Orang Kaya Baru, Terlalu Tampan, Antologi Rasa, How to Train Your Dragon, dan Glass. Alias, terima kasih isi dompet.


Ke bioskop, apalagi sendirian adalah merasakan sensasi imajinasi luar biasa dalam studio dan after taste setelah menonton film, berjalan ke luar studio sambil senyam senyum atau turut sendu. Kembali lagi ke Dilan 1991, yang saya tonton pada hari ke-lima, atau sudah hari ke sepuluh saat postingan ini turun memang luar biasa ramainya. Bahkan, di Rajawali Cinema Purwokerto saat ini tersedia 18 jam tayang perhari dan filmnya cuma ada dua pilihan: Aku atau Dia? Dilan atau Marvel.

Hmm keuntungannya berapa jeti ya hmm.

Dilan 1991, seperti yang kita tahu merupakan kisah cinta anak SMA yang tak berakhir bahagia—dan untuk itulah mengapa saya nonton. Dengan modal ingatan bukunya yang saya baca beberapa tahun yang lalu, saya mengapresiasi akting hubungan Iqbal dan Vanesha yang lebih hangat dari film sebelumnya. Adegan demi adegan berhasil membuat satu studio tertawa, hening, hingga menahan napas. Yang saya suka dari film ini? Wah banyak, atmosfir Bandungnya, make up naturalnya Vanesha, bagian pas Dilan sama Milea jalan malemnya, adegan humor-humor recehnya, gombalan yang “ih apa dah”nya, dan yang terakhir adalah betapa swagnya Bunda Dilan. Beuh, saya nyeletuk pokoknya kalau suatu hari harus jadi keren macam Bunda!




Menonton Dilan rasanya adalah perkara perspektif, awalnya saya juga niat mau nonton aja tanpa ngereview. Mungkin karena berada di semester akhir juga jadi beda pandangan, misalnya ketika saya duduk bersama barisan sister-sister tipikal heboh kalau nonton film dulu akan misuh-misuh dalam diam dan menunjuk mereka sebagai penganggu dalam kenyamanan menonton film. Padahal ya bukan bioskop pribadi, masa orang lain nonton berekspresi nggak boleh? Nah kemarin, saya malah turut bahagia dan senang karena melihat orang masih bisa ketawa karena hal receh. You know, layf is hard darling~

Kemudian Dilan 1991 cocok untuk orang-orang yang ingin mengenang masa-masa SMA tentunya. Mengenang teman-teman sepermainan, mengenang interaksi dengan bu kantin, mengenang guru-guru, mengenang masa kecil juga, atau mengenang ketika masa sekolah dulu banyak interaksi dengan satpam atau ibu kantin nggak ya? Apa dilewatkan begitu saja?



Kesimpulannya, Dilan 1991 cocok ditonton bagimu yang sedang rindu mengenang bagian dari diri sendiri. Atau mungkin lebih tepatnya cocok untuk mengenang sepenggal kisah romansa dalam hidup kita yang “masing-masing dari kita pernah menyayangi begitu dalam seorang individu dan memiliki waktu-waktu semenyenangkan itu namun pada akhirnya tak bersama". Bersama, namun dalam IMAJINASI nyahaha. Yang pada akhirnya pada perpisahan itu benar-benar jauh, yang kaulihat hanya punggung dan bahunya yang juga semakin menjauh. Hmm kenapa jadi rada indie gini~

Mumpung masih ada di bioskop, tontonlah! Jangan sekali-kali ngetik keyword macam “download film Dilan 1991 gratis, download film Dilan 2019, streaming film Dilan 1991, atau nonton film Dilan 1991 online”. Menonton, mengenang, dan kembalilah ke realita. Nyahaha, mamam itu realita.

Sekian dan selamat membayar rindu!

*** 
sumber gambar tertera

14 comments:

  1. Aku baca seri novel Dilan ini dan kurang merasa cocok. Di film yang pertama aja ngantuk, hahaha

    Tapi kalau memang suka hal receh, yg suka Dilan ya tetep aja ditonton

    ReplyDelete
  2. saya belum nonton Dilan 1991 mba.. dr kmrn pengen nonton tapi belum sempat.. dulu sudah baca novelnya jadi memang tidak terlalu excited seperti Dilan 1990

    saya malah pengen Nonton OKB sama Keluarga Cemara mbaa

    ReplyDelete
  3. Aku mau nonton ini. Sudah baca novelnya dan baper. Baca reviewnya juga. Entah kalo nonton filmnya.

    ReplyDelete
  4. Haha betul sih.. jangan sekali2 mengetik keyword diatas :p

    ReplyDelete
  5. Jujur saya banyak melewatkan nonton film Indonesia yang direview sejuta umat, termasuk Dilan, film pertamanya nonton selewat-selewat di tivi, agak ngantuk, dan sepertinya saya memang lebih menyukai bukunya, atau itu hanya alasan karena tidak menonton filmnya

    ReplyDelete
  6. Aku gak begitu suka. Terlalu banyak percakapan recehnya. Ya khasnya mereka sih


    Kutebak, foto terakhir itu adegan pas mereka udah dewasa. Yang ternyata Milea sama cowok lain yg tak disangka-sangka

    Eh bener tak?

    ReplyDelete
  7. Aku gak baca novelnya dan gak onton filmnya krn bukan genre yg kusuka haha. Tapi suka aja baca reviewnya.
    Hmmm mengenang masa SMA gtu ya? Aku blm nonton kok jadi senyum2 sendiri ya hihihi :D

    ReplyDelete
  8. Saya mungkin dibilang kolot kali ya, dilan 1990 ngga nonton... sampe sekarang dilan 1991 juga belum nonton. lebih seru membaca review orang orang. sudah seperti mengikuti jalan ceritanya hehehe

    ReplyDelete
  9. Soal rusuh di bioskop, terkadang gak semua orang yang nonton nyaman mbak kalau terlalu berlebihan mengeluarkan ekspresi.

    Seperti dua film terakhir yang saya tonton, Dilan dan Capt Marvel. Agak gengges aja kalau semua adegan dikomentari dan disoraki...

    ReplyDelete
  10. Pingin nonton.tapi aceh ga ada bioskop. Film dilan yang pertama aja belum nonton.hiks. nasib tinggal di kampung

    ReplyDelete
  11. Kalau berbicara tentang film Dilan 1991, memang gak ada habisnya ya. Terutama mereka yang senang dengan cerita cinta anak SMA tersebut.

    ReplyDelete
  12. Terakhir nonton film Indonesia di bioskop ya nonton Si Doel The Movie, lain tidak. Mengapa? Alasannya klasik banget : saya sangat menyukai jalan cerita Si Doel sejak ia pertama kali tayang di tv. Sementara Dilan, cukuplah saya lihat thrillernya dan potongan2 adegan yg saya jumpai di timeline media sosial saya :)

    ReplyDelete
  13. Pertama kali baca buku Dilan, aku gak memiliki ekspektasi apa-apa.
    Dan ternyata...aku cukup puas dengan buku pertamanya.
    Meskipun di buku kedua aku kecewa dan entah melayang kemana rasa itu...aku tetap bersyukur dan menjadikannya pelajaran.
    Bahwa masa SMA itu adalah masa dimana kita belum dewasa.
    Wajar kalau melakukan hal-hal di luar nalar orangtua (asal tidak keluar dari aturan norma dan agama).

    Salut sama kang Pidi Baiq.

    ReplyDelete
  14. Ternyata begini alur cerita filem dilan, keren kak alurnya, apalagi yg tukang review keren bingit

    ReplyDelete