The words. The thoughts. The journal.

May 23, 2019

WHY CATCHING YOUR PASSION ISN’T ENOUGH?

Hello guiesse, gimana kabar? Baik-baik aja ya semoga.

Udah lama banget nggak berjumpa buat bagi-bagi insight, boleh lah ya kali ini bahas tentang passion. Ah enggak, bukan yang tentang kejar passion itu doang kok, justru kebalikannya sesuai judul di atas. Kemarin kebetulan Alhamdulillah sempet jadi bahan buat sharing juga di grup Motivation Night, jadi nggak ada salahnya kalau dibagi di blog.

catching your passion

Nah pertama-tama kita samain dulu nih passion itu sebenernya apa dan kenapa sih kayanya kok sering banget digembor-gemborin buat kejar passion lah, kerja sesuai passion lah, dan lain-lain. Di mana-mana ada baik di komunitas, pengembangan bakat, kuliah, atau sekolah pra kerja atau kuliah. Singkatnya, passion ini adalah hal yang kamu lakukan berkali-kali secara berulang, bisa jadi tiap bangun tidur sampai mau tidur lagi kepikiran, dan kamu dengan semangat serta sepenuh hati melakukannya. Nggak cuma sampai di situ, dalam menghidupi passion ini bukan cuma dikejar, dicari, atau dimaksimalkan namun dalam perjalannannya kamu rela keluar banyak modal dalam bentuk uang, tenaga, atau bahkan pikiran. Saya juga setuju tentang kutipan tentang passion ini dari Rene bahwa passion isn’t what you’re good at but what you enjoy the most.

Passion menurut saya kalau diseriusin juga yang menjadikan kita berbeda dengan orang lain, baik identitas maupun visi hidup yang dibawa. Apa yang membuat kita berbeda, dan nilai apa yang kita bawa. Nah dalam proses nyari passion kita ini panjang, karena salah satunya adalah panggilan dari jiwa kita sendiri. Untuk itu juga passion ini jadi unik karena nggak ada standar atau ukuran pasti bagaimana kita menilai bagaimana terbaiknya kita, nggak ada ukuran yang perlu dibandingkan dengan orang lain meskipun bidangnya sama karena masing-masing memiliki ciri khas.

Bisa jadi juga passion ini adalah bentuk atau juga medium mengenai cita-cita kita yang belum tercapai melalui alternatif lain. Misalnya dulu saya pengin banget ngomong, pengin menginspirasi banyak orang melalui bicara namun belum berkesempatan, maka saya menciptkan kesempatan tersebut melalui tulisan-tulisan di blog. Meskipun interaksinya secara daring, namun tujuan tersebut tetaplah tersampaikan padahal kita berbeda daerah. Passion, saya kira dulu cuma selingan iseng saat waktu luang seperti hobi—namun berbeda. Iya sih awalnya iseng, kaya ngeblog ini dulu mah emang murni pengin bagi-bagi info sama pengalaman aja. Namun lama kelamaan perlu dong kenyamanan pembaca, narasi yang bagus, domain yang berbayar, ikut komunitas, rajin blogwalking dan sebagainya.

startup life coworking space


 Nah mungkin ada yang masih nganggep passion itu bentuknya nyata kaya nulis, public speaking, musik, atau fotografi. Tapi nggak juga kok, nggak cuma sebatas itu tapi juga hobi volunteering, mengajar, pendengar yang baik, dan lain-lain. Saya kira juga passion saya ini ngeblog, namun ternyata ngeblog adalah salah satu bentuk yang paling dominan. Passion saya adalah suka belajar di multidisiplin ilmu, penasaran akan banyak hal, dan mencoba banyak hal. Apa kemudian saya jadi pro di segala bidang? Nggak juga walaupun penginnya sih iya. Nyahaha. Tapi khusus bahasan di sini persempit lagi tentang passion ngeblog ini ya.

Well, sejak mulai dikit-dikit nyeriusin passion dalam ngeblog berniche lifestyle ini banyak banget manfaat yang didapat. Yang paling banyak adalah pengalaman, kemudian yang kedua yang tak kalah penting adalah menghindarkan diri dari bucin membucin. Iya dari pada kangen-kangen aja sama people we can’t have mending ngejer passion sampai serius. Mantab. Iya soalnya pernah nggak si kamu salto karena DA naik atau SS ngerampingin dikit? Nah terus udah mulai masuk ke bahasan nih, kenapa sih ngejer passion aja nggak cukup?


Baca juga: Semua Akan Bilang “Passion Is Bullshit” Pada Waktunya, Namun Sebelum Waktunya: Kenapa Nggak Dituntaskan Dulu Aja Sih?

Katanya, hal yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Ini kalau misal passion kamu udah masuk ke ranah professional atau pekerjaan ya, atau ada yang lagi rencana kerja dari passion? It’s good, namun menurut saya nggak cukup itu aja. Ketika kita sedang mengejar passion, atau sedang jadi pegiat suka kepikiran pertanyaan semacam ini nggak:

*Jangan-jangan passion ini cuma pelarian karena nggak bisa banyak hal seperti yang orang lain lakukan
*Udah ngejer passion nih, cukuplah nggak perlu ke mana-mana lagi. Udah cukup ngebawa ke kerjaan kok, pengalaman lebih, nyari apalagi?

Intinya sih, jangan karena passion kamu justru malah stuck dan malas. Terutama di era digital sekarang, inovasi, ide, pengetahuan cepet banget berubahnya apalagi pola pikir. Nggak ada jeda buat malas-malasan.

self improvement books recommendation

Otomatis, kita mau nggak mau perlu yang namanya banyak belajar. Jangan dijadikan beban, mulai aja dari yang deket-deket atau berhubungan dengan passion kita saat ini dulu. Kolaborasi, perluas jaringan, upgrade terus skill sekaligus passion. Kenapa demikian? Yes, passion mungkin bisa membawamu ke banyak tempat salah satunya adalah dunia kerja. Namun hal tersebut akan tetap sia-sia kalau mental kita tetep males-malesan, udah merasa PRO jadi seenaknya, nggak humble, nggak adaptif, dan nggak bisa jadi problem solving. Atau lagi-lagi, lupa kewajiban atau tanggung jawab utamamu saat ini karena keasyikan ngembangin passion. Time management is the key!

Soalnya nih soalnya, sempet juga dapet insight dari Anis Saadah, passion aja ya emang bener nggak cukup. Kamu perlu memasukan kerja keras, disiplin, dan terbuka pikirannya—yes, interaction with others. Saya masih belajar juga sih, karena sehebat apapun kamu kalau nggak punya value atau punya habbit yang jelek ya sama aja bohong. Great achievements, great attitude lah istilahnya. Tentang passion ini nggak cukup saya juga ambil dari beberapa artikel:

Business Insider

“To put it more succinctly: Don't follow your passion; instead work passionately toward the hard but worthy goal of making an impact.”

 "Yeah, we're always talking about following your passion, but we're all part of the flow of history … you've got to put something back into the flow of history that's going to help your community, help other people … so that 20, 30, 40 years from now … people will say, this person didn't just have a passion, he cared about making something that other people could benefit from."

Evernote: Medium
“And then there’s the part that comes afterwards. Is success guaranteed? And if your passion doesn’t lead to success, does that mean you’ve failed — or does it just mean it’s time to find a new passion to pursue?

“Passion doesn’t necessarily guarantee a straight shot to success, but understanding the relationship between the two can help you navigate the journey — and discover new things about yourself, your passions, and what success really means along the way.”

“What’s more is that you need the ability to keep moving forward when things get hard — because no matter how passionate you are about something, at some point, the road is going to get a little bumpy.”

“There’s a lot more to being successful than “following your passion.” It’s understanding how to find your passions, which passions are worth pursuing, when you need to push through the challenges, and when you need to throw in the towel.”

Bisa disimpulin juga biar ketika kita udah nemu nih pola kegiatan kita di passion itu, jangan egois buat diri sendiri aja. Malah emang lebih bagus bisa memberi impact yang positif bagi orang lain. Untuk itulah adanya dedikasi, persistence, dan tujuan terus menerus di dalamnya. Nggak bisa dijadikan pegangan utama juga kalau mau ambil definisi sukses kalau dari passion aja, tapi challenge di dalamnya. Tapi dari sini saya ada pendapat lain juga, sebelum memberikan impact pastikan udah selesai dulu dengan diri sendiri—puas puasin dulu egois buat diri sendiri di masa awal, pastikan juga egoisnya terarah yas! Atur waktu dan energi kapan passionmu untuk quality time dirimu sendiri dan saat untuk memberikan manfaat pada orang lain.

Yang lebih penting dari ngejer passion adalah menjadi lifelong learner untuk saat ini. Saat ini orang-orang hebat menerapkan menjadi pembelajar sepanjang masa, beda dengan dahulu yang berhenti ketika menjadi fungsi dalam suatu pekerjaan dan nggak berkembang. Untuk itulah saat ini saya percaya revolusi industri 4.0 selain berpengaruh terhadap aspek kehidupan, juga berpengaruh terhadap perubahan cita-cita. Kalau masa kecil kita dulu cita-cita hanya sebatas fungsi dan berhenti sampai jadi jabatan fungsional, sekarang kayanya kok kurang kalau nggak berkarya dan berdampak.

Prosesnya yaitu melalui membiasakan habbit membaca buku, simpel dan nggak pernah kadaluwarsa. Mulai upgradelah bacaanmu tentang self-improvement, cara kerja, cara bepikir, dan ilmu pengetahuan. Gabunglah dengan lingkaran yang antusias akan produksi ilmu pengetahuan. Di sela-sela nyeriusin passion, jangan lupa carilah mentor-mentor yang dapat mengembangkan sayap dalam bidang tersebut. Akan lebih keren lagi kalau kamu sexy dalam passionmu tapi kamu juga punya skill dalam leadership, public speaking, handling people, problem solving, dan decision making.Banyak ya? Iya dong makanya. Nggak harus jadi ahli semua, namun minimal paham dasarnya. 

skills in digital era

Wah udah panjang aja ternyata, semoga nggak bosen-bosen deh bacanya dan tentunya semoga bermanfaat. Kalau kamu ada bahasan menarik tentang passion juga boleh banget diskusi, siapa tahu munculin insight baru. Don't forget to live your life and passionate your passion, see you!

23 comments:

  1. Keren kaa, Eny baca sampai kata-kata terakhir ini.. iya kdang kita ingin bisa semua kan. Eny menemukan hal yang disukai dan mungkin saja ini passion setelah menginjak bangku skripsi dan merasa kuliah lulus salah jurusan. Tapi gpp nikmati aja yang penting sekarang bisa melakukan yg menyenangkan dan menghasilkan sudah lebih dari cukup πŸ’“

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terima kasih banyaaak hihi. Kadang nemu passion juga saat ada di masa-masa yang unpreditcable, kemudian baru deh diarahin

      Delete
  2. Ya itu, passion aja gak cukup. Masih perlu beberapa hal lain untuk komplementer.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komplementer itu apa saja kak menurut Kak Peri?

      Delete
  3. Kalo.menurut ku sih, memang iya passion nomor satu. Saya sangat sepakat. Sebab passion lah menetukan arah kedepan mau ngapain?

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah, saat ini saya bekerja berdasarkan possion, jadi aja kerja rasanya main-main. Maksudnya kerja nggak kerasa kerja. Nyaman banget pokoke

    ReplyDelete
  5. Aku bacanya pelan2 nih mbak :D Menarik bahasannya :D
    Iya kalau sudah menemukan passion emang sebaiknya lakukann dengan sungguh2. Trus berbagi juga sama org lain ya mbak :D

    ReplyDelete
  6. Paling sulit itu menemukan passion kita cocok dimana, selain berpakaian. Pekerjaan pun harus sesuai dengan passion dan job desk yg dimiliki. Dipaksa bagaimanapun klw bukan passionnya disana, dijamin stress dan tidak nyaman.

    Terima kasih mba wejangan artikelnya.

    ReplyDelete
  7. Wuah iya looooh
    Passionku ngeblog dan teman2 tau banget kalo aku seorang bloger dan ngeblog. Lebih dipandang aja gitu, bisa dapet duit dari hobi, hehe

    Tapi ya gitu, ntah gimana nanti pas udah kerja. Ortu pengen aku PNS eee... padahal aku pengennya ya ngeblog wae

    ReplyDelete
  8. Passionku misalnya ngajar tapi ternyata materinya juga perlu dicek, ky ternyata aku ngajar sesuai background pendidikan ku eh malah pusing sendiri, sempat kena vertigo sehari, hedeh. Tp kalo ngajar blogging itu semangat. Itu artinya apa?

    ReplyDelete
  9. Setuju banget sama konsep life longlearner yang disinggung di atas. Di mana kita memang mesti terus belajar melampaui batasan usia, batasan pendidikan formal, dan seterusnya. Terima kasih buat peta pengetahuan soal passion ini ya, Mbak. Sukses terus :)

    ReplyDelete
  10. Menemukan passion tersendiri butuh perjalanan lumayan lama, lingkungan sangat mempengaruhi sih. Kalau sudah menemukan passion itu kita akan enjoy saat menjalaninya.

    ReplyDelete
  11. Paling seneng bahasannya begini niih...self improvement.
    Meskipun aku uda emak-emak, tapi inginnya selalu maju untuk belajar banyak hal.
    Karena belajar itu menyenangkan dan membuka cakrawala baru.

    Semoga belajarnya pun mengikuti adab, sehingga ilmunya berkah.

    ReplyDelete
  12. jadi intinya kerjakan sesuai passionnya ya mba dan terus belajar dan belajar untuk menjadi yang terbaik dibidang passion kita dan jangan mudah cepat puas juga sih karena masih panjang perjalanannya

    ReplyDelete
  13. Aku kadang bingung passion aku dibidang apa, tp saat aku jalanin suatu hal fan aku suka aku pasti ajan berusaha lakukan sepenuh hati.
    Mskipun blm tahu passionnya dbudang apa lets do it ajah.. Hhe

    ReplyDelete
  14. passion saya membaca dan menulis
    dari sekolah memang ini passion yang saya rasa
    dan alhamdulillah cita cita juga sesuai passion dan terwujud
    sekarang juga tetap aktif menulis

    ReplyDelete
  15. Saya masih nebak soal passion dan seperti nya kudu cepat mastiin passion lebih cocok kemana deh πŸ‘½

    ReplyDelete
  16. reviewnya kerennn kak, jadi tau passion hhe

    ReplyDelete
  17. Insight kamu bagus, aku jadi refleksi tentang passionku sendiri.
    Berawal dari hobi lama-lama jadi passion, jadi blogger. That happen to me :)

    ReplyDelete
  18. Good motivation kak.. Thanks buat sharingnya. .😍

    ReplyDelete
  19. Aku fikir untuk saat ini passion aku adalah ngeblog kak. Namun aku yakin ada hal yg lainnya. Motivator mungkin.

    ReplyDelete
  20. Passion menurutku memang dibutuhkan, tapi jangan sampai passion membuat kita terlena dan melupakan usaha. But.. menginspirasi banget fa

    ReplyDelete
  21. Passionku blog, tapi di sisi lain aku masih berapa "gak bisa apa-apa" di bidang lain. Aku ngerasa cuma bisa nulis doang. Di industri 4.0 dan kehidupan yang semakin dewasa, aku makin sadar ya memang nulis kelebihanku, tapi perlu juga belajar hal lain. Aku pemalu, tapi public speaking penting agar kita bisa menyampaikan ide ke orang lain. Ya, lewat nulis sih bisa, tapi kalau bisa lewat lisan, tentu akan lebih mampu mengembangkan diri

    ReplyDelete