Semua Akan Bilang “Passion Is Bullshit” Pada Waktunya, Namun Sebelum Waktunya: Kenapa Nggak Dituntaskan Dulu Aja Sih?

Disclaimer: Penulis menulis berdasarkan pengalaman dan sebagai catatan pribadi dalam proses pengembangan diri. Opini sewaktu-waktu namun sebelum berubah, boleh majadi menjadi perenungan bersama.

Perkembangan zaman ternyata membuat saya takjub, dan merasa sedikit seperti kakek saya dahulu yang takjub dengan televisi berwarna karena kemewahan elektronik terakhir yang mereka dapatkan selain radio adalah TV hitam putih. Pun dengan para orang tua di awal masa datangnya smartphone, meski pada akhirnya mereka mampu belajar dan kaum bapak berhasil membuat jokes whatsapp bapak-bapak.

Termasuk cara kerja, cara berpikir, dan juga cara bertindak. Tak perlu menunggu 20an untuk mengganti cara-cara tersebut, dalam periode 4–5 tahun saja sudah merasakan shifting. Pada tahun 2014–2015 kala masih menjadi siswa dan awal menjadi mahasiswa, istilah semacam “ikuti passionmu, ikuti apa yang kausuka” masih sering digaung-gaungkan.

paint
cr: Hello Lightbulb

Kemudian di tahun 2019 ini, saya tak hanya sekali mendengar passion is bullshit, alasannya tentu banyak dan menurut saya memang realistis. Hal ini sering ditemukan di lingkungan kerja, jika dilihat dari sisi HRD-pelamar dan saat pelamar membicarakan perihal passion, mungkin akan terlihat sebagai mahasiswa baru yang ingin lulus cumlaude, 3,5tahun, dan aktif ini itu. Ada humor yang satir.
Case kedua adalah saat berbicara dengan yang memiliki dalih tak memiliki passion dalam hidupnya, atau yang memilih untuk hidup lurus mengikuti alur seperti lahir-sekolah-kuliah-kerja-menikah-dst. Pilihan memang karena masing-masing pribadi memiliki proses yang berbeda, dalam proses yang umum dan mengikuti alur pun — ada yang sudah harus bekerja keras dua kali. Untuk apa repot-repot meluangkan waktu untuk passion?

Let’s see, passion sendiri memang tak langsung berbentuk dan berwujud ada, namun berawal dari sesederhana kumpulan-kumpulan rasa penasaran yang kemudian menjadi kebiasaan. Passion bisa jadi dari kumpulan banyak hal seperti mengamati, dengar, tulis, mengolah — dan lainnya yang kemudian menjadi kebiasaan. Sebelumnya saya pernah menulis mengenai passion ini di Why Catching Your Passion Isn’t Enough? Untuk selanjutnya saya akan mencoba meruntutkan satu persatu mengapa sampai ada kalimat passion is bullshit.

Saya kira, hal ini bukan hanya meletakkan posisi di dunia kerja (profesional) saja namun bagaimana individu tersebut akan maju. Dari yang dulunya menjadi antusias belajar apapun, sekarang menjadi tertutup karena merasa sudah memiliki satu hal atau merasa sudah bisa menguasai.

1. Kerja keras, dedikasi, akan mengalahkan passion.

Yang mempunyai passion bisa jadi sudah terfokus terhadap satu bidang hingga untuk menyesuaikan ke hal baru akan membutuhkan energi yang lebih banyak pula. Karena nanti fokus akan terbagi, maka akan tertinggal dengan yang memiliki sedikit passion. Maka dari itu, jika sudah berada dalam satu lingkaran dengan kesepakatan bersama maka pilihannya adalah mengosongkan dahulu gelas, meletakan kepentingan pribadi, kemudian menyesuaikan. Dengan keadaan yang telah siap, maka hambatan fokus terpecah akan lebih dahulu ditangani.

2. Passion adalah sumber tenaga pemercik dalam melakukan aktivitas harian.

Individu cenderung akan lebih banyak melakukan banyak hal ketika ada triggernya, ada motivasi yang kuat yang menjadi dasar. Passion bisa menjadi akar dalam melakukan hal-hal yang lain dalam keseharian bahwa individu setidaknya memiliki satu hal dasar yang membuatnya menjadi berbeda. Atau, bisa membantu sewaktu-waktu dalam hasil prosesnya seperti dalam ruang-ruang diskusi, atau dalam prosesnya meningkatkan pengetahuan. Maka tujuannya di sini sebagai pendorong, pelengkap untuk cara berpikir dan cara bertindak.

3. Passion adalah milik leisure time, untuk menjaga akal waras.

Kalau dalam pengalaman saya, passion ini tumbuh dari hobi yang didapat dari waktu luang. Melakukan hal yang produktif yang kemudian akhirnaya juga saya seriuskan (monetisasi, profesional, dan lainnya). Menjadi menyenangkan juga mendapat recehan, pengakuan akan pencapaian dari mengembangkan passion — something grows from your own choice. Tak ada yang lebih menyenangkan dari pada bekerja dari kesenangan sendiri, ibaratnya akan datang dengan sendirinya. Namun, di zaman user based seperti ini, untuk perkembangan akan lebih lambat. Pun dengan adanya medium media sosial, sudah banyak akun dengan label influencer atau creator. Lagi-lagi, what’s the difference?

art paint. cr: unsplash Kasturi Roy

Passion, sepertinya akan lebih menyenangkan dijadikan sebagai sebuah kebebasan seperti halnya financial freedom. Ada rasa aman dan nyaman untuk mempertanyakan hal-hal kecil, bebas menjeda waktu lebih lama, serta ajang untuk berkotemplasi diri sendiri karena tolok ukur bandingan dalam passion itu tak ada — sesukanya.

4. Bertindak realistis, harus adaptatif mengikuti perkembangan.

Yang namanya passion, adalah hal yang kita suka tak peduli berapa banyak waktu, tenaga, dan pikiran. Kita senang berprosesnya, hasil memang hanya bonus-bonus yang mengikuti. Sekali lagi, passion itu hanya bisa menjadi alat bantu untuk meniti karir — bukan menjadi tujuan utama. Bayangkan saja jika hasil jerih payah hanya dibayar dengan upah yang murah atau sukarela — hidup kan bukan hanya untuk kesenangan sendiri, ada hal-hal lain yang bisa kita lakukan. Bayangkan saja, akan sampai kapan dan sejauh mana akan bertahan?

Namun sebelum menjangkau ke fase-fase di atas, mengapa sih tak dituntaskan saja? Sampai bosan sendiri atau sampai merasa cukup? Keberanian mengambil keputusan, saat ini banyak dikurung akan sebatas standar opini-opini pribadi saja. Ada masanya sudah tuntas dengan diri sendiri dan tak menyesal nantinya. Merasakan jatuh bangunnya, merasakan bagaimana hidup tanpa sulur-sulur pengaruh orang lain — menjadi leader dan master bagi diri sendiri. Semua serba relatif, tergantung bagaimana mengaturnya.

Sekarang, saya rasa banyak sekali cara untuk mencapai kesuksesan. Cara kerja satu individu dengan yang lainnya berbeda tergantung kondisi personal, ketertarikan, cara pandang, komunitas atau lingkungan yang ia ikuti, keputusan, dan tujuan-tujuan akan ingin menjadi apa nantinya. Banyak jalan, yang artinya banyak perbedaan — dari pada disamakan, lebih baik disatukan. Kan pada akhirnya, nanti akan banyak cerita terkumpul dan bervariasi, dari pada sama. Intinya, masing-masing memiliki fase dan linimasa masing-masing, mengapa harus mengkhawatirkan yang ada di luar jangkauan?

Ada yang lebih penting, jangan lupa passionate your life to the fullest! It’ll make anything easier.
 ***
Artikel sebelumnya telah dipublikasikan di Medium: Marfa U.

18 comments

  1. Kalau menurut saya, setiap orang punya pasion masing-masing, Mbak Martha. Hanya tidak semua orang mengolah pasionnya.
    Dan saat ini saya hidup dari pasion saya, yaitu menulis. Dan pasion saya ini memang hadir karena proses selama bertahun-tahun.
    Namun menurut banyak orang, untuk bisa sukses melakukan usaha atau sesuatu, maka biasanya karena pasion. Karena dilakukan dengan senang hati, maka hasilnya maksimal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau menurut saya, passion itu malah jd me time. kita bs rileks mengerjakan hal yg kita suka. memang butuh waktu agar passion menghasilkan. tapi toh kita nikmati proses itu

      Delete
  2. saya angkatan 2015 nih mbak, memang kala itu masih banyak yg bilang “ikuti passionmu, ikuti apa yang kausuka” tapi saat itu aku juga ngerasa passionku apa juga blm sadar. Dan aku setuju kata mbak, klo ternyata passion memang tak langsung berbentuk dan berwujud ada karena proses tiap org selalu berbeda.

    ReplyDelete
  3. Setuju mba passion itu untuk menjaga kewarasan. Itu yang saya Rasakan, jika melakukan sesuatu yang sesuai passion saya hati jadi berasa Bahagia :D

    ReplyDelete
  4. Aku jadi bangak merenung baca ini. Passion kadang kalah sama realita kata orang-orang. :( Tapi saya emang lagi waras karena passion saya ini. :"(

    ReplyDelete
  5. Zaman Saya kuliah Dan kerja malah Saya belum menemukan passion.. kerja ya seadanya yang mau menerima wkwk. Baru Setelah jadi ibu dan resign paham tentang arti passion dan passionate. Sekarang sih enjoy saja menikmati passion menulis..

    ReplyDelete
  6. Yass.
    Passionate your life to the fullest!

    Couldnt agree more.
    Any body should enjoy their life, in their most passionable ways.
    InshaAllah, aamiin

    ReplyDelete
  7. Bener juga apa yang kita kerjakan sesuai pasion kita maka kita pun akan waras....tapi kadang kita tuh suka coba-coba boleh dibilang uji nyali....mau kerja tak sesuai pasion asal nyaman tentu fine fine aja kan....dan rasanya semua itu kembali pada diri sendiri karena kitalah yang berhak memilih dan menentukan....

    ReplyDelete
  8. Sangat menyenangkan memang kalau bekerja sesuai passionnya. Ya, paling tidak punya pekerjaan yang tidak menghalangi kita untuk tetap menyalurkan passionnya, ya kan? jadi bisa tetap mewaraskan diri.. Tapi masalahnya kadang realita tak sesuai yang diharapkan sih..

    ReplyDelete
  9. Pemikiran yang bagus ini, tapi di satu sisi ada lagi yang namanya logika terbalik sih. Ketika banyak orang bilang karena passion mau melakukan apa saja dengan sukacita, bahkan tak dibayar. Ini jelas susah di masa sekarang, apalagi hidup sudah pasti butuh yang namanya materi dan hal-hal lainnya. Maka logikanya diganti saja begini misalnya, bagaimana saya bisa mengikuti passion sehingga setiap hari saya bisa bersenang-senang dengan apa yang saya sukai, tapi di saat yang sama saya bisa memberdayakannya dengan maksimal sampai mampu menghidupi saya dengan sangat baik. Karena ngomong-ngomong, saat ini pun aku hidup karena passion... hehehe

    ReplyDelete
  10. Yang bilang Passion is Jillshit pasti karena dia belum nemu passion nya yang ngena di hati. Padahal apa pun yang kita kerjakan kalo sesuatu passion pasti akan lebih bain hasilnya 😊

    ReplyDelete
  11. Padahal apapun yang kita lakukan bisa dijadikan passion, selama kita menjalankannya dengan hati yang ikhlas dan penuh dengan perjuangan

    ReplyDelete
  12. Tahun lalu saya akhirnya bilang passion is bullshit untuk pertama kalinya.. karena waktu itu saya kecewa sekali dengan waktu yang habis percuma hanya karena saya ingin mengejar passion. Sekarang akhirnya sudah lebih baik, bisa ngebalance passion (karena memang ga bisa langsung dilupakan haha) dengan kuliah lyfe

    ReplyDelete
  13. Bekerja karena passion atau bekerja karena materi mbak? Hidup zaman skrg memang membutuhkan uang

    ReplyDelete
  14. aku yakin passion ku pasti di satu bidang yang bisa aku lakukan tanpa harus menoleh ke kanan atau ke kiri karena passiong ku bisa menulis dan juga bisa melakukan pemetaan hehe

    ReplyDelete
  15. Saya sampai lulus kuliah juga belum menemukan passion. Pas jadi ibu rumah tangga dan menekuni dunia blog baru sadar oh ternyata passion saya di sini dan memang akan selalu lebih ringan mengerjakan sesuatu sesuai dengan yang kita minati. But kalau jadi IRT mah nggak terlalu masalah dengan passion ini tapi kalau di dunia kerja yah ungkapan seperti pashion is bulshiit itu bisa saja terjadi karena tuntutan hidup, kan?

    ReplyDelete
  16. Jadi berbahagialah orang orang Yang sudah menemukan passionnya ya Mbak, bahagia lagi saat bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan passionnya karena mau secapek apapun pasti bawaannya happy. Tiap kerja berasa lagi metime

    ReplyDelete
  17. tentang kerja dan passion, aku setuju dengan pendapat Mas Pinot (illustrator kreatif) yang menyampaikan bahwa saat passion belum bisa memberikanmu penghidupan yang layak, maka kita harus mau bekerja apapun di luar passion itu.

    Passion is bullshit itu aku setuju karena duit adalah yang utama dalam alasan bekerja.

    ReplyDelete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :)