The words. The thoughts. The journal.

July 19, 2019

Bukan film Romansa Anak SMA: DUA GARIS BIRU IN REVIEW (SPOILER ALERT!)

Halo guiese, gimana kabar? Jadi, Juli ini saya berkesempatan untuk menonton film Indonesia dengan judul Dua Garis Biru setelah sebelumnya melewatkan banyak film Indonesia yang katanya bagus untuk ditonton seperti Ave Maryam, 12 Steps of May, Kucumbu Tubuh Indahku, Keluarga Cemara, dan Mantan Manten. Hhh banyak juga.

film dua garis biru

E sabar dong sabar yang udah nonton juga. Mungkin postingan ini akan mengandung bumbu-bumbu spoiler jadi jika yang belum nonton boleh berhenti dulu di sini dan kembali lagi saat sudah menonton. Tapi bagi yang sudah menonton, bolehlah berbagi pendapat di sini.

Alasan pertama saya menonton adalah lagunya Banda Neira dan Dara Muda yang mengalun saat trailernya, yang kedua tentu saja rekomendasi dari penikmat-penikmat film. Dua jam nggak kerasa saat nonton Dua Garis Biru ini, pun tanpa perasaan bosan atau ngantuk. Let’s see, bisa dibilang film yang membuat penontonnya terus penasaran dari satu bagian ke bagian selanjutnya.

Well, karena review di mana-mana pasti tentang film yang bagus tentang edukasi mengenai pendidikan seks bagi remaja, maka saya akan mencoba mengambil dari perspektif lain. Yaitu, ekonomi dan kelas sosial dalam masyarakat.

Berat amat Ya Gusti

Maka sebelum itu, apresiasi untuk film ini karena banyak ditentang walaupun banyak yang mendukung. Itu artinya film ini emang keren, punya penggemar itu biasa tapi punya haters yang hanya menilai dari trailernya saja yang mungkin perlu diedukasi juga itu keren. Hampir sama kaya Kucumbu Tubuh Indahku yang dianggap sebagai film kampanye akan eljibiti.

zara jkt48 dua garis biru


Lanjut nih, the film is so that good buat ditonton dengan pendampingan orang tua kalau khusus remaja. Buat ningkatin bonding antara anak dan orangtua, senggak cocok-cocoknya anak dan orang tua, tetap saja kalian keluarga. Saya aja selama nonton ini jadi kangen sama Mama, dan dikasih liat kalau jadi orang tua emang profesi paling berat di dunia.

Nah, udah telpon mama papa belom?

Jadi orang tua itu bukan cuma hamil 9 bulan 10 hari, itu pekerjaan seumur hidup.

Malah, saya pikir film ini justru tentang orang tua Dara dan Bima, jadi ya lagu-lagu kesukaan saya ketika diputar di sini seperti Biru-nya Banda Neira, Sorry-nya Pamungkas, dan Growing Upnya Dara Muda itu cocok banget. Jurang perbedaan yang kontraks, yang berada dan yang kurang berada menjadi perhatian utama saya ketika nonton film ini. Akting Zara dan Angga yang benar-benar anak SMA naif dan labil mendukung akan hal tersebut. 

Dara, pada awal film diperlihatkan sebagai siswa SMA yang ya, setidaknya mempunyai mimpi, memiliki nilai bagus, lugu, dan seperti anak SMA biasanya: menyukai boyband serta make up. Bima sendiri kebalikannya, mendapat nilai rendah, tak berpikir panjang mengenai konsekuensi, dan juga lugu. Tak ada kelebihan lain yang ditampilkan selain memang Bima adalah sosok remaja laki-laki yang sedang kasmaran dan susah payah mendapatkan tempat di hati orang tua Dara.

dua garis biru nonton film

Scene yang paling saya suka yaitu saat di UKS dan perjalanan Darabim menuju rumah Bima—gang-gang sempit yang diisi oleh mereka yang memiliki penghasilan rendah. Pergantian pengambilan gambar, suasana yang digambarkan, detail-detail seperti jemuran, raut-raut wajah orang tua yang menceritakan kisah. Ibu Dara dan Ibu Bima digambarkan sama dalam film ini, menjadi yang terpukul, merasa gagal, dan bingung secara bersamaan. Ayah Dara sendiri walaupun terlihat tegas namun agak kurang bijaksana dengan membiarkan Dara tak dipulangkah ke rumah. Minimal, mungkin ada bagian tambahan menengok Dara ketika ada di rumah Bima. Sepanjang film, terlihat juga beberapa kali berusaha menenangkan dan menengahi Dara dan istrinya. Kemudian yang bijaksana di sini adalah sosok Ayah Bima, lebih tenang namun berpikir, bagaimana menjadi pengenah dalam konflik yang ada. Ditambah lagi Dewi, saya suka outfitnya yang ditampilkan dan memang seperti style sebenarnya dari kondisi keluarga Bima. Yang saya suka adalah setiap adegan ibadah di rumah Bima, rasanya selalu khidmat dan khusyuk.

“Mama jangan hanya maafin Bima, namun maafkan diri mama juga.”

Awalnya, saya nggak suka sekali sama bagian akhir dalam film ini. Seakan-akan, malah melenceng dari awal dan pertengahan alur—namun mungkin itulah pesan tersiratnya. Dara yang dari awal sangat peduli akan anaknya dengan tak mau aborsi, tak mau menyerahkan pada tantenya, menikah secara sederhana (which, kalau dewasa pasti tipikal pernikahan yang meriah dan instagrammable) justru malah pulang dari rumah sakit pasca operasi pengangkatan rahim (dan sudah jalan tanpa kursi roda? Atau mungkin sudah beberapa hari ceritanya) dan persiapan terbang ke Korea untuk melanjutkan mimpi. Nasib bayinya? Dibawa Bima dan keluarganya. 

dua garis biru film analisis


Ya memang sih ada kemungkinan jadi dirawat tante pamannya, atau kemungkinan lainnya karena emang endingnya memberi sendiri ruang untuk penontonnya menebak-nebak. Saya membayangkan rumah Bima yang sudah sempit dan tak kedap suara itu akan dipenuhi suara bayi, kakak Bima yang tertunda menikah,  dan Bima sendiri yang mungkin akan mencari pekerjaan dari pada melanjutkan kuliah. But let’s say, kepergian Dara ke Korea bukan hanya meraih mimpinya namun mungkin sambil mencari tambahan untuk kebutuhan finansial anaknya.

"Hanya karena kamu nggak melihat, bukan berarti hal tersebut tak terjadi."

Atau dibalik nih kalau misal Dara yang kurang mampu dan Bima yang mampu, mungkin saja nasib Dara akan lebih menderita dan selanjutnya akan bisa ditebak ba gai ma na.

Seakan-akan, akhir dalam film ini memberikan satir:

“Makanya kalau miskin, nggak usah aneh-aneh!”

film dua garis biru


Wow so daaaaark, nggak ah, tetep ada lucu-lucunya kok. Nonton aja, termasuk lucunya kehidupan ini xixixi. Film ini keren karena banyak menyiratkan pesan-pesan realita kehidupan, bisa dikaji dengan analisis semiotik, seperti ondel-ondel, jam pasir, jembatan, nama Adam, kerang, stroberi, dan lain-lain. Dua Garis Biru memberikan warna baru juga bahwa dalam penggambaran realita kehidupan melalui film nggak harus dengan sinematografi yang kelam—namun memang betapa hal tersebut dekat sekali dengan kita. See you in the next post!
***
sumber gambar: trailer DGB

12 comments:

  1. Wah keren juga yak film ini, kayaknya saya gak bakal keburu nonton.
    Oh iya mbak, kalau mau baca seputar fotografi silakan mampir ke blog saya di gariswarnafoto (dot)com

    ReplyDelete
  2. Jadiii... dibeberkan di sini spoilernyaa,,, Mantul Mbak Marfa hehehee
    Aku yg nggak tahu jadi cukup tahu ahhh. Pen nonton, nggak ada temen ke bioskop, ehh jeuhh ding wkwkkw.
    Selalu ya kalau film yg berkesan tuh mesti ada pro dn kontranya, apalagi Dua garis biru. Bahkan dari trailler aja kalau yg anu, bisa menganggpanya film ini mengajarkan yg begini begini, coba ditontonlah hehehee
    Makasih banyak buat sharingnya yahh Mbak ^_^

    ReplyDelete
  3. Buat saya ini satu-satunya film remaja paling berkualitas tahun 2019. Selain aktingnya keren, ceritanya keren, bermanfaat banget buat remaja.

    ReplyDelete
  4. Ayo bermimpi lebih besar lagi dan berjuang lebih keras lagi agar terhindar dari munculnya "Makanya kalo miskin enggak usah aneh-aneh". Hahahaha

    ReplyDelete
  5. Keluarga Cemara bisa ditonton streaming mba.. udah banyak #duhmalahdukungpembajakan
    Saya juga pengen nonton DUa Garis Biru awalnya tapi setelah baca spoilernya diatas kok endingnya gantung dan membiarkan penonton yang memilih endingnya seperti apa.. kentaang berarti yaa.. wah jadi males nonton malahan

    ReplyDelete
  6. Aduh kena sop iler nih film yang bagus nih untuk ditonton tapi kayanya film ini penuh dengan kontroversial ya mba ada yg support ada juga yg engga.

    ReplyDelete
  7. Film ini lagi viral dan sangat kontroversi. Orang belum nonton sudah sudzon duluan. Padahal film yang ditanyangkan wajib di tonton, karena ada pesan-pesan realita kehidupan. Jadi pengen nonton.

    ReplyDelete
  8. Kayaknya banyak nilai edukasi dari film ini, masa saya sma pun ada yang kejadian seperti Dara, si teman perempuan melanjutkan kuliah dan bayinya diasuh sama keluarga laki-lakinya, dan film ini memang kayaknya sesuai realita yaa

    ReplyDelete
  9. Film ini sudah masu wishlist saya, tapi belum sempat terus mau nonton.

    ReplyDelete
  10. Film yg menarik perlu pndampingan ortu. Tp satu sisi emang perlu sih.

    ReplyDelete
  11. Aku sih belum pernah nonton film dua garis biru ini. Tapi sempat lihat trailernya masih anak dibawa usia sudah hamil. seharusnya ini tidak dipertontonkan anak-anak jaman sekarang ya.

    ReplyDelete
  12. Bener-bener..
    Kejadian dalam film memang selalu dekat dengan realita kehidupan.
    Karena kehidupan sendiri adalah panggung sandiwara, katanya sebuah lirik lagu.

    Aku suka cara cerdas sutradaranya menghadirkan cuplikan adegan tersirat dari adegan kerang, stroberi, ondel-ondel, jam pasir, dan beberapa objek benda lainnya.

    ReplyDelete