The words. The thoughts. The journal.

August 27, 2019

Mau Ke Mana, Gie?



Buku Catatan Seorang Demonstran saya beli pada Januari 2018 lalu, namun saya butuh sekitar satu tahun untuk tuntas membacanya. Awal mula membaca kalau tak salah sejak Agustus 2018 kemudian baru selesai pada Juli 2019, buku ini tanpa sadar sering saya bawa ke mana-mana walaupun tak terbaca. Ke kampus, ke kafe, ke ruang kerja, ke luar kota, di dalam kereta, dan terakhir di rumah. Dan saya kira dalam perjalanan waktu membaca terpanjang selama hidup serta sudah mampir ke banyak tempat—akan disayangkan kalau tak menulis satu dua kata.

catatan seorang demonstran gie

Membaca buku ini menyenangkan, tiga hari ditinggal maka lembar-lembar sebelumnya saya sudah lupa karena detail. Membaca tanpa perasaan emosional dan turut mengikuti alur pikiran Gie rasanya akan mustahil. Berkali-kali membayangkan apabila sosok Gie hidup di masa sekarang—sudah pasti saya akan mengikuti tulisan-tulisannya, atau bagaimana jika saya menjadi salah satu rekannya, mengikuti petualangan-petualangannya.

Gie memiliki banyak pertanyaan akan keresahan-keresahan dalam pikirannya, menjadi idealis, menjadi berbeda artinya paham bahwa pilihan yang ia ambil tak akan mudah. Pengalaman akan Gie ini yaitu identitas latar belakangnya sebagai Tionghoa, pengalaman berpikirnya terhadap pemerintah (yang mana Gie ini tak lepas dari mengkritisi), serta beberapa pengalaman akan romansanya. Saya sendiri kagum akan bentuk tulisan-tulisan dari Gie, tertata, detail, namun hidup. Untuk sekarang, saya belum menemukan penulis yang bernafaskan sama seperti itu. 

Gie menyimpan banyak tanda tanya di kepalanya, dan yang saya tangkap setelah membacanya adalah sulitnya dirinya mendapat penerimaan akan siapa jati dirinya. Banyak yang tak bisa memahami atau terpaksa tak bisa atas beberapa alasan. Membaca buku Catatan Seorang Demonstran juga membuat saya banyak menandai halaman yang berisi kutipan-kutipan akan bagaimana seorang anak manusia mencari makna di perjalanan hidupnya.

“Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya lepas. Dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan.”

“Minggu-minggu ini adalah hari-hari yang berat untuk saya, karena saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan”

"Saya ingat situasi sulit daripada orang-orag idealis (seperti saya???) yang barangkali harus bertempur dua front-melawan lingkungannya sendiri dan melawan musuh-musuhnya di luar. Hidupnya adalah kesepian yang abadi."

"Dan saya kira saya telah jatuh cinta dengan kegelisahan ini dan tiba-tiba semuanya berakhir. Dan terasa kosong sekali, kehilangan dengan apa yang telah menjadi sebagian dari hidup saya. Rasanya seperti orang yang telah hidup bertahun-tahun dalam sel dan tiba-tiba harus berpisah."

"Memikirkan kembali soal-soal kecil dalam hidup adalah sesuatu hal yang membuat kita menjadi manusia kembali. Karena saya yakin harus ada balance antara tantangan-tantangan intelektualisme dan kemesraan-kemesraan emosional."

"Saya merasa "mesra" dengan malam dan perasaan-perasaan yang ada pada waktu itu. Dan dalam keadaan seperti ini, kita melihat kembali waktu dan dunia yang lain dari hidup manusia. Dan kita menyadari hidup yang kosong ini dan pada kitalah hidup ini kita tempa sendiri."
 dsb

soe hok gie catatan seorang demonstran
Lebih menariknya lagi tulisan-tulisan pengantar oleh Harsja W. Bachtiar, Arief Budiman, dan Daniel Dhakidae. Isinya kira-kira ringkasan buku CSD dan poin-poin yang akan disebutkan dalam tulisan-tulisan Gie. Semacam warming up, jadi memahami catatan selanjutnya akan lebih mudah. Pun dengan tulisan-tulisan di akhir buku berupa lampiran pers dari Tempo (Cara Melontarkan Pikiran—Salim Said), Kompas (Soe Hok Gie dan Integritas Pribadi—Indra Gunawan & Soe Hok Gie Kirim Salam—Roell Sanre), Fokus (Profil Seorang Intelektual Muda—R. Z. Leirissa), Optimis (Mirip Cerita Silat—Hidayat Sutarnadi), Hai (Mirip Cerita Silat—Syamsudim NM), dan Sinar Harapan (Kuukir Namamu Selalu Soe Hok Gie—Wahana).
Buku ini terdiri dari 7 bagian yaitu Masa Kecil, Di Ambang Remaja, Lahirnya Seorang Aktivis, Catatan Seorang Demonstran, Perjalanan ke Amerika, Politik Pesta dan Cinta, dan Mencari Makna. Yang terakhir menjadi bagian favorit saya. Pun selain CSD, saya belum membaca tulisan Gie yang lain kecuali Menaklukan Gunung Slamet. Mungkin dari pembaca di sini pernah membaca karya Gie yang lain, boleh merekomendasikan ke saya buku (tulisan-tulisan Gie yang dibukukan) mana dulu yang selanjutnya untuk dibaca.


Juni lalu setelah acara Writerpreneur, saya juga berkesempatan berkunjung sebentar ke nisan Gie, di Taman Makam Prasasti. Meskipun di sana tak ada jasad di bawahnya, namun saya seperti bertemu teman yang sudah lama sekali tak bertemu, di tengah sore Jakarta yang menyisakan hangat. Coba ya, Gie, saya bertanya-tanya pernahkan terlintas mau dikenang sebagai apa kau di sana?

taman makam prasasti gie

Mungkin juga, jika saat ini kau masih mahasiswa seperti saya, akan lebih banyak pertanyaan juga mengantri di kepala: “Mau ke mana, Gie?”, “Apa yang ada di kepalamu sekarang?”
***

16 comments:

  1. Namanya beneran nggak asing mbak. Aku juga suka nandain bahkan nyatetin itu quote2 yg ada di buku yang sedang aku baca. Terus lagi bacanya juga penuh penghayatan, sehingga kadang nggak sekali baca habis. Bahkan ada jga bukuku di tahun kemarin2 yg belum kebaca atau selesai bacanya mbak heheee
    Makasih untuk reviewnya mbak ^_^

    ReplyDelete
  2. Sebegitu terkenalnya tokoh yg satu ini ya. Fenomenal banget. Aku belum pernah baca bukunya, tapi baca blog ini sudah menebak2 begitu lengkapnya cerita ttg beliau sejak masa kecil

    ReplyDelete
  3. Waaah, ini buku keren banget, saya bacanya jaman kuliah dulu. Gara-gara ini jadi nggak takut buat demo. Eh, udah lihat filmnya belom?

    ReplyDelete
  4. Iya, sepakat. Bakalan tanya "mau kemana Gie"
    Gie itu traveler... yang kalau dia hidup di jaman sekarang, akan travel blogger yang followersnya tumpah-tumpah, penasaran dengan langkah kaki Gie

    ReplyDelete
  5. Gie ini yang aktivis yang pernah difilmkan kan ya mbak? Terus terang gk terlalu ngikutin dia tapi kenal namanya aja. Btw emang jasadnya tdk ada krn apa ya? Apa krn Gie ini salah satu korban rezim yg suka menculik org pada masanya itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yang bintangnya NicSap hehe. Oh engga, wah saya lupa melampirkan informasi hehe. Jadi jenazah yg ada di Taman Makam Prasasti sudah dipindahkan semua, kalau untuk Gie sudah dikremasi dan disebar sesuai keinginan beliau. Jadi yang di sana hanya ada nisan saja.

      Delete
  6. Belum pernah baca bukunya Gie tapi sepertinya jika membaca buku ini jadi bisa menyelami pemikiran-pemikirannya, tahu Gie karena ada filmnya yang dibintangi Nicsap ya

    ReplyDelete
  7. Soe Hok Gie ini yang menginspirasi saya menjadi aktivis semasa kuliah dulu. Tulissan -tulisannya; pemikiran -pemikirannya sebagian terpatri di pikiran selain pemikiran - pemikiran Pramoedya.

    ReplyDelete
  8. Mungkin karena yang nulis seorang mahasiswa (yang mungkin juga aktivis kampus - tapi suka demo gak? Hihi..), jadi ngena banget nih tulisannya. Seperti seorang teman sesama pejuang demokrasi atau seorang idealis..
    Yang kutahu Gie ini memang inspiratif banget, ya. Bikin semangat para mahasiswa aktivis kampus untuk terus berjuang menyuarakan aspirasi-aspirasinya :)

    ReplyDelete
  9. dih.... aku dulu punya bukunya. jadi keingetan, dipinjem temenku malah ilang ngga balik balik. sungguh sedih. Tapi dri seorang Gie, banyak sekali inspirasi muncul dan semuanya memberikan "arti" beda bagi masing masing pembacanya

    ReplyDelete
  10. Dulu sewaktu sekolah saya gemar sekali membaca buku-buku dengan genre yang sama. Banyak di Indonesia terdapat sastrawan yang berbakat, hanya saja kita yang malas publikasi. Bolehlah sesekali ada edukasi bagaimana khas nya gaya bahasa dari berbagai generasi sastra.

    ReplyDelete
  11. Kisah Gie ini pernah saya lihat di filmnya, sepertinya memang menginspirasi.
    Kalau bukunya, saya belum pernah baca. Jadi penasaran, deh!

    ReplyDelete
  12. Aku punya bukuny dan ikutin kisahnya, waktu kerusuhan tahun 1998 Gie sempat menjadi inspirasi dan ada ya lagu kesukaan Gie yang dianggap lagu Yahudi. Aku lupa judulnya tapi tentang sapi sapi gitu

    ReplyDelete
  13. Penasaran dengan isi buku lengkapnya tapi kayanya sih udah terkenal banget nih GIE itu

    ReplyDelete
  14. Jadi inget Nicholas saputra, saat brperan sbgi Gie. Bukunya malah aku blm baca, padahal pasti banyak pemikiran2 beliau yang bisa kita ambil

    ReplyDelete
  15. Aku gk ngikutin alur ceritanya, tapi penasaran sama buku nya. Kira-kira di Toko buku masih tersedia gak iya mba, jadi pengen baca segera.

    ReplyDelete