The words. The thoughts. The journal.

July 04, 2019

Bekraf Workshop Writerpreneur Bogor 2019: Menulis, Perjalanan, dan Perenungan Makna



Halooooo guieseee gimana kabar nih?

Masih semangat kagaaa? Ah jangan bosen-bosen nih postingan ke tiga masih tentang Bekraf Writerpreneur. Buat yang belum baca part 1 dan part 2nya boleh langsung klik Menulis, Mengudara, Mengakar dan Berkarya Itu Harus Totalitas

Dari kemarin cuma cerita tentang insight dari para pembicara, sekarang dimulai dari kenalan sama peserta lain dulu deh yuk. Mulai dari kelompok saya, kelompok 6 yang dinamai Gatot Kaca. Isinya beragam seperti yang saya pernah sebut di postingan sebelumnya jadi bukan cuma penulis aja. Ada Kak Veronica Gabriella (penulis Lesap dan creative copyrwriter di Kompas), ada Kak MS Wijaya (ahli bikin puisi dan udah punya buku solo juga, andalan pas editing sama bikin cover buku), Kak Pratami Diah (dokter yang ramah sekali seperti kakak perempuan), Kak Nenny Makmun (bukunya udah banyak nih aktif banget), Kak Gina Maftuhah (jurnalis, ghost writer, dan alumni UNSOED juga nyahaha!) dan Kak Salamun Ali Mafaz (ini lagi di PH—yang kemarin di Dear Nathan). Keren-keren semua nggaaak tuuh? Ah maaf ya kemarin kurang ekspresi sayanya, kepikiran skripsi mulu soalnya. One day, akan menemui kalian kalau yang di sini udah kelar jadi nggak ada beban deeeh.

bekraf writerpreneur


Penulis-penulis keren yang lain yaitu Kak Rurs (anak teknik metalurgi tapi bukunya udah 3), Kak Stella Olivia yang dulunya saya cuma baca namanya di linimasa, Kak Novie Ocktaviane (salah satu penulis buku Bertumbuh), Kak Eka Ardhanie (ah dosen sasing, bisa sekalian sharing-sharing tentang pendidikan), Kak Karina Eka, Kak Riris, Kak Delisa (yang ramah abiiiiis), Kak Nyi Penengah (bloger yang biasanya seliweran di linimasa juga) dan banyaaak lainnya. 

Hari ketiga dooong, masih teringat harus nahan flu dan pegal-pegal, ngantuk tapi antusias buat dapet insight dari pembicara selanjutnya. Sempet kotemplasi juga awalnya meskipun di sini termasuk muda, tapi NOL banget kalau nggak punya karya yang BIG—pengalaman apa adanya. Membuktikan bahwa usia memang bukan jadi penentu, karena percuma saja kalau muda namun belum juga mengakar. 

Jia Effendie: Maju Dengan Literasi Digital

jia effendie

Oke, let’s start sama Jia Effendie, head editor of Storial.co! Nah mungkin kamu sering denger Storial.co ini, atau malah suka publish cerita di sana? Eh malah jadi kaya promosi ini bahasanya nyahaha. Ya karena Kak Jia ini sudah berpengalaman jadi editor dan nulis fiksi juga, doi ngasih kiat-kiat sih biar ceritamu itu banyak pembacanya lewat Storial.co yang bisa dimonetisasi, dicetak, bahkan difilmkan. Hampir sama kaya “wetpet” tapi bikinan Indonesia, online platform yang keren biar bisa unggah cerita sampai jadi buku—nggak jaman dong nunggu kepastian lama dari penerbit. Here it is, banyak penulis hebat lahir dari sini bahkan dimulai dari pemula banget.

Memulai nulis di Storial.co ada langkah-langkahnya nih biar bisa langsung up, dimulai dari Objective Key Result. Kira-kira gambarannya seperti ini nih:


Kemudian mulai susun calon buku, dimulai dari premis (karakter+keinginan+halangan), karakter (karakter harus bertumbuh, adakan konflik batin, hindari membuat tokoh stereotip), dan kalimat pertama yang sakral. Baru kemudian dilanjut dengan menarik perhatian pembaca dari alur ini dimulai dari wonder (buat pembaca penasaran pada tokoh), pivotal moment (momen penting tokoh), specific details (detail visualisasi), & hold the info (sebar info secara petunjuk). Kemudian pentingnya blurb yang jelas dari genre, konflik secara singkat, kemudian pemilihan judul yang mewakili betul buku, baru kemudian ke tahap pembuatan desain sampul.

Cerita udah? Tinggal promosi cerita melalui personal branding di media sosial. Fungsiny yaitu mengenali segmentasi pembaca, membangun komunitas, dan mengemas merek. Engagement dengan pembaca juga penting banget, interaksi gitu. Respon cepat juga jadi nilai tambah, pokoknya libatkan pembaca dalam proses kreatifmu.

Agustinus Wibowo: Travel Notes Jadi Buku Best Seller

Nah lanjut nih ke Agustinus Wibowo, yang sekaligus nantinya jadi juri rancangan buku masing-masing kelompok bersama Kirana Kejora. Sebenarnya, saya awalnya nggak tahu penulis ini, parah nggak nyahaha? Sebelum acara sempet nimbrung ikut-ikutan foto bareng peserta lain, duh anak ini—yang lain pengin ketemu atau ngefans yang ini malah baru tahu. Kemana ajaa? Nah untungnya ada Bekraf ini kan jadi tahu dan jenis bukunya yang lagi sejalur sama saya—buku nonfiksi kreatif. 

Sharing experience dan knowledge oleh Agustinus ini padat, santai, berisi banget tapi nggak terburu-buru. Seneng rasanya, seneng banget berasa ikut ke semua perjalanan-perjalanannya. Saya dibawa ke makna-makna perjalanan olehnya, tentang makna menjadi manusia. Perjalanan tentu saja akan membenturkan kita pada soal makna, namun ketika untuk orang lain: kira-kira makna yang bagaimana dari perjalanan kita? Mengapa sih kita harus menjadi berbeda, dan apa makna berbeda itu?


Pengalaman perjalanannya Agustinus luar biasa, berada di China, di Pakistan yang bukan dalam kurun waktu sebentar, terkena hepatitis, melihat kemanusiaan, melihat banyak kebudayaan dan kebiasaan. Jadilah memang perjalanan bukan hanya soal pergi, namun soal pulang. Pergi untuk melakukan perjalanan di dunia luar, pulang untuk menemui diri sendiri. Bukan hanya lewat tulisan, namun diabadikan melalui foto-makanya sebagai fotografer juga. Menurutnya, foto bukan lagi mewakili 1000 cerita daripada kata-kata, namun lebih dari itu.

Menulis tentang perjalanan, artinya adalah menulis dengan keberanian. Terus belajar karena karya kita adalah kejutan: baik untuk diri sendiri maupun orang lain, banyak menulis, banyak berbagi. Menulis tentang perjalanan juga tentang makna dan perenungan yang kuat, untuk itu juga harus memiliki kemampuan perjalanan yang kuat. Tulisan yang baik hanya berasal dari perjalanan yang baik pula. Agustinus melihat perjalanan dari kaca mata yang berbeda, bukan perjalanan yang menggunakan mata saja namun seluruh tubuh. Maksudnya mah, sekarang banyak yang dinamai perjalanan hanya untuk kebutuhan visual seperti foto. Padahal bisa jadi disrupsi karena tak mengenal tempat itu secara penuh, memorinya belum mengikat. So, saran beliau nih kalau di suatu tempat tanya ke masyarakat asli sekitar.

Seperti yang telah disebutkan tentang nonfiksi kreatif ini, dulunya namanya ternyata jurnalisme sastrawi. Beda dengan fiksi maupun nonfiksi itu sendiri, kalau fiksi itu harus asyik atau menghibur, nonfiksi harus benar, maka nonfiksi kreatif harus asyik dan juga benar. Menulis perjalanan juga perlu keseimbangan antara narasi, deskripsi, dan kotemplasi, serta perlunya membangun konteks dan penalaran.

bogor writerpreneur


Kemarin ada yang nanya juga gimana sih cara bikin tulisan yang bagus, nih dijawab sama Agus. Pertama adalah jangan berhenti sebelum memulai, klasik but yes. Kemudian biarkan dirimu menulis seburuk-buruknya hingga tuntas, semua yang ada di kepala tuangkan saja sampai habis dan jangan pernah nulis sambil ngedit. Beliau di proses kreatif sendiri pernah mengedit sampai 26kali! Fokus revisi pertama juga pada struktur dan alur cerita, barulah tata bahasa dan ejaan. Lanjut lebih ke teknis materi, menurut Agustinus untuk struktur cerita sendiri ditentukan oleh tiga hal yaitu jenis cerita, harapan pembaca, dan pesan yang ingin disampaikan. Khusus untuk jenis nonfiksi kreatif ini juga butuh yang namanya keseimbangan, jangan terlalu “berlemak” ataupun gersang.

Kemudian jangan hanya mengikuti tren, namun ciptakan tren itu sendiri. Banyak mendengar daripada bicara, dan lihatlah dari banyak sisi sekecil apapun itu. Berikan makna bagi pembaca atas perjalananmu tersebut. Travel more, read more, write more. 

Acara pada hari ketiga selesai, malemnya dilanjut pembagian tugas kelompok dan arahan gitu. Ramai tuh pada begadang, ambil video sampai jam 2 malem, bikin premis cerita, dan ada juga yang dilanjut besok paginya meeting sekaligus sarapan sebelum presentasi dan yel-yel. Capek tapi emang seru sih, kaya lagi direvisi secara live sama dosen. Hari keempat atau besoknya presentasi dan penjurian, revisi-revisi gitu, foto-foto, ramah tamah, tuker-tukeran buku, dan selesai. Hari keempat ini nih baru akhirnya sedikit ada jeda buat interaksi bareng peserta lain, foto-foto, dan kangen-kangenan sebelum balik.


bekraf writerpreneur

Oh iya, saya ada beberapa tips sih kalau ada yang lagi ikut acara semacam ginian biar ikutnya totalitas dan maksimal. Yang pertama, bawa perlengkapan dari tempat asal secara matang seperti baju dan perlengkapan pribadi lainnya, kalau saya sih lebih baik bawa lebih dari pada nanti kurang. Nggak papa agak ribet bawanya asal di lokasi jadi nggak banyak khawatir lagi. Kedua, selalu bawa pouch kecil yang isinya obat, sabun cair/hand sanitizer (ini kalo saya wajib sih), dan make up dasar yang buat touch up kaya bedak dan lipen (ini buat perempuan ya hehe). Ketiga, ini nih--biasanya makanan yang disediakan kan banyak apalagi misal di hotel, all you can eat ibaratnya. Jangan makan terlalu banyak, apalagi buat anak kos misal kalau nemu makanan mewah nyahaha. Saran saya, makan yang mengandung protein aja sama serat dalam buah atau sayur-sayuran, yesh tanpa nasi! Walaupun misal jumlahnya lumayan banyak jadi nggak ngantuk--nggak bikin buncit juga. Keempat kalau udah dikelas, keepin' on brainstorming--jangan malah daydreaming, ngantuk, dan tidur. Caranya juga dijaga dengan jangan duduk nyender, tetep fokus. Lupakan dulu pekerjaan-pekerjaan di belakang biar nggak terpecah-pecah. Gitu kira-kira.

Acara selesai Jumat siang kan tuh, langsung ke St. Pasar Senen nyari tiket yang goshow tapi ternyata zonk. Tapi seneng banget karena dari Bogornya nggak harus kejer-kejeran kereta, thanks to Kak Riris sudah menyediakan tumpangan cuma-cuma nyahaha. Sisanya ya, menikmati langit dan suasana Jakarta dan asyik mengenang kelas yang semenyenangkan itu. Eh iya lupa, hari kedua dikasih buku gratis sama Kak Jia buat seluruh peserta. Seneng bener dari Bekraf udah dapet workshop kit dan ilmu, dapet buku gratis juga. 

senjakarta

Panjang banget nih postingan ketiga, berharap emang ketemu peserta kelas lagi nih dalam keadaan udah siap bener. Thankyou yang udah baca sampai akhir dan see you in the next post!

8 comments:

  1. Aduh aku meski bukan anak kos kalo nemu makanan hotel suka kalap. Hahaha..padahal yang penting protein sm sayur buah yak. Seru banget acaranya mbak, aku kayanya gak baca yang kedua

    ReplyDelete
  2. Pesertanya aja udah keren-keren nih, para penulis yang sudah menerbitkan buku, apalagi narasumbernya udah banyak pengalaman, pengen deh bisa ikut acara workshop menulis kayak gini, mungkin nanti setelah anak-anak agak gedean dan bisa ditinggal

    ReplyDelete
  3. betul juga tuh mbak, aku sering pas ada acara di hottel gitu kan amkannya banyak eh....pas masuk kelas lagi laah ngantuk dan ga fokus. Habis gimana makanannya enak-enak, tak kuasa berbi menolak

    ReplyDelete
  4. Agustinus wibowo termasuk penulis favoritku. Trilogy buku travelingnya sering kubaca berulang ulang karena bagus kak. Bahasanya dan gaya penulisannya kusuka banget

    ReplyDelete
  5. Pesertanya keren nih. Aku juga pernah nerbitkan satu cerita di storial.co, cuma karena aksesnya agak susah waktu itu, terutama kalo pake hape. Jadinya, aku hentikan sejenak. Dan, kala itu, aku kehabisan niat untuk menulis novelnya. Sekarang, aku coba kumpulkan semuanya dan lanjutkan lagi.

    Karena, memang benar, semua berawal dari sebuah tulisan acak-acakan yang jelek banget, dan mungkin diedit sedemikian rupa jadi bagus kembali.

    Semangat!

    ReplyDelete
  6. Iya mbak aku setuju banget, jangan takut memulai nulis, gak peduli nanti tulisan kita bakal disukai apa gak. Soal trend kadang aku tu secara gak sadar gtu ngikutin, kyknya emang kudu usaha keras ya berpikir sendiri supaya kita punya buku yang bener2 tulisannya tu otentik gk ikut trend tapi disukai banyak org

    ReplyDelete
  7. Kalimat jangan mengikuti tren sih kalo menurut saya lebih tepat ditujukan untuk influencer, sedangkan bagi yang belum masuk tahap influencer, menciptakan tren akan backlash ke diri sensiri, sehingga target bakal susah dicapai.

    ReplyDelete
  8. Saluutt~
    Aku suka kehilangan arah kalau nulis cerita.
    Sampai tengah-tengah, berasa gak ada masalah yang jeddeerr gittu...

    Semoga abis gini...aku jadi semangat menulis dan menulis, walau masih belum bagus.
    Hehehe...

    ReplyDelete