A lifelong learner's digital journal you will read passionately

October 21, 2019

Menulis: Sebuah Usaha Membunuh Sepi dan Menjaga Akal Waras



Kamu merasa keren banget pas lagi apa kalau boleh tahu?

Halo, apa kabar?

Pertanyaan di atas sempat saya tanyakan melalui insta story, dan beberapa menjawab dengan sangat manis seperti ketika sedang menggambar di kedai kopi, ketika sedang speak up, sedang menyanyi, atau ketika bisa bermanfaat untuk orang lain. Ketika pertanyaan tersebut dibalik pada sang penanya, dengan senang hati akan dijawab dengan MENULIS.

Sekitar semingguan yang lalu, saya kembali menemukan satu hal dalam riwayat kepenulisan. Tapi eh sebelumnya karena menulis di sini sangat luas, saya lebih suka menyebut menulis sebagai aktivitas blogging baik di blog pribadi maupun Medium. Bukan menulis buku, novel, essais, atau kolumnis. Mengapa juga bukan ngeblog saja? Karena ngeblog aja ditanya pasti jenisnya selalu dua, yang personal atau yang memang untuk ternak blog untuk cuan. Jadi, saya kira lebih enak ketika menyebut hal tersebut sebagai menulis yang bernarasi. 

sketch by @rifaldiyusufs

Terhitung sejak 2014 mulai menyeriusi blog, kendati pertama dibuat pada tahun 2011. Banyak hal yang berubah, banya hal yang dialami dan sepertinya beberapa sudah pernah saya tuliskan di blog ini mengenai blogging itu sendiri. Untuk tulisan kali ini akan saya ambil dari sisi menulisnya saja. Jadi, tahun 2019 ini saya aktif sekali menulis dan itu sudah menjelma menjadi suatu kebiasaan. Karena sudah tak ada mata kuliah, dari yang awalnya puas-puasin ngeblog menjadi habit tersendiri. Bisa dikatakan setiap harinya dapat membuat draft. 


Hal di atas bisa saya katakan sebagai previlese, dan itu terjadi secara tak sadar. Dari dulunya untuk satu postingan butuh minimal waktu seminggu untuk sampai publish, sekarang paling 2-3 hari sudah berbentuk postingan plus beberapa draft. Saya jadi ingat perkataan Dee Lesari pada Desember 2018, penulis itu nggak akan kekurangan ide—justru ide-ide tersebut akan mengantri untuk segera dieksekusi. Kala itu saya sempat meragukan, bisa nggak ya seperti dia? Dan sepanjang 2019 ini adalah jawabannya. Hamdallah, ketika nulis kadang 2-3 ikut muncul dan segera saya buatkan kerangkanya biar nggak lupa. Karena sekali kehilangan sense, kamu lupa akan menulis apa. Distraksi yang menyenangkan.

Terlalu asyik menulis sempat membuat saya kaget dengan perubahan di dunia luar, jadi dari yang setiap hari saya kurangi agar bisa social life. Haha, kudu seimbang pokoknya. Dan Oktober ini baru ada 3 tulisan, memang 2 minggu awal saya memutuskan untuk rehat sebentar dari ketak mengetik ini. Tentu saja, dalam waktu tersebut satu lembar kertas sudah penuh akan ide-ide apa saja yang nanti bisa menjadi tulisan di blog ini maupun di akun medium.

Dalam waktu 2 minggu tersebut saya menyadari kalau saya nggak bisa jauh-jauh dari nulis. Karena nulis itu seperti berinteraksi dengan diri sendiri, menyimpan percakapan-percakapan di kepala yang bisa penuh, dan menjaga akal waras. Pantas saja, psikiater juga menyarankan untuk membuat catatan bagi yang memiliki mental health issue—agar percakapan sendiri setidaknya tak memenuhi isi kepala.

Dulu saya juga sempat menulis bahwa blogging itu sebagai salah satu cara relaksasi, ternyata semakin ke sini saya paham bisa untuk self-healing. Makin berumur, kita akan banyak bertemu hal-hal yang kurang menyenangkan dan yang tak masuk akal. Maka menulis, adalah medium untuk menjadi lebih tenang dan menikmati dengan diri sendiri.

Berada di semester akhir juga jadi jarang berkumpul dengan teman-teman, untuk membunuh waktu-waktu sepi tersebut, menulis adalah sebuah obat yang menyenangkan. Kamu setuju? Gaara, dalam karakter Naruto itu pernah bilang bahwa manusia nggak bakal tahan sama kesepian, itu benar dan menulis adalah salah satu membunuh sepi. Buseh Naruto, saya sudah lama sekali tak mengikuti.

Saya juga sudah komit sebelum wisuda jangan ke luar kota kalau sifatnya cuma backpackeran, jadi shifting dari dulunya ikut ke acara-acara ya perlu diganti hal lain. Dengan menulis, kamu bisa rasanya ke mana-mana—tentu saja dengan membaca juga. Juga, membaca tulisan orang lain bisa juga untuk belajar baik dari ilmu maupun pengalaman.

Baca tulisan serupa:
- Catatan di Persimpangan Jalan
- Text, Narration, Stories: Weapon of Digital Storyteller and Blogger
- Bloger di Masa Depan, Menolak Tergilas
- Menjadi Bloger Tangguh: Harus Terus Menerus Belajar!
- Variasi Hidup Mencari Makna dan Selalu Ada Harga Yang Harus Dibayar
- Lika Liku Luka Bloger: Teman Dalam Sebuah Perjalanan
- Vakansi Tidak Menyenangkan dan Betapa Tak Enaknya Menjadi Biasa-Biasa Saja

Dengan menulis, saya percaya hidup tetap akan berjalan baik-baik saja. Thank you for stopping by!

19 comments:

  1. Saya akan merasa keren ketika saya bisa mewujudkan apa yang saya inginkan dari usaha saya tersendiri.

    ReplyDelete
  2. kece, jadi terasa ya kak perjuangannya :)

    ReplyDelete
  3. "Penulis nggak akan kehabisan ide" betul tuh mbak. Saya sampai kewalahan. Di akun blog ada 49 draft, belum lagi ditambah ide-ide yang saya tamun di notes smartphone hehe.

    Kalau saya menulis memang karena ingin menumpahkan isi pikiran. Bila ada isu-isu kekinian, saya ingin juga speak up lewat tulisan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi ayo kak draftnya diselesaikan! Menyenangkan kan ya menulis itu :3

      Delete
  4. Wah masih rajin nulis nih, aku jadi kepingin nulis lagi, terakhir ngeblog ketika LBI 2016 :)

    ReplyDelete
  5. Menulis memang asyik dan menyenangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyik dan menyenangkannya gimana nih?

      Delete
  6. Wah keren sih ini mah..
    Aku baru mulai rajin nulis lagi sejak 2019 kak,, itu juga masih sering ilangan haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan lupa untuk keep drafting aja sih kak hehe :)

      Delete
  7. Wah tulisannya indah tentang persepktif menulis. Aku juga pernah membuat sebuah tulisan di blog yang judulnya menulis memberikan kebahagiaan dan membawa kebahagiaan (kalau tidak salah ingat). Dan aku sependapat kalau menulis tuh serasa 'terapi' untuk diri sendiri. Selain itu juga kadang kalau lagi di masa-masa sulit terus baca tulisan-tulisan lama malahan memantik semangat lagi.
    Aku juga tidak seproduktif dulu, tapi emang selalu berusaha untuk menulis walau seringnya mentok di nulis status aja sih hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah aku mau baca perpektifnya juga kak hehe. Gapapa nanti kumpulin jadi postingan yaa :)

      Delete
  8. Aku merasakan hal yang sama mbak, hehe. Sebagai introvert aku susah cari teman, dan ketika teman-teman lama nggak lagi didekat kita tu rasanya sepi.. banget. Akhirnya nulis, nulis dan nulis. Sekalian juga sekarang bisa diduitin meskipun nggak naik cetak di penerbit, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga selalu bisa menulis ya kak hihi

      Delete
  9. Menulis adalah candu ,menulis adalah terapi , ya! Mnulis adalah suatu hal yang menyenangkan y mbak . Btuk bvt kata mbak. Manusia gxda yg suka sepi. Dan menulis adalah salah satu cara membunuh sepi .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, namun tetap berusaha untuk punya kehidupan sosial

      Delete
  10. aku kalo liat orang yang dah konsisten buat nulis tuh rasanya kayak keren banget. Aku juga nulis, tapi memang belum bisa konsisten buat publish brp artikel seminggu. kadang ngikutin deadline aja. kalo lagi sempet ya nulis.
    sebenernya di kepala tu banyak banget idenya, kalo lagi jalan kadang tiba-tiba pengen nulis ini itu, tapi pada akhirnya ya gak semua terealisasi dalam bentuk tulisan.
    Kadang pas mau mulai nulis, ada aja halangannya, entah itu mager, males, stress karna deadline lain dah numpuk, juga karna banyak kerjaan lain yang gak bisa ditinggalin.
    aku baca cerita kakak jadi terpacu buat konsisten n rutin nulis lagi, tapi kira-kira mulai dari mana dulu ya? masih bingung cara bagi waktunya juga antara nulis sama kerjaan lain.

    ReplyDelete
  11. awal kenal blog pas 2009-2010an. Mulai coba bikin blog dari ecek-ecek sampe berakhir di tld. Menulis blog itu refreshing banget menurutku. Kita bisa berbagi banyak hal untuk orang lain dengan cara, pemikiran dan kreatifivitas kita.

    ReplyDelete
  12. Beda-beda tiap orang sih. Aku akan merasa keren ketika bisa menulis yang bermanfaat entah untuk sekarang atau kedepan sih. masih belajar juga soalnya wkwk

    ReplyDelete