Vokasi Berdaya Saing dan Berkarakter Menuju SDM Unggul

Pernah bersekolah di SMK menjadi salah satu momen yang saya selalu ingat dalam hidup, namun lucunya dulu saya justru tak menikmati karena merasa salah jurusan atas sekolah pilihan orang tua. Namanya juga salah jurusan atau tidak passion, jadinya saya harus merasa dua kali belajar namun tetap saja hasilnya nggak memuaskan. Dari perjalanan tersebut, justru sekarang sangat bersyukur karena pernah diberi kesempatan bersekolah kejuruan dan belajar resiliensi sejak remaja.

Sekolah SMK atau vokasi ini sesungguhnya menyenangkan karena menjadi lebih banyak belajar dan mendapat keterampilan sejak usia muda. Namun ketika melihat realita, SMK masih kalah favorit dan itu juga mindset saya dahulu yang hanya fokus pada nilai.

Seperti yang kita tahu, visi Presiden tahun 2019-2024 ini adalah membangun SDM Unggul. Jika kita melihat saat ini industri sudah bergeser ke wirausaha kreatif dan juga digital, terbukti dengan menjamurnya startup. Untuk menjadi wirausaha atau pemilik UMKM, individu yang diperlukan adalah pribadi yang tekun, gigih, resilien, dan juga suka tantangan serta berinovasi. Lulusan vokasi yang dimulai dari SMK ini bisa menjadi harapan dan potensi akan munculnya bibit-bibit unggul dan berdaya saing.

Link and Match antara Kebutuhan Industri & Lulusan Vokasi, dari Kurikulum Inovatif sampai Pentingnya Sertifikasi Kompetensi

 

Dalam salah satu webinar Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 yang diadakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan judul Tetap Produktif di Masa Penuh Tantangan, Vokasi Kuat Menguatkan Indonesia, saya belajar kembali dan mendapatkan insight baru seputar vokasi ini. Sekaligus mengingatkan masa-masa SMK, webinar ini menghadirkan Pak Cone Kustarto Arifin (Kepala SMKN 8 Malang, Jatim) yang memaparkan kegiatan adaptif dan tetap produktif SMKN 8 Malang saat pandemi dengan berkreasi membuat karya yang memiliki nilai dan bermanfaat.

Diikuti oleh Pak Wikan Sakarinto (Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud RI) yang memberikan insight bahwa SMK ini bukan hanya mempelajari dan kompeten dalam soft skill dan hard skill saja namun juga harus memiliki karakter seperti kejujuran, moral, dan integritas. Jadi diharapkan lulusan bukan hanya mengandalkan ijazah, namun juga dapat menjawab apa saja keterampilan yang dimiliki.

Masih berkaitan dengan yang dipaparkan Pak Wikan, perihal kompetensi juga dibahas oleh Pak Bonardo Aldo Tobing (Anggota Komisioner Badan Nasional Sertifikasi Profesi) bahwa untuk dapat link and match antara industri dan SMK, perlu sekali untuk memiliki sertifikat kompetensi baik tenaga kependidikan SMK dan calon lulusan. Guna sertifikat ini bukan untuk formalitas, namun untuk benar-benar mendapatkan SDM yang berdaya saing dan unggul. Bahkan menurut Pak Bonardo, sertifikat ini juga bisa menjadi personal branding.

Lulusan Vokasi: SDM Kompetitif dan Berkarakter untuk Masa Depan yang Optimis

Lulusan SMK ini juga dapat melanjutkan dalam tiga opsi, yaitu bekerja dan memiliki jenjang karir, melanjutkan kuliah terapan atau umum, dan yang terakhir yaitu berwirausaha. Dari proses kurikulum yang inovatif dan berkaitan serta saling mempengaruhi ini, maka indikator lulusan dari SMK diharapkan selain akan mendapatkan SDM yang berdaya saing juga produktivitas industri akan naik pesat. Tak lupa juga, bukan hanya imbang dalam soft/hardskill namun juga memiliki nilai atau berkarakter.

***

Gambar diambil dari:
Webinar Tetap Produktif di Masa Penuh Tantangan, Vokasi Kuat Menguatkan Indonesia

Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

No comments

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :) (p.s: Sorry, a comment with an active url will be deleted)