The words. The thoughts. The journal.

December 31, 2016

Menjadi Manusia Yang Dibenci



                Mungkin, postingan ini akan menjadi terusan postingan Hanya Tuhan Yang Boleh Menilai? Di film The Fault In Our Star, ada bagian Gus mengungkapkan beberapa patah kata dalam eulogynya untuk Hazel, yang berbunyi: “See, the thing is... we all wanna be remembered. But Hazel's different. Hazel knows the truth. She didn't want a million admirers, she just wanted one. And she got it.” - well so do I, so do I! Then, sekalipun Hazel jadi manusia biasa yang ingin disukai banyak orang, pasti dia juga tetep ada yang nyinyirin, baiklah, mari bercerita. 


                Jadi, tiga semester selama proses kuliah di jurusan Sastra Inggris, saya juga merasakan betapa sukanya saya terhadap Sastra Indonesia, juga beberapa filosofi-filosofi Jawa yang luar biasa indah seperti sangkan paraning dumadi, nglurug tanpa bala, dan menang tanpa ngasorake. Ya karena dari kecil saya memijak tanah Jawa, Indonesia, sudah pasti perlahan timbul rasa kebanggan seperti manusia-manusia lainnya, semoga. 

                Semakin ke sini juga semakin mengenal diri sendiri, terus self improvement jadi lebih baik, jadi lebih bahagia, bisa memprioritaskan apa yang lebih baik termasuk berani mengucapkan tidak. Mungkin dalam proses-proses ini juga bakal yang terpengaruh dan nggak suka, dan itu nggak apa-apa. Karena mereka nggak tahu, proses apa saja yang telah dilalui. Never say sorry for bettering yourself, you’d better dealing with yourself. Karena menjadi bahagia adalah hak semua orang.


                Jika ditanya apa resolusi 2017 saya, saya ingin hidup bahagia, seperti yang saya lakukan sekarang dan semoga seterusnya. Bahagia yang benar-benar bahagia, bahagia karena mensyukuri apa yang ada, bahagia karena hidup, bahagia karena diri sendiri. Karena dengan bahagia, tubuh akan sehat, dan itu memengaruhi kegiatan sehari-hari baik duniawi maupun spiritual. Jika belum bisa memberi dampak positive vibe, minimal saya bahagia dengan diri sendiri. 

                Selain itu, semakin mengenal diri sendiri karena melihat sekitar, saya juga belajar untuk tak memandang sesuatu hanya dari satu sisi. Memandang dari banyak sisi membuatmu mengerti, membuatmu paham, juga tak mudah menjadi pembenci. Ketahuilah, jadi pembenci hanya rugi untuk diri sendiri. Sungguh, bagi saya tak apa-apa menjadi manusia yang dibenci karena dirinya sendiri, apalagi dalam proses yang lebih baik untuk dirinya sendiri. Karena memang, tak akan tahu jika tak bertanya. Sungguh, melalui postingan terakhir di tahun 2016 ini, saya ingin dan memang sangat perlu untuk lebih banyak berjalan, lebih banyak berkunjung, kemanapun. Mungkin saja, menelanjangi dulu background saya, dalam menemukan diri saya sendiri.

Aduh, postingan yang lumayan njlimet ya. Selamat menyambut 2017, semuanya!
 ***
December 19, 2016

Pencarian Tak Berujung

Surti kembali menapaki jalan beraspal tempat dia melangkahkan kedua kakinya setiap hari. Jalan bisu yang menjadi saksi atas pencarian tujuan hidupnya selama ini. Wajah kusut yang setia menemaninya berubah ekspresi ketika dia menemukan lubang ke dua di jalan itu.

“Perasaan kemarin cuma satu lubang, deh.”

Surti berbicara entah pada siapa, dan tak ada yang menyahut. Kemudian setelah sadar bahwa lubang ke dua itu seperti sengaja dibuat, serta merta pandangan Surti beralih ke sebuah lapak. Tampaknya juga baru dibangun.

“Lha, apa maning iki? Jajalen ah!”

Surti lalu membuka tirai berwarna ungu dan memasuki lapak itu, yang ternyata jasa ramal-meramal. Surti langsung menyodorkan tangannya ke wanita muda dengan wajah beriaskan nuansa gothic di depannya.

“Kamu itu, kebanyakan mikir, kebanyakan melihat tanpa tindakan, kebanyakan beban. Bisa mati muda sia-sia kamu! Lihat isi kepalamu.” Lalu sang peramal menunjukan sebuah cemin kepada Surti.

Surti tak melihat apa-apa, selain mungkin kondisi wajahnya yang kurang pupur dan gincu. Tak puas, kemudian Surti pergi keluar dari sana. Menapaki jalan lagi.

“Wuasem, kirain mau memperlihatkan semacam dogma-dogma dan filosofi yang ku makan selama ini. Mbok takutnya ada yang oleng atau gimana gitu lho. Siapa tahu jadi jebol!Surti menggerutu.

Setelah beberapa langkah, kemudian Surti, di sanalah ia, berdiri di atas kubangan air dalam lubang kedua. Pantulan bayangannya tersenyum.

Menemukan dirinya.
December 15, 2016

Ngopi Dulu

What you have done in the third semester?

The decisions-making



Yas, saya pernah membaca artikel milik Kak Ajen, dan juga status Facebook milik Kak Andre. Kak Ajen menuliskan tentang apa saja yang perlu dimiliki di usia 26 tahun dan saya menyukai beberapa poin dalam postingan Kak Ajen seperti: kebiasaan mengucap syukur pada hal-hal kecil, berdoa setiap hari pada Tuhan, sebuah keberanian untuk mengatakan tidak, hobi yang dijalani dengan bahagia, rasa maaf pada masa lalu dan kegagalan dan menjaga hubungan yang sehat dengan tubuh sendiri.

Sementara Kak Andre, membahas tentang keberanian mengambil resign pada usia muda yang tak terlalu suka dengan kontrak dalam artikel yang dishare di Advice 30 years old me to 20 years old me. Saya juga melakukan hal serupa dengan Kak Andre, resign dari part time job. Alasannya sama, ingin memfokuskan ke pengembangan diri sendiri. Karena saya percaya juga, rezeki akan datang dari mana saja. 

Sementara saya? Semester ini lebih ke kamu ambil apa aja dan apa aja yang kamu tidak ambil. Sama. Well some people said that.... kamu harus berani mengambil hal baru dalam hidup, tapi apakah pernah untuk berani tidak mengambil beberapa keputusan? Memang, masing-masing manusia itu unik. Ada yang bisa fokus ke segala hal, sementara saya setelah mengenal diri sendiri, hanya dapat fokus ke tujuan yang benar-benar saya geluti. Ketika mendapatkan banyak pekerjaan dalam satu waktu, justru stres. Stres artinya nggak bahagia, nggak sehat, muka kusut, cemberutan. Saya nggak mau hanya dengan apa yang saya lakukan, akan berdampak pada quality time yang tidak saja nikmati bersama orang-orang terdekat.

Bukan hanya resign, saya juga beberapa kali tak mengikuti kepanitiaan dan lomba-lomba yang sebenarnya banyak membawa manfaat. Dan it’s okay. Saya nggak menyesal, bahkan beberapa kali merasa lebih baik. Sangat lebih baik, dan bahagia.

Saya jadi ingat teori connecting the dots milik Steve Jobs, loncat dari satu tempat ke tempat lain justru yang saya lakukan. Beberapa orang mungkin memandang seperti tanpa arah, tanpa kejelasan. Namun justru ketidakjelasan inilah yang membuat saya hidup, penasaran hal satu dengan hal yang lainnya. Sungguh, kadang nggak jelas aja rasanya datar dan gampang bosen. Apalagi kalo jelas? Begitu kata manusia bernama Marfa, cukup aneh untuk diri sendiri. Sedang memerankan sosok pengembara, penonton dan menikmatinya. Ah, selain keberanian dengan tegas mengambil atau tidak mengambil sesuatu dalam diri saya, selain itu apa yang saya banggakan?

Ah, terlalu banyak alasan.

Hanya opini, dari manusia yang terus berusaha mengembangkan dirinya, mencari pengalaman sebanyak-banyaknya.


Purwokerto, 15 Desember 2016.
December 10, 2016

Paket Baru, Relasi Baru



                “Sekarang udah nggak ada Bapak Je En E yang sampe hafal ke rumah ya... ”
                “Kan alamatnya udah saya pindah ke asrama Bu, jadi ya jarang ke rumah”
                “Sama bapak itu juga?”
                “Wah beda, Bu. Hehe”

Begitulah  percakapan di suatu hari saat saya pulang ke rumah. Yap, mengenal online shop tiga tahun yang lalu membuat saya dan jasa pengiriman barang nggak bisa dipisahkan. Saya masih ingat barang online pertama yang saya beli adalah Majalah yang berisikan tentang Harry Potter, pada saat itu, plastik yang melindungi paket saya tertera JNE: Express Across Nations. Sejak saat itu, saya sangat menyukai kedatangan sebuah paket. Rasanya seperti menerima kado dari bagian Indonesia di sana, walaupun sudah tahu isinya, yang dibungkus dengan kertas coklat, kadang disertai bubble wrap, atau overdosis isolasi. Bisa dibilang hobi saya tak bisa pisahkan jauh-jauh dari JNE Express.
December 08, 2016

Rekomendasi Template PowerPoint Unik dan Gratis

Saya suka berandai-andai, bagaimana jika suatu hari saya terkenal, menjadi pembicara di berbagai seminar dan membuat yang membenci saya makin benci. Hehehe.  Menjadi manusia yang berandai-andai lebih baik daripada berhari-hari uring-uringan, ngeluh, bawaanya pengin moksa, sayangnya penuh dosa. Mana mungkin lolos moksa tanpa disiksa dulu, duh, susah-susah. Kok jadi ribet ya? Nah ngomongin pembicara jadi inget sama presentator yang udah kita kenal dari jaman SD sampai kuliah. Apalagi kuliah, hampir tiap hari ada aja tugas presentasi. Saking seringnya, desain PowerPoint tentunya berpengaruh, jadi bukan hanya tentang materi aja yang disampein. Akan lebih menarik jika PowerPoint memiliki template yang bagus, jadi minimal kita dapat perhatian. Yah, nggak enak emang kalo dicuekin.
December 06, 2016

Reviewer Terfavorit Haru Grup Awards 2016


Hai selamat Desember! Nggak kerasa udah akhir tahun aja, daripada stres mikirin apa aja yang udah dilakuin selama setahun ini lebih baik memaksimalkan waktu di Desember ini, bener nggak?
December 04, 2016

Menit-Menit Kritis Dalam Critical Eleven [RESENSI]



Judul Buku : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamaora
Jumlah Halaman : 344 hlm (softcover)
Genre : Nonfiksi, Romance - MetroPop
ISBN : 978-602-03-1892-9
Tahun terbit : 2015, Agustus
Harga : Rp 79.000,00
Sinopsis : 

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.
***