A lifelong learner's digital journal you will read passionately

November 21, 2017

Sudut-Sudut Ruang


Jumat 10 November kemarin saya pulang, padahal sekali lagi jarak hanya memang sekitar 16 kilometer saja. Jarak yang cukup dekat untuk pulang pergi namun saya memilih untuk menghuni asrama mahasiswi universitas. Ada alasan tersendiri tentunya, selain ingin menghemat waktu, juga karena konektivitas internet yang lebih baik dan ingin berkegiatan organisasi yang kadang hanya sempat dilakukan malam hari. Terdengar produktif ya? Padahal kadang mager-mageran di kamar tuh? Hahaha ya ampun. Juga, kami hanya punya satu motor buat kerja bapak. Masa ya tega minta beli motor baru yang lunasnya entah kapan meskipun mungkin orang tua sebisa mungkin akan berusaha. Saya rasa pilihan saya sudah tepat, mengingat masih bukan apa-apa, kan?

Baiklah, kembali ke kepulangan ini. Kembali menempati kamar yang sama, ruang yang sama. Sudah dua tahun saya kuliah. Mungkin bagi orang lain biasa saja, namun bagi saya adalah suatu pencapaian besar mengingat dulu saya mau langsung kerja sebagai lulusan SMK. Iya saya kuliah di sini aja udah bahagia banget, nggak nyangka aja. Saya mah gampang bahagia, dan dulu sudah juga ngebayangin kerja di mana, gajinya berapa, dan lain-lain. Namun di suatu ketika tiba-tiba saya merasa kurang ilmu, dan langsung berubah jalur menjadi ingin kuliah dan mengejar beasiswa. Ah kalau cerita ini bakal panjang, bisa dibaca di Antara Mimpi dan Kebahagiaan, Pembelajaran, dan Saya Di Sini.



Melihat dinding-dinding kamar yang berbahan bata, tempelan-tempelan gambar random, dan tulisan yang ternyata sudah lama sekali tak saya atur ulang, ada perasaan yang timbul setelahnya. Betapa saya sejauh ini berasal dari kamar ini juga, termasuk blog ini. Kamar ini juga salah satu bagian dari kisah-kisah rumah ini, perjalanan dari yang awalnya dari dua insan manusia. Dulu ketika saya berangkat, saya sempat khawatir kamar saya akan berhantu karena tak ditempati. Sebuah pemikiran yang konyol, untung saja mama sering menggunakannya—sebagai gudang. Bapak saya juga suka menggantung pakaiannya di sana, adik saya lebih suka menggunakan baju-baju saya, sisanya terkadang kucing yang tidur-tiduran.


Saya menyadari satu hal, selama dua tahun ini jarang sekali mendekor ulang kamar. Pulang hanya untuk main dengan teman lama, nyobain tempat makan, dan kamar hanya sebatas ruangan untuk tidur. Terlalu sibuk memerhatikan perubahan dunia luar tanpa memerhatikan ruangan sendiri. Pada Sabtu saya membongkar isi lemari berantakan, kemudian menyadari bahwa saya seakan membawa seluruh dunia saya ke ruangan yang baru, yang lebih terang untuk mengejar mimpi dengan ingin mandiri juga. Ya, sekilas seperti 9 Summers 10 Autunm, tak ada yang salah menjadi ambisius namun jangan pernah melupakan latar belakang sebagai pengingat. Sebagai arah ke mana kamu harus pulang jika hal yang buruk terjadi. Perjalanan masih panjang, entah nanti akan kembali menempati kamar ini, atau justru meninggalkannya lebih jauh. Dan, saya tak sabar menanti liburan semester untuk mendekor ulang kamar. Ah, selesaikan dulu kencan dengan tugas-tugas ini, nyahaha.

No comments:

Post a Comment