A thoughts journal by Marfa

March 29, 2018

Drama Mama Papa Muda: Menikah Muda Tak Pernah Merampas Apapun dari Saya

Jangan ketipu sama judul ya, ini bukan buku ajakan buat nikah muda ala-ala itu kok. Nyahaha, eh ini pembukaannya harus gini banget ya? Skip.

Siapa yang nggak tahu sama Pungky Prayitno, bloger dan mama muda kondang itu. Baru-baru ini dia dan suaminya menelurkan buku dengan judul Drama Mama Papa Muda. Yay, untuk Mbak Pungky selamat atas buku keduanya. Ya, sebagai pengikutnya yang tinggal satu daerah bahkan satu almamater (oke ini nggak penting banget ya) maka saya harus punya bukunya, apapun caranya, kalo bisa sih gratis. Nyahaha biar apa? Biar bisa ketularan ada penerbit khilaf yang main-main di Kolase Konstelasi juga seperti sebelumnya Agus Mulyadi dan Gita Savitri. Dan Gusti mengabulkannya langsung lewat menang giveaway pertama, bahagia bener dong. Alhamdulillah rencana ngeloyor ke kafe Singgah buat baca ini doang akhirnya kandas, dan berikut detail bukunya.

March 28, 2018

Hidup, Mimpi, dan Perencanaan

Dalam salah satu buku karya Adhitya Mulya, dikatakan bahwa sebaik-baiknya hidup adalah hidup yang mempunyai rencana. Iya sih, selama ini saya lebih ke hidup tanpa banyak rencana, lebih membiarkan kuasa Tuhan dengan berbagai “kejutan”, namun tetap melakukan segala sesuatu dengan bahagia dan semaksimal mungkin. Tentu saja ada alasan di balik itu, seperti hidup yang tak hanya sekedar hidup dengan memenuhi target saja, atau hidup dalam standar orang-orang. Tapi, mau nggak mau kita hidup memang harus face and deal with the reality kan? Hidup boleh saja bebas, namun kebebasan sendiri bagi saya adalah bebas dan memiliki kontrol. Seperti sebelum usia 40, ada beberapa mimpi sederhana yang benar-benar ingin saya lakukan, terutama untuk hidup yang berkepanjangan dan membawa manfaat bagi orang lain. Seperti:

Turut Serta “Membangun” Rumah 
March 27, 2018

Media, Budaya Konsumtif, dan Melatih Nol Sampah dari Pikiran

Halo, apa kabar?

Berawal dari mata kuliah literary criticism dengan tema ecocriticism di mana adanya hubungan fenomena alam dengan sastra, kemudian membaca tokoh perempuan dengan gaya hidup zero wastenya tiba-tiba saja mikir. Memikirkan hal yang juga harus dibagikan lebih luas, dan tak hanya sekadar artikel selesai dibaca dan sudah. Ditambah lagi lagu dari Rara Sekar dengan judul Apati menambah bertanya-tanya:

“Apakah kita terlalu sibuk memikirkan perkara antar manusia sehingga lupa akan lingkungan, akan alam. Yang telah memberi kita segalanya, dan tanpa membayar.”

Pun saya senang juga dengan pesatnya media informasi seperti sekarang, bukan hanya manusia saja yang jadi punya kesempatan hidup lebih lama dengan saling membantu, namun juga hewan-hewan. Nggak jarang saya lihat open donation untuk berobat kucing atau anjing. Dari situ juga membuat pandangan tenteram, indah sekali ya kalau bersahabat antar makhluk hidup begini.
March 21, 2018

Bagaimana Sling Bag Lokal Tetap Eksis di Tengah Maraknya Produk Imitasi

Hola!

Siapa yang demen pakai sling bag? Udah tau kan model sling bag ini udah jadi item fashion yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan dari zaman prasejarah untuk membawa batu atau potongan kayu loh, namun bentuk tas masih sangat sederhana. Bahannya pun terbatas pada bahan kayu atau kulit. Dalam perkembangannya, orang-orang China sendiri di masa Dinasti Tang sudah mengenal paperbag untuk menyimpan teh atau obat-obatan herbal.


Sejarah tas wanita (termasuk sling bag) yang belum banyak diketahui warganet


Pada abad ke 14 mulailah muncul model tas yang lebih modern dengan bahan kain, vinyl, dan juga kulit sintetis. The Seal Bag mulai populer di abad ke 15, karena dirasa kurang praktis, diciptakanlah handbag berukuran besar di abad berikutnya. Handbag tersebut berbahan kulit dan sudah dilengkapi kancing pengikat.

Dari mulai abad ke 17 hingga sekarang, perkembangan tas semakin pesat. Bahan dan modelnya mulai semakin beragam dari hand bag, sling bag sampai clutch bag. Setelahnya bermunculan merek-merek terkenal seperti LV, Hermes, Chanel pada tahun 1950.
March 20, 2018

Menjelajahi Keramahan Semarang dan Alasan Memilih Airy Sebagai Partner Perjalanan


Halo, apa kabar?

Ada banyak hal yang saya sukai dari Semarang dari perjalanan tiga hari dua malam kemarin, malah lebih tepatnya: jatuh cinta. Mulai dari bebas dan nikmatnya berjalan kaki di trotoar, orang-orang yang ramah, hingga aneka tempat bersejarah yang sayang sekali untuk dilewatkan. Begitu banyak yang ingin dijelajahi di Semarang membuat saya tak hanya butuh prima yang kuat, namun juga penginapan yang tepat untuk beristirahat. Nyari penginapan budget backpacker yang tepat untuk menemani perjalanan tentu saja banyak pertimbangan, dan pilihan saya jatuh ke hotel Airy Rooms.


Begitu sampai di Stasiun Semarang Poncol setelah lima jam di kereta, saya langsung mencoba makanan khas Semarang yaitu lunpia. Ternyata lunpia Semarang dan daerah saya berbeda, kalau Semarang itu rasanya dominan manis karena dari rebung, kalau di sini isinya telor dan sayuran hampir mirip dengan martabak asin. Baiklah, satu keinginan telah tercoret!

Semarang dan Surga Kecil di Dalamnya

Semarang menjadi salah satu tujuan kuliah semasa pengangguran pasca UN, dan tentu saja pernah menjadi keinginan bahwa suatu saat dapat ngekos di sini. Saya kira juga Semarang itu panas, macet, dan sedikit sesak. Namun ternyata saya salah besar, nggak salah dulu memasukan dalam pilihan kuliah walau akhirnya tetap yang deket-deket aja alias Purwokerto.


Tiga hari yang lalu saya solo traveling ke Semarang, hanya dipersiapkan dalam satu minggu dan bisa dibilang mendadak. Berawal dari dapat vocer menginap, dan hari Jumat kebetulan nggak ada deadline tugas jadilah berangkat. Awalnya sih drama dulu karena pas Rabu udah pilek tapi untungnya nggak demam, dan Kamis masih belum pesen tiket segala rupa nyahaha. Bisa ditebak jadinya tiket kereta dapet yang lebih mahal, ginilah sekali lagi kalau jadi sok-sokan productive procrastinator. Biasa lah jomblo kaga ada yang ngingetin. Pas berangkat juga drama karena delapan menit lagi hampir ketinggalan kereta, maklum jam lima pagi di sini ojol belum aktif. Tapi daripada udah ada niatan, ada kesempatan karena nggak tahu besok-besok masih bisa atau engga, dan udah terlanjur nggak ikut penelitian dosen—akhirnya berangkatlah dengan harapan dan doa semoga baik-baik saja.

Dan ternyata, langkah pilihan menuju Ibukota Jawa Tengah ini begitu direstui semesta. Berada di bawah langit Semarang dan seketika jatuh cinta, karena inilah surga-surga kecil di dalamnya.
March 14, 2018

Grand Story Magazine 17: Tolerance and Acceptance

Semakin berumur manusia, semakinlah dia kehilangan diri sendiri. Kadang suka mikir gitu nggak? Kalo iya, mungkin saja kita sependapat. Seiring dengan lingkungan yang dia temui, beberapa pemikiran dan tindakannya bisa pasti berubah. Kadang dia berpikir mungkin itu adalah bentuk menuju perkembangan, namun ada kalanya dia berada di titik: "Apakah selama ini apa yang saya lakukan benar?" Dan hal ini juga pernah terjadi oleh saya sendiri.



Isu ini juga yang diangkat dalam Grand Story Magazine Issue 17: Tolerance and Acceptance yang sebenernya sudah terbit Desember 2017 lalu dan baru kebeli bulan Januari kemarin serta baru dibaca sekarang. Sudah tahu kan kalau Grand Story ini majalah yang temanya selalu menarik, cocok banget buat dibaca yang berjiwa muda. Well, this isn’t a paid review, ya! Buat informasi aja harga majalah ini murah, hanya 35rb. Mereka juga sering ngadain diskon atau paket bundle gitu kok jadi lebih murah, dan bacaan kita jadi berwarna juga.
March 13, 2018

The Productive Procrastinator

Masuk semester baru artinya tugas-tugas baru dan tanggung jawab baru, apalagi menuju tahun akhir. Ya, sampai juga di titik ini padahal masih berjiwa mahasiswa baru tanpa sadar sudah mempunyai dua periode adik tingkat. KRSan terasa sengaja dilambat-lambatkan karena merasa liburan masih kurang dan juga denial untuk menyambut semester baru, tapi toh akhirnya dilakukan juga. Nikmati, nikmati, syukuri adalah sugesti ajaib buat menjauhkan dari kemalasan. Siap.

Minggu pertama udah ada tugas dan ternyata kebiasaan buruk menunda-nunda jadi terbawa sampai sekarang. Diawali dengan tugas hanya disuruh membaca contoh skripsi, nunda-nundanya keterlaluan sampai semacam tiba-tiba punya pobhia terhadap mantan file yang kemudian dijauhi. Eh tapi produktif juga sih, nundanya soalnya dengan ngeberesin blog dengan total, ngeberesin kamar kos, dan juga beberapa kali jadi punya ide postingan. Nyahaha, bahkan rasanya nggak pernah sedetail ini ngurusin blog.

Tugasnya apa, yang dikerjain apa

Jadi beginilah, hidup seorang penunda yang produktif! Nggak baik juga sih sebenernya karena pasti hasilnya bakal tetep aja kurang kalau dikerjakan udah deket tenggat waktu. Rasanya juga jadi lari-larian mengejar waktu. Gara-gara ini juga kemarin jadi eksperimen enaknya gimana buat ngatur waktu lagi sebaik-baiknya dan lumayan ada perubahan. Mungkin tips di bawah ini akan berbeda hasilnya atau bahkan nggak mempan sih, karena yang tahu kan diri sendiri, tapi nggak ada salahnya buat berbagi.
March 02, 2018

Tips Optimasi Blog Personal

Holaaaaaaa!

Baiklah, mungkin postingan tips optimasi blog ala-ala ini agak dramatis. Jadi saya sempat punya keinginan besar suatu hari nemu orang yang sedang baca blog saya, atau punya pembaca setia dari awal sampai akhir yang selalu baca blog, atau berlangganan gitu. Tapi nyatanya zonk, nyahahahaha. 

Ayo dong ketawa.

Pun kemarin liburan saya ngerombak blog lagi padahal nggak ada niat sebelumnya. Emang rasanya udah gerah banget pakai template lama dan pengin ganti dari lama tapi belum ada yang cocok kaya jodoh. Sekali ada, eh berbayar dan harus pakai paypal karena buatan luar negeri sedangkan saya nggak punya dan akhirnya menyerah saja. Terus keinget kalau Mbak Wulan bisa kustom template yang responsif, ringan, tapi temanya tetep bisa hangat ala-ala blog personal jadi tampilannya nggak SEO-SEO kaku. Terus dilanjutin sendiri deh ngedit-edit htmlnya. Nah dari sinilah cerita dimulai. Bikin poin per poin ya biar sekalian jelas.
March 01, 2018

Another Spot to Visit in Purwokerto: The Village



Hola people! Apa kabar?

Kali ini saya mau nunjukin satu tempat baru yang menarik untuk dikunjungi di Purwokerto. Memang, makin ke sini Purwokerto rasanya makin rame, jadi ala-ala kota kecil gitu sih. Maklum sih jadi ramai soalnya dapet pengaruh juga dari penduduk luar karena adanya beberapa universitas di sini. Semoga ke depannya nggak semrawut dan nggak bikin panas juga. 

Eh sebelumnya, udah ada yang pernah ke Purwokerto? Mungkin yang terlintas pertama kali di tanah ngapak ini kalau nggak makanan khas mendoan pasti tempat wisata Baturraden kan? Nah, bagi yang ingin berkunjung ke area Kab. Banyumas tepatnya di Purwokerto ini udah nggak bingung-bingung lagi mau ke mana, selain Lokawisata Baturraden dan curug-curug, sudah ada tempat wisata yang mudah dijangkau seperti Small World (miniatur bangunan dunia, serasa ke luar negeri) dan yang baru-baru ini yaitu The Village.