The words. The thoughts. The journal.

July 19, 2018

Bertanggungjawab Atas Dirimu Sendiri

Nemu catatan ini di draft, tanggal 22 Oktober 2017. Mari sedikit hitung mundur, semoga tak bosan membaca walau tanpa gambar. Kalau mau lihat gambar-gambar ikuti saja Instagram @madrfau. Hehe.

Tak perlu membawa-bawa nama kematian yang misterius, bagi saya hidup sendiri sudah misteri dan susah diterka. Tak perlu menunggu berganti hari, detik saja sudah dengan cepat berubah. Mungkin saja detik ini kita merasa seperti sedang diberkati seutuhnya oleh semesta, namun dua jam lagi mungkin saja citra kita akan berubah menjadi buruk. Kita hidup di antara pilihan-pilihan yang tentunya kita pilih sendiri. Semakin bertambahnya usia, semakin kita sadar bahwa kita bukan seorang anak lagi. Bukan anak yang jika mendapat masalah kecil langsung mengadu pada orang tua, bukan ketika mendapat masalah langsung menyalahkan keadaan.

Selepas SMK, saya menulis MYOD yang artinya Make Your Own Destiny--yang merupakan plesetan dari salah satu mata pelajaran saat itu yaitu MYOB atau Mind Your Own Business dalam jurusan Akuntansi. Saya tak asal menulis tulisan tersebut untuk foto album di saat teman-teman saya justru menulis "Finally finished" atau "I did it!". Bagi saya, perjuangan baru saja dimulai, saya tak ingin pendidikan hanya berhenti pada masa SMK saja.
Saya kemudian berhasil melanjutkan kuliah dengan usaha yang lumayan karena harus menyeberang ilmu yang harus dikuasai, belajar materi SMA sebisanya. Singkatnya memasuki persiapan sebagai mahasiswa baru, saya selalu dihadapkan oleh isian motto yang selalu saya isi dengan dua, yaitu Breaks Your Own Records atau Choose Your Choice. Keduanya tentu saja berhubungan, terlihat sekali saya masih sangat ambisius dengan mengerjar pencapaian-pencapaian yang tak dapat saya raih ketika SMK.

Choose your own choice, bagi saya setiap orang itu bebas, merdeka. Mereka berhak memilih apapun yang mereka inginkan, bukan atas dasar bicaraan atau omongan orang lain. Karena jika seseorang selalu menuruti apa yang dikatakan orang lain, bukankah orang tersebut hidup dalam garis pilihan orang lain yang tentunya sangat tak menyenangkan. Dalam mencapai mimpi-mimpi tersebut, orang bebas memilih dengan caranya sendiri. Dengan ambisius, dengan pelan-pelan, atau bahkan dengan cara spontan.

Selepas SMK dan berjurusan Akuntansi, teman-teman saya justru banyak yang nekat kuliah dengan mengambil jurusan yang berbeda. Seperti jurusan sastra, informatika, atau bahkan kebidanan. Kami saling menyemangati satu sama lain. Suasana lebih terasa saat berbagai pengumuman tes, yang lulus saling menguatkan sementara yang belum beruntung justru termotivasi. Iya, atmosfir tersebut sangat positif, kalau teman seperjuangan mereka saja bisa, mengapa diri ini tidak? Dari situlah saya sadar, kadang mimpi hanya sesederhana turut berbahagia dengan pencapaian orang lain. Karena, tetap banyak daftar mimpi-mimpi yang tak dapat kita raih namun dapat diraih dengan orang-orang terdekat kita. Bukankah itu suatu keindahan? Mimpi kita melebur dan terwujud oleh rekan terdekat kita sendiri.

Menuju dunia perkuliahan, ada banyak hal yang saya dapat. Hal-hal yang sebelumnya tak disadari walaupun sesungguhnya sudah ada di sekitar kita. Semakin bertambah semester, semakin jauh dari orang tua. Semakin sedikit waktu dengan dalih kesibukan yang terlihat tanpa henti. Atau pulang hanya sekedar untuk mengisi ulang energi di saat terpuruk, bukan karena murni ingin berkumpul dengan keluarga. Kata Ibu, tak apa-apa saat ini saya begitu ingin mengejar mimpi karena pendidikan bagi perempuan memang penting adanya. Namun, Ibu saya selalu mengingatkan agar saya selalu mengingat diri saya siapa agar tak tersesat, agar terus berkembang namun tetap memiliki pendirian.

Satu petuah dari Ibu yang selalu saya pegang adalah untuk bertanggung jawab pada diri sendiri. Bertanggung jawab pada diri sendiri, pada Tuhan, pada tugas amanah, dan pada orang-orang yang terdekat. Tentu saja karena seorang anak tak akan selamanya menjadi seorang anak, nantinya akan dewasa dan Ibu sendiri berpesan agar menitip kepercayaan pada Tuhan. Karena segala sesuatu kita tentu bergantung pada Yang Kuasa. Ibu saya juga selalu mengingatkan agar selalu beribadah di awal waktu, agar hati dan tindakan dilandasi hati yang tenang dan ikhlas. Juga selalu membiasakan doa dengan sungguh-sungguh, lapang, dan lengkap agar hati selalu tenang.

Ada lagi satu motivasi agar saya tak mengambil kepunyaan hak orang lain semiskin apapun saya. Tentu saja hal itu hanya akan menimbulkan kerugian, hati yang tak tenang dalam hati dan tindakan. Lalu, tak juga untuk dengan mudah menyalahkan takdir karena segala sesuatu pasti ada alasannya. Tak ada salahnya untuk menunggu sedikit lama, karena jika sesuatu dilakukan terburu-buru akan tak maksimal. Karena sesungguhnya hidup adalah sebaik-baiknya kejutan dan seni menikmati hidup.

Dunia perkuliahan hanyalah satu dari mimpi-mimpi yang telah tercapai. Namun jika hanya kuliah, tentu saja mimpi itu kecil sekali. Masih banyak padang-padang luas yang dijelajahi dan menunggu untuk dihampiri. Perasaan lelah dan ingin berhenti tentu saja selalu ada, namun ketika mengingat tujuan awal dan mimpi yang sudah di tengah jalan tentu saja harus bergerak. Terus bergerak walaupun selambat apapun itu.

Kuliah adalah tentang pilihan-pilihan, seperti halnya hidup. Jangan takut kalah atau gagal dahulu, karena seorang pemenang sejati adalah seseorang yang sudah tahu kemungkinan dia akan kalah namun tetap berjuang. Terlihat sia-sia? Ah, tidak sama sekali. Akan ada pengajaran-pengajaran dalam hidup yang tentunya sayang sekali untuk dilewatkan. Bagi saya sendiri kuliah juga sebagian dari pencarian diri sendiri. Mengenali diri sendiri lebih dalam, mengenal banyak tempat dari berbagai teman, dan mencoba hal yang bahkan belum pernah terpikirkan sebelumnya. Kadang, kamu harus berjalan begitu jauh hanya untuk menemui dirimu sendiri. Perlahan-lahan mencoba memaafkan masa lalu yang menjadi pengganjal dalam meraih keparipurnaan pencapaian. Hal itu tentu saja berat, namun waktu akan menjawabnya semua.

Masa muda memang masa-masa ketika kita hampir tak peduli dengan nasihat dan perkataan orang lain. Melakukan atas dasar idealisme dirinya sendiri, melakukan hal sebebas-bebasnya tanpa mendengar anjuran-anjuran atas dasar “mumpung masih muda.” Bagi saya, hal tersebut tak salah namun tak juga benar karena pada akhirnya tergantung pribadi masing-masing yang menjalani. Hidup memang penuh kesalahan, dan untuk itulah kita dapat belajar dari itu. Kita punya otak atas kendali, agar kita dapat memilih mana yang baik ataupun mana yang seharusnya mungkin tak kita ambil.

Tentang bertanggung jawab atas diri sendiri, tentu saja karena kita tak bisa egois. Mimpi-mimpi yang telah kita capai tak lepas dari bantuan begitu banyak orang. Doa-doa dari orang lain yang mungkin saja tak kau sadari dan menyelamatkanmu, yang membawamu sejauh ini. Jangan pernah melupakan hal-hal kecil tersebut. Hiduplah dalam keberanian sekecil apapun itu, berusahalah untuk tak mengedepankan ego sendiri. Sudah terlalu banyak di dunia ini yang bertindak semaunya, mengalah pada keadaan. Bukankah akan lebih menyenangkan jika kita menjadi sedikit berbeda, sedikit menantang? Memang, bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani, namun bisa menjadi bekal bagi kita di masa depan.
***

3 comments:

  1. Bertanggung jawab diawali dari diri sendiri,keluarga,dan masyarakat.Dan itu bisa menjadikan diri kita lebih baik kedepannya ...

    ReplyDelete
  2. setelah kuliah, perjalanan masih panjang.. rupiah demi rupiah akan terhitung sebagai pengeluaran.. :)

    ReplyDelete
  3. setelah lulus kuliah, barulah perjalanan hidup akan lebih terasa



    hotel di puncak bogor

    ReplyDelete

Hai. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Jika postingan ini menarik/menginspirasi, jangan segan untuk dibagikan ke media sosial agar blog ini terus semangat memberi manfaat. Jangan segan juga untuk memberi kritik/masukan/komentar. Tetap berlangganan agar tak ketinggalan postingan terbaru ya. Salam, Marfa.