The words. The thoughts. The journal.

May 30, 2019

4 Mata Kuliah Yang Seharusnya Ada Sebelum Menerima Gelar Sarjana

“Libur t’lah tiba, libur t’lah tiba”

Mungkin itulah lagu yang disenandungkan dengan amat sumringah dan penuh ceria oleh mahasiswa semester 6 ke bawah menuju tempat pulangnya masing-masing. Apalagi mahasiswa baru yang tentu saja baru saja menikmati bangku perkuliahan selama 6 bulan, masih ceria tanpa kantung mata dan tak butuh skincare. Hmm, mamam itu bangku perkuliahan. Semangat mereka masih begitu membara hingga kerjaan liburan mereka juga sangat mengasyikan—sosialiasi di tempat mereka bersekolah dahulu. Datang sebagai fresh alumni lengkap dengan jas almamater kebanggaan, menunjukan pada adik kelas bahwa mereka sudah layak disebut sebagai mahasiswa sepenuhnya.

wisuda

Sementara semester 7 ke atas? Ya ngerjain proposal lah, ngapain lagi selain sehari-harinya merenungi nasib antara masih pengin jadi warga kampus atau tekanan-tekanan asyik harus segera keluar. Satu demi satu teman mulai mengadakan acara bernama seminar usulan penelitian atau proposal disertai ucapan selamat membanjiri media sosial. Sementara itu ada yang memilih untuk menunda kemudian diganti dengan kegiatan sambat menyambat. Iya, saya orangnya. Lha, memang kenapa tho harus lulus cepet-cepet? Jadi mahasiswa itu enak lho, banyak kegiatan kepemudaan yang bisa diikuti, bebas berdiri di kedua kaki sendiri atas hobi dan idealisme-idealisme, teriak-teriak di jalanan memerjuangkan cintanya keadilan, mengelilingi kota tempat kuliah meskipun 0 rupiah, cari pengalaman sebanyak-banyaknya hingga terbentuk, serta bisa jadi mentor buat adik-adik tingkat—kalau ada yang butuh.

Ena-ena skripsmu, kewajibanmu sist! Hmm, yha bhaiqlah.

Kuliah sudah basi sekali dengan bahasan-bahasan seperti jurusan eksak vs humaniora, mahasiswa kupu-kupu vs mahasiswa kura-kura, aktivis vs apatis, IPK kumlot vs IPK yha-seada-adanya lah, hingga perkara lulus tepat waktu vs lulus di waktu yang tepat. Semua memiliki maknanya masing-masing dalam menjalani sekolah kehidupan di tingkat kuliah, padahal semuanya sama saja dan telah memiliki pilihannya masing-masing. Lha, kadang orang berada di titik tertentu karena dia pernah mengalami atau setidaknya telah mencapai hal yang sebaliknya dalam kehidupan tho?

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang juga sedang ingin meningkatkan softskill, saya juga menyadari bahwa fase ini adalah tingkat kesadaran paling tinggi mahasiswa akan tanggung jawab. Benar, tanggung jawab akan apa yang telah dipilihnya ketika masih menjadi siswa berseragam abu-abu. Tanggung jawab yang dipikul karena ada keluarga, dosen pembimbing akademik, dan lain-lain yang memberi kode agar menjadi sarjana tepat waktu. Hmm, apakah ada mahasiswa yang justru denial dan sengaja ingin menjadi warga kampus seperti saya? Padahal, kalau masih mau memegang gelar sebagai “mahasiswa” ya tinggal lanjut ke jenjang selanjutnya, namun tentunya, tidak segampang itu Legolas. Alias, mau bawa apa kamu tanpa kemampuan yang benar-benar kamu punyai, HAH, HAH?

college life


Baca juga: Rekomendasi Jurusan Kuliah Soshum

Menjalani semester tua juga menjadi lebih peka terhadap sekitar, jumlah kredit yang tinggal beberapa mata kuliah, sampai ke kampus hanya datang ke seminar teman-teman dan mengucapkan selamat. Calon-calon manusia yang tak sabar menjalani fase kehidupan selanjutnya, bekerja dan belajar dewasa sepenuhnya. Tentu saja, mahasiswa harus mulai sadar untuk mengurangi sifat kekanak-kanakan dan egonya. Hal tersebut akan menjadi mudah bagi yang sudah merintis usaha, pernah magang, atau setidaknya sudah dilirik perusahaan-perusahaan untuk menjadi karyawan. Lho, pengalaman organisasi bagaimana? Cukup juga toh? Sayangnya jawabannya adalah, TIDAK.

Dunia kerja lebih kompleks dari pada itu, contohnya di bidang creative digital yang lebih menekankan fungsi daripada jabatan harus sesegera produktif dan inovatif. Bukan hanya di bidang itu, di era yang sudah internet of things ini sendiri, fresh graduate juga harus bisa menjadi pribadi yang dinamis dan nggak kagetan. Kemudian juga siap menjadi pembelajar cepat dan langsung eksekusi. Karakter, juga menjadi hal yang penting dan menjadi nilai tambah selain kerja keras. Seperti misalnya disiplin, tekun, dan tak menunda-nunda. Sayangnya oh sayangnya siapa, kultur kampus di Indonesia kebanyakan memberi kebebasan kepada mahasiswanya untuk mandiri belajar sendiri, atau memang sistemnya seperti itu ya? Harusnya, dalam rangka mengisi kegabutan dan hanya muter-muter di proposal, para semester akhir harusnya diberi mata kuliah sebagai berikut biar otak tetap fresh:

Sebelumnya, dengerin podcast saya juga: Kenapa Berorganisasi di Kampus Aja Nggak Cukup

1. Public Speaking

public speaking


Tentu saja, public speaking nggak hanya sebatas melatih keberanian dan mental saat berbicara dengan orang lain terutama dalam ranah profesional. Kemampuan pubspeak ini perlu untuk senantiasa melatih agar apa yang kita bicarakan mempunyai value dan berisi namun juga ditangkap oleh pendengar. Gimana si biar cair dan reaching out ke mereka? Tentu saja, runtut dan detail menjadi kuncinya, kemudian public speaking juga selain berbicara dapat melatih gestur tubuh yang baik, melatih kegugupan, keberanian, dan menjadi percaya diri berdiri di atas kedua kakimu sendiri wahai Tuan dan Nona.

Harusnya, pelatihan public speaking ini ada di kampus-kampus untuk mencetak lulusan yang lebih memiliki skill dan branding. Khan keren juga kalau di pos di IG jugha, pegang mic dan candid ala-ala, kemudian dilengkapi dengan kepsyen bernuansa “lihat aq, ini aq, chinthai aq~~~”

2. CV & Motivation Letter

Sebagai calon pelamar yang kirim surat lamaran ke mana-mana, mbok yo setidaknya CVmu itu menarique lho, jadi kalau ditolak yha tetep aja keren. Meskipun sekarang udah banyak banget yang namanya CV template atau jasa pembuat CV kreatif, tentu saja bukan hanya masalah desain namun juga pembawaan isi.

Bagaimana sih kamu-kamu berpengalaman dalam bidang tertentu, terus nilai lebihnya apa, dan apa yang bisa kamu bawa? Sama juga dengan motivation letter bagi yang ingin melanjutkan studi, dengan dosen-dosen yang pasti sudah lebih berpengalaman, akan lebih asyique juga jika lebih banyak freshgrad yang lolos S2 karena movlet bimbingan mereka ini.

Baca juga: WHY CATCHING YOUR PASSION ISN'T ENOUGH?

3. Manajemen Stres

Beuh tentu saja sudah pasti, lha. Semester akhir mau dibikin enjoy dan sebiasa apapun juga tetep stresfull. Bengong di senja hari, ditemani kopi, tak lupa proposal skripsi hmm niqmat sekali nyambat indie.

Tentu saja, jika tak diatur dengan baik justru akan berimbas ke demotivasi, perubahan mood berkelanjutan, hingga hubungan dengan orang lain. Nah, manajemen stres bisa dilatih dengan meditasi, olahraga, atau hobi yang menyenangkan, kemudian juga tak lupa berkumpul dengan lingkaran yang positif namun tak mengekang. Karena apa? Karena manajemen stres nggak ada di mata kuliah dong, huhu~

Pentingnya manajemen stres juga dapat melatih daya resilensi atau ketahanan diri, alias kebal dan nggak dikit-dikit nyambat, ndrama, dan lain-lainnya. Karena ya, di dunia kerja nantinya perlu mental yang benar-benar tangguh selain kompeten, pilihannya juga antara: kamu kompeten atau didepak? Ngheriiii~

4. Problem Solving & Decision Making

youth adventure day 2018


Hmm, sebenernya nggak perlu berada di lingkungan kerja dulu. Dua skills tersebut sudah dapat diasah mahasiswa ketika ada dalam organisasi atau komunitas yang diikuti. Bagi mereka, dua hal tersebut minimal sudah dapat dipahami dasarnya. Namun bagaimana pada yang belum memiliki kesempatan? Apalagi nanti di dunia kerja. Bagaimana kamu mempresentasikan dan menunjukan dirimu itulah yang akan dinilai.

Ngerasain sendiri kok, betapa nggak enaknya jika ditanya solusi dan inovasi tapi nggak bisa jawab atau jawabannya nggak mashook. Maka seketika itu juga jadi merasa minder dan wasting time saja saat ini, sementara ada orang lain yang lebih kompeten dan qualified yang siap sedia menggantikanmu kapanpun.

Yha, itu semua khan bisa dipelajari secara otodidak bosqu? Ya memang bisa sih, namun sebagai milenial yang katanya kreatif tapi mageran akan lebih punya semangat yang tinggi jika melakukan hal tersebut bersama-sama. Terus solusinya apa, bikin komunitas atau geng sendiri buat belajar hal tersebut! Cari mentor-mentor yang dapat mengembangkan kemampuan cara kerja otakmu. Karena ya sekali lagi kampus tak bertanggungjawab akan pilihan mahasiswa dalam lingkup tersebut alias harus mandiri membangun, betul?

Pilihlah mahasiswa-mahasiswa yang terlihat mumpuni akan keempat hal tersebut dan berbagi bersama. Yha, dari pada cuma nungguin pembekalan kelulusan kan ya, sudah basi. Jadilah pro terlebih dahulu dan benar-benar siap lulus, be overqualified! Semua ini bukan dipersiapkan cuma buat calon pekerja aja kok, bisa lebih dari itu. Nyesuaiin juga karena denger-denger sekarang skill yang paling dibutuhin itu self-management dan ilmu-ilmu yang berkembang itu business management. Ah ini juga paradox si, nanti kalau bisa semuanya juga pushink. POKOKNYA SEMANGAT, PARA PEJUANG TUGAS AKHIR. Jangan biarkan skripsimu menjadi penghalang akan petualangan-petualanganmu selanjutnya!

***

Postingan ini dibuat pertama 22 Feb 2019.

15 comments:

  1. Nah aku blm bs tuh no.3 kwwkkw agak sulittt bagiku

    ReplyDelete
  2. Menurut saya yg paling awal banget harusnya yang ke-3 dan 4. Semacam yang harus ada di semester awal kuliah.

    Salam www.dindahnurma.com

    ReplyDelete
  3. Saya kok setuju pakai banget ya, ama 4 hal di atas, emang dirasain banget sih ... untungnya, saya udah dapat ke-4-nya di jalan, alias ikut smallclass yang diadain lembaga-lembaga, jadi begitu lulus tahu, mau ngapain.

    ReplyDelete
  4. hmm betul juga ya.. yang poin2 itu mestinya ada (dipikirkan) oleh mahasiswa kalau memang ngga ada. Jadi siap ke dunia "real" ketika lulus.

    ReplyDelete
  5. Wkwk, empat hal di atas emang dirasain banget di dunia kerja dan bersosialisasi manusia dewasa selepas kuliah. Nikmati dulu masa2 menjadi mahasiswa, karena dunia kerja tidak seindah masa2 skripsian. xD

    ReplyDelete
  6. Hmmm aku setuju dgn 1, 3, 4. Tapi seharusnya kita udah dapat bekal tsb sejak kecil. Lalu diasah tiap jenjang pendidikan.
    Kalo nomor 2, menurutku perlunya kalo mau S2

    ReplyDelete
  7. Setuju banget dg poin2 di atas. Karena kan ada tuh mahasiswa yang ngerjain materi mulu, pas lulus gak ngerti kalau ngomong di masyarakat. Dunia kerja kan beda dg dunia masa sekolah

    ReplyDelete
  8. Soft Skill juga penting, itu lah kenapa apabila sempat, gak ada salahnya ikut organisasi, atau mungkin oleh BEM bisa diajukan untuk seminar wajib bagi mahasiswa sebagai syarat wisuda nanti.

    ReplyDelete
  9. Kalau proposal uda beres bukannya perjalanan menulis skripsi uda tinggal 30% nya lagi?
    Jurusanku dulu sih gituu...malah berat di proposal dan sidangnya.
    Begitu skripsi, tinggal matengin teori yang selama ini udah dipelajari.
    Sesuai ga sama hasil penelitiannya.

    ReplyDelete
  10. Wah, betul sekali. 4 materi tersebut memang seharusnya diberikan pada mahasiswa ya...agar mereka siap ketika memasuki dunia kerja nanti

    ReplyDelete
  11. Semangat buat para pejuang tugas akhir! Iya bener banget kak 4 hal itu penting banget sih buat fresh graduate yang mau mengahdapi dunia kerja di lapangan

    ReplyDelete
  12. Perlu juga sih skill kaya gitu, apalagi untuk orang-orang yang introvert kadang mau belajar pun malu, mending di jadikan mata kuliah

    ReplyDelete
  13. Nah bener, keempat kemampuan di atas tuh kepake banget di dunia kerja, saya pun yang emak-emak pengen deh kursus public speaking, apalagi kalian pada mahasiswa yang akan terjun ke dunia nyata

    ReplyDelete
  14. Sebagai freelancer, aku liburan sesuka hati dong :D

    Tapi, semangat yaa untuk para pejuang tugas akhir atau skripsi semoga gelar sarjana yang didapat nanti bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari*

    ReplyDelete
  15. Ya seharusnya itu semua jg diajarkan yaaa. Untungnya bisa didapat semua di organisasi. Jd emang ada benernya sih kalau kuliah ya jgn mentok cuma datang dengerin dosen trus pulang. Butuh lbh dr semua itu dan kudu berusaha cari2 sendiri gmn caranya bisa mempelajarinya

    ReplyDelete