Besok Adalah Hari Ini dan Berhenti Bertanya Hidup Untuk Apa

Beberapa hari yang lalu, saya memutar kembali lagu Age of Worry - John Mayer sambil lama-lama memandang laptop. Lagu yang sering saya putar di semester dua ketika masalah menentukan pilihan hanya sebatas mau ikut kepanitiaan atau organisasi saja. Kalau sekarang sih bisa bilang itu "hanya", kalau dulu takut dan ragu-ragunya hampir minta ampun karena sebelumnya sama sekali nggak ada pengalaman. Kan, ketidaktahuan memang seringkali melahirkan ketakutan dan keraguan dalam melangkah—ciah.



Kembali mendengarkan lagu tersebut sambil sedikit lega, bahwa dulu pernah begitu penakut sekarang mulai berani meski belum sepenuhnya menjadi bold—tidak punya bawaan lahir dan didikan yang membentuk, namun kehidupan yang akan membentuknya kelak. Lagu beralih ke  Besok Mungkin Kita Sampai-nya Hindia (yang sedang rame bener di twater kenapa sih, apaka tida sebaiknya ngopi-ngopi saja) di mana lirik-liriknya membuat saya sedikit tenang karena ketertinggalan kereta.


Kawan-kawan pergi S2, namun tujuanku belum tiba. Tak ada yang tahu kapan kau mencapai tuju. Dan percayalah bukan urusanmu untuk menjawab itu.

Kuatkanlah dirimu atas pertanyaan yang memburu. Tentang masa depan, pernikahan, pendidikan, pekerjaan, keimanan.

Tak ada yang tahu selesainya peraduanmu

Terkadang selama ini bagaimana saya bertindak dalam melakukan sesuatu sedikit berbeda dengan orang lain: terlalu banyak pertimbangan, terlalu pemilih, dan terlalu banyak berpikir. Beberapa kali terlihat seperti seorang idealis garis keras, namun justru kali ini sadar betapa realistis tindakan yang telah diambil: bodo amat akan tanggapan yang tak membantu.

Ada beberapa hari di mana saya memilih untuk tak membalas pesan teman-teman, tak menanggapi karena sepertinya segalanya sedang berada di fase rumit: pasca lulus. Harus memiliki pekerjaan, memikirkan keuangan segala tetek bengek investasi, menikah, dan lain-lainnya. Hal yang ketika masa muda dan sampai sekarang: bisakah kita tetap bisa menyenangkan dan berbahagia seiring kita bertumbuh? 

Ada waktu di mana akhirnya saya mengerti mengapa tak segala jalan mendapatkan kemudahan. Jawabannya adalah ketika saya mendapatkan kemudahan itu, belum tentu saya siap atau belum tentu saya bisa cukup untuk mengontrolnya dengan baik. Hidup sendiri itu memang misteri yang sudah dijanjikan aman asalkan kita memang berusaha kok.

Mengerti bahwa tak semua orang mendapatkan kesempatan untuk menuntaskan segala keinginan dan petualangan-petualangannya di masa muda, harus berbenturan dengan realita serta mengubur mimpi-mimpinya. Seorang teman juga berkata hidup itu rumusnya bukan kita merencana kemudian semuanya akan berjalan sesuai rencana, kita nggak bisa ngontrol itu: yang bisa dikontrol adalah bagaimana kita bereaksi apakah mau menyalahkan atau mau terus kembali hidup. Yep, kita selalu punya pilihan dan pilihan yang dipilih tersebut tak selalu menyenangkan.

Saat ini lebih mendengungkan lagu Danilla-Batas, untuk menikmati hidup secara apa adanya, segala baik dan buruknya. Itulah mengapa ada judul postingan ini, saat ini sudah tak merisaukan lagi ketakutan-ketakutan dan pertanyaan apa tujuan ada di dunia dan hidup. Hidup besok adalah apa yang juga kita lakukan hari ini, namun ada juga beberapa kejutan di balik hanya rasa pegal di punggungmu demi menyelesaikan sesuatu. Hidup, selalu akan indah, selalu akan seperti itu, and life is always worth it.

Semoga suatu saat kau berani. 

No comments

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :)