Hope to See You Again, February

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
Kemarin, ada pesan masuk dari seorang teman yang mengabarkan ini adalah minggu terakhir di bulan Februari ia bekerja—yang artinya habis dan 2021 akan beralih ke bulan ketiga. Saya menanggapi dengan, hampir biasa saja karena hari-hari rasanya sama sejak setahun yang lalu. Kekosongan, rasa duka, dan bercampur dengan rasa bersalah dan marah masih rajin hadir sehari-hari. Kadang saya terpaksa berdiam lama agar rasa yang ditimbulkan tuntas, namun selebihnya saya memilih untuk melangkah.

Kebiasaan saya di awal tahun adalah selalu memiliki semangat berlebih, mungkin karena terbawa vibes semangat orang-orang juga. Bedanya, tahun ini saya berjanji untuk lebih menguatkan niat dan tekad untuk menjaga ingatan itu tetap ada sampai akhir tahun. Alasannya, karena tahun ini saya ingin menyelesaikan satu kewajiban yang belum tuntas dan tak ingin berakhir seperti tahun-tahun sebelumnya. Doakan, ya.

Bulan ini berjalan dengan cukup menyenangkan, terbukti ketika saya membaca ulang daftar gratitude journal di aplikasi Presently yang sengaja saya unduh untuk diisi setiap hari. Ya, meskipun namanya untuk mencatat syukur sekecil apapun sehari-hari, saya masih suka curhat colongan di sana plus hanya mengisi "saya telah melalui hari ini dan itu cukup." Mencatat pengalaman yang tak mengenakkan juga menjadi catatan penting, siapa tahu kelak akhirnya berucap juga "saya telah melewati itu".

Grow Through What You Go Through
credit: Callie Garp


Meskipun demikian, banyak juga yang bisa saya syukuri di bulan yang identik dengan bulan penuh cinta ini. Namun kalau untuk memilih tiga yang paling berkesan, hal-hal tersebut adalah:

1. Bertemu Kembali ke Profesional

Bulan ini saya kembali mengunjungi profesional yaitu psikiater dan ditambah juga dengan ke psikolog. Terakhir itu bulan November 2020 lalu dan itupun setelah absen dari Mei 2020. Bandel dan denial anaknya, jadi ya merasa sok bisa handle sendiri dahulu. 

Gimana sih, rasanya denial lah ketika mendapatkan sesuatu yang saya harap tidak ada, tapi padahal sih memang sudah terasa sejak remaja. Dari situ saya menyadari kalau sehat secara fisik dan mental itu sebuah privilese yang harus dijaga baik-baik. Awalnya memang enak sekali rasanya menyalahkan keadaan dan di luar diri atas kemungkinan yang bisa menjadi penyebab. Pertanyaan berulang seperti "harusnya ini, harusnya itu" juga muncul setiap hari.

But here it is, akhirnya menemui kembali di balik meja konsultasi setelah produktivitas harian terganggu. Agak lucu ketika merasakan sama sekali tak bisa mengerjakan apa yang biasanya dikerjakan, dari situ saya tahu bahwa saya perlu bantuan orang lain. Proses kembali ini saya lakukan setelah mencari banyak informasi, mengedukasi diri sendiri, dan tentu saja sebagai sebuah usaha untuk mengejar cita-cita di tahun ini. 

Tak disangka, keputusan ini berjalan tepat karena saya jadi jauuuuh lebih lega dan lebih baik. Saya tahu bahwa di depan bisa saja kembali menemui luka lama yang ditutup rapat-rapat untuk disembuhkan dan bisa jadi prosesnya melelahkan. Saya mencoba menerima dan mengembrace untuk jauh lebih siap apapun yang terjadi di depan. Saya memilih untuk berjuang sekali lagi dengan kembali mengenali diri sendiri lebih dalam, kembali melanjutkan usaha-usaha dalam hidup, dan kembali belajar mengikhlaskan. Kalau kata Keanu Reeves di film To The Bone sih:

You know how. Stop waiting for life to be easy. Stop hoping for somebody to save you. You don't need another person lying to you. Things don't all add up, but you are resilient. Face some hard facts and you could have an incredible life.

Fun factnya, saya menuliskan pengalaman saya ke psikolog di blog ini pada tanggal 14 Feb lalu dan beberapa hari kemudian ada yang DM berucap terima kasih karena menuliskan hal tersebut. Itu hal yang menakjubkan bagi saya karena di saat terlalu sering merasa worthless, sebuah pengalaman dapat sedikit membantu orang lain juga. Ya tentu saja, kesan ke profesional memang jauh lebih melegakan karena memang mereka memiliki keahlian dan dilatih. Semoga banyak juga di luar sana yang masih ragu, untuk bisa menemukan titik terang salah satunya dengan menemui profesional.

bagaimana pengalaman ke psikolog?


2. Empat Orang Teman Menjajaki Kehidupan Baru

Seorang teman sebutkan di awal paragraf adalah salah satu dari empat orang teman yang menjajaki kehidupan baru di tahun ini. Setelah hampir satu tahun menunggu, akhirnya ia bisa bekerja di tempat di tempat dan suasana yang ia sukai.  Seorang teman sudah lulus profesi Ners dan sudah sangat antusias untuk dapat bekerja. Satu lagi telah merampungkan skripsi dan tinggal lulusnya aja setelah satu tahun merasakan drama, lelah, dan naik turunnya. Dan satu orang teman telah berhasil juga bekerja di tempat baru dan berbahagia karena seakan serasa tepat pada waktunya.

Tak ada yang lebih membahagiakan dari pada mendengar kabar baru dan bahagia di saat seperti ini. Maka saya ucapkan selamat pada Hanggit, Yessy, Talitha, dan Dinda yang telah menemui babak baru dalam hidup. Meskipun tulisan ini tidak saya share ke kalian, namun saya merasa perlu mengabadikannya dalam bentuk blog post untuk suatu hari barangkali menjadi memori yang menyenangkan. Pandemi memang bajingan dan merenggut banyak hal dari kita, namun semoga kita bisa terus menyalakan lilin-lilin harapan untuk bisa terus melanjutkan mimpi. Terima kasih juga masing-masing dari kalian atas waktu yang selalu disediakan untuk berbagi cerita.

3. Keyboard Laptop Berfungsi Kembali

Haha ini terlihat sepele sekali ya namun betul-betul saya merasa bersyukur keyboard laptop dapat berfungsi lagi. Jadi ceritanya, suatu pagi saya menemukan kalau beberapa huruf keyboard laptop tak berfungsi dan suka auto scroll ke atas sendiri. Langsung panik banget karena memang saat ini saya sangat mengepres pengeluaran, sempet nangis drama dan kesel juga karena ada-ada aja sih. Maklum, saat ini laptop selain untuk skripsian juga sekaligus untuk mencari sumber penghasilan utama melalui freelancing.

Sempat terpikir untuk membeli keyboard eksternal dengan harga yang lebih murah dari pada servis, namun, percayalah saat ini untuk membeli harga 'semurah' itu mikir lebih dari dua kali. Ya ampun *hela napas*

laptop asus a442u


Setelah mencari di kolom pencarian dan berkali-kali coba install-uninstall software keyboard di Device Manager, akhirnya jadi juga! SENAAAANG sekali rasanya melebihi dapat hadiah gitu, terus abis itu lebih sayang-sayang lagi ke laptop kesayangan ini karena memang mendapatkannya dari hasil hadiah juara ngeblog dan begadang-begadang. Rasanya jadi mendapatkan kekuatan besar untuk lebih mempergunakannya sebaik-baiknya dan lebih banyak menulis! Termasuk, menulis dan blogging ini juga menggunakan laptop ini juga. 

By the way, laptop ini saya namakan Jagadhita yang baru sadar kalau usianya dua tahun per Februari 2021 ini di tangan saya. Saya membelinya bekas sih, baru dipakai 10 bulan sama pemiliknya namun saya senang karena memang sesuai yang saya cari, maklum laptop sebelumnya sudah lelet sekali. Laptop ini merupakan laptop pertama yang berhasil saya beli dengan uang hasil sendiri. Dan nama Jagadhita ini artinya kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagiaan. Hehe, cukup filosofis ya namanya untuk sebuah laptop. Semoga memang bukan hanya memberikan berkah pada saya, namun apa yang saya lakukan dengan laptop ini bisa memberi manfaat bagi manusia lain. Semoga.

Well, hope to see you again, February! Terima kasih untuk kesempatannya supaya belajar kembali untuk mensyukuri hal-hal kecil dan untuk tidak menyerah. Ternyata betul ya, bulan penuh cinta hahaha. Kalau mengutip judul bukunya Dea Anugrah sih, hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya. Saya harap, semua mahkluk dapat berbahagia—termasuk yang membaca ini. See ya!
***
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

3 comments

  1. Hi mba Marfa, terima kasih sudah join CR Challenge, yaaa 😍

    Saya setuju sama point pertama mba, kadang kita butuh bicara dengan pihak luar, yang neutral, untuk membantu kita kembali on track terhadap hidup kita. Hehehe, apalagi jaman sekarang, lebih mudah untuk kita ketemu psikolog maupun psikiater, karena orang-orang sudah lebih open minded dan nggak asal judge sembarangan seperti dulu. Saya berdoa, semoga mba Marfa selalu baik-baik saja, dan mau terus berbagi pengalaman mba agar dapat membantu lebih banyak orang yang membaca tulisan-tulisan mba 😁💕

    Ohya, selamat untuk ke-empat teman mba yang baru menjajaki kehidupan baru mereka. Benar adanya, setiap orang punya timing berbeda, bahkan jalur 'sukses' yang berbeda-beda pula 🥳 Semoga teman-teman mba bisa menjalani kehidupan barunya dengan penuh suka cita, and I guess, doa dan harapan mba untuk mereka akan sampai pada mereka pada akhirnya 😍

    Bicara soal keyboard laptop, saya baru beberapa waktu lalu akhirnya pakai eksternal keyboard untuk laptop saya mba 🙈 huehehe. Baca tulisan soal keyboard di atas, saya jadi ikutan senang karena keyboard mba kembali normal 😆 Awet-awet yaaa keyboarrrrd, hohoho. Semoga bisa bertahan lama, minimal 10 tahun ke depan 😁 Wk.

    Once again thank you mba sudah cerita hal-hal menyenangkan versi mba 🥳🎉

    ReplyDelete
  2. Kita sama niiih mba, suka ksh nama ke barang2 yg dimiliki :D. Akupun gitu :D. Sampe mobil aku ksh nama juga Velove. Dengan memberi nama ke barang2, rasanya ada semacam ikatan untuk lebih menjaga supaya bisa dipakai awet :).

    February juga bulan fav ku. Krn pendek hahahaha. Dan Krn suami dan anak2 lahir di bulan ini :).

    ReplyDelete
  3. Halo mbak Marfa... Do you feel better already these days? I hope so. Saya suka banget itu tulisan daily gratitude mbak yang paling sederhana, "saya telah melalui hari ini dan itu cukup." Betul banget! Nggak semua hari itu mudah untuk dilalui bahkan kadang kita perlu berdamai dengan diri sendiri dan itu lebih susah daripada berdamai dengan situasi di sekeliling kita. Maka saya jadi terinspirasi dari tulisan mbak, bahwa tidak apa untuk merasa cukup lega sudah bisa melalui hari ini. 😊 Yes, you will grow through what you go through! I like that very much.

    Balada laptop ngadat keyboardnya semoga tak terjadi lagi, ya. Hebat banget mbak beli laptop pakai hasil jerih payah mbak sendiri. Pasti bangga sekali, ya! I like your laptop's name: Jagadhita. That's a beautiful name 🥰.

    Have bright and beautiful days ahead. Whatever comes, face it, and stay strong.

    ReplyDelete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below (p.s: Mohon klik "NOTIFY ME" untuk mengetahui balasan komentar melalui email)