ke mana jiwa yang patah pergi

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
Aku mencoba melakukan banyak hal untuk menghilangkan rasa tidak enak (lebih tepatnya: sakit, pedih, atau menderita) karena hati yang patah. Atau lebih tepatnya lagi malah: respon tubuh untuk mendistraksi sedangkan aku sendiri tak melakukan apa-apa. Biasanya justru diam saja di tempat, melihat perayaan orang lain, hingga rasa sakit tersebut menumpuk dan meminta untuk dikeluarkan sendiri.

Langit Biru Cerah dan Gedung
pict:ArtisticOperations (pixabay)

Langit di luar biru dan cuaca cerah, sinar matahari hangat namun aku justru bertanya-tanya:

"Apakah kita merasakan kepedihan yang sama?"

Bagaimana rasanya hidup itu sendiri sedangkan selama ini aku hanya bertahan. Aku terus berulang kali berputar-putar sampai rasanya bukan lelah lagi namun semakin mengutuki diri karena semakin tertinggal jauh di belakang.

Aku teringat pada kebahagiaan-kebahagiaan kecil alternatif yang biasa ditemukan di film atau buku-buku fiksi. Seberapa banyak manusia di dunia ini yang terpengaruh, apakah hanya dalam jumlah yang kecil? Sisanya memasukan kebahagiaan tersebut dan menutupnya dengan menghadapi realitas yang bagiku membosankan, ironi, dan aneh.

Aku tahu hidup rumusnya bukan hanya berisi kebahagiaan, namun apakah harus dilalui banyak beban di dada dan di pundak? Belum cukup pada itu saja, di sela-sela kepayahan itu kita hanya bisa mengingat masa-masa menyenangkan dan entah kapan merasakannya lagi dalam waktu yang lama dan stabil. Bolehkah kita bahkan memilih masalah kita sendiri? Bolehkah kita hanya memilih satu dua agar sisanya kita tetap bisa bersenang-senang dan tak begitu merepotkan?

Jiwa yang patah ini ternyata tak ke mana-mana juga, maksudnya beberapa kali mereka bepergian mencari sesuatu dan kembali dengan entah kosong atau satu helai beban yang lebur. Tak ada gunanya juga menyesali apa yang tak kita punyai atau yang seharusnya kita dapatkan karena sama-sama: tidak ada. Jadi dari pada repot-repot ingin menghilangkan semua-muanya namun sekaligus ingin meninggalkan jejak, biar kuberi satu rahasia akan dari jawaban dari perjalanan yang paling panjang, yaitu: memaafkan diri sendiri.

Maafkan pada diri sendiri yang tak mendapat hal-hal lebih awal seperti yang lainnya. Yang mengalami pengalaman dan mimpi buruk terlebih dahulu hingga membuat diri mencari rasa damai dalam lelap. Berikan kesempatan pada diri sendiri untuk rapuh dan menerima, untuk bergantiaan rasa satu dengan yang lainnya. Untuk menerima kesempatan setelah menunggu dan mencari dalam waktu yang lama hingga akhirnya menemukan.
***

1 comment

  1. semoga kita selalu dikuatkan untuk menjalani tiap langkah dan ujian ya mbak marfa

    ReplyDelete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below (p.s: Mohon klik "NOTIFY ME" untuk mengetahui balasan komentar melalui email)