The words. The thoughts. The journal.

September 28, 2017

4 Keunggulan Mengapa ASUS VivoBookS S510 Tepat Dijadikan Professional Partner

Kalau melihat mundur ke belakang, di balik konten-konten yang ada di blog ini punya cerita tersendiri. Dimulai dari posting via hape, via komputer warnet, dan via laptop pribadi. Bahkan, laptop saya kayanya lebih sering buat bikin konten blog daripada buat nugas. Nyahaha. Sayang sekali, partner laptop ini sudah rusak berat, dimulai dari layar bergaris dan baterai mudah habis. Jadi kalau ngeblog pakai punya adek dulu, huhuhu.
September 25, 2017

Gunung Prau dan Tentang Pengalaman Pendakian Pertama


Finally, I did it again. Saya memang sudah lama ingin mencoba merasakan mendaki gunung-apapun itu. Alhamdulillah, saya masih dan semoga saja selalu dikelilingi dengan orang baik. Rencana ke Gn. Prau ini sudah lebih dari sebulan yang lalu dan direncanakan oleh teman saya, Yessy. Dia sendiri udah ngajak dua orang, dan rencana keberangkatan tanggal 24 September saat dia terakhir libur semester sementara saya udah memasuki minggu ke empat kuliah. Bukan seberapa hebat atau tinggi yang dilalui seperti orang lain, tapi tentang bagaimana kesan pengalaman pertama. Here's our journey.
September 13, 2017

September: Baca, Tonton & Dengar


Hai apa kabar? Semoga selalu bahagia ya!

Jadi, sebenernya tema ini bukan bulanan sih. Terakhir aja Juni, itupun hanya tema musik dengan postingan Konstelasi Nada dan Irama. Tentunya butuh waktu untuk membaca, menonton, dan mendengarkan bukan? Nah semua itu jadilah dirangkum sebagai rekomendasi bulanan, udah anggep aja gitu mah ya. Kali ini semua kategori di atas termasuk lawas, kecuali film. Yuk langsung aja.

BUKU: To Kill A Mockingbird – Harper Lee

Ini buku udah lamaaa banget dan saya justru baca di semester lima kuliah sastra Inggris. Ironi nggak sih? Nggak dong, baca mah nggak pernah terlambat. Saya bahkan udah beli bukunya sebelum semester satu, kemudian ditimbun. Kemudian suatu ketika saya menang giveaway dan ada voucher buku senilai 100rb yang saya belanjakan untuk Go Set a Watchman dan satu kumcer. Begitu paket GSAW datang, saya baru tahu bahwa hari itu adalah hari ketiga sang penulis meninggal. Semacam suatu pertanda untuk segera membaca kah?



Dulu saya kira To Kill a Mockingbird semacam bacaan berat, ternyata hanya dari sudut pandang anak kecil berumur 8 tahun bernama Jean Louise “Scout”. Seperti kebanyakan anak diusianya, dunianya diisi dengan rasa penuh penasaran, dunia bermain, mengamati tetangga, sampai kegiatan sekolah. Sebenarnya hanya sesederhana seorang anak kecil perempuan yang sedikit bandel mengamati bagaimana figur-figur masyarakat. Figur-figur itu dimulai dari keluarganya yaitu Jem dan Atticus Finch, teman kecilnya Dill, guru di sekolahnya, tetangga yang masing-masing memiliki keunikan, hingga pengasuh keluarganya, Calpurnia. 

“I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It's when you know you're licked before you begin, but you begin anyway and see it through no matter what.
- Atticus Finch”

Yang diangkat dari novel ini sendiri adalah rasisme kulit hitam, dan bagaimana seorang anak kecil memandangnya. Lebih seperti petualangan hidup sih yang dilakukan oleh Jem, Scout, dan Finch. Yang perlahan-lahan mikir “Orang dewasa kok gitu, orang dewasa rumit ya?” diselingi aneka kejadian lucu. Tapi sempet mikir juga sih Scout ini pikirannya detail banget, apalagi pas di pengadilan. Saya jadi takut yang ditulis di sini bukan si Scout tapi Ny. Lee sendiri. Walaupun bagi beberapa orang membosankan, tapi saya menikmati TKAM tuh. Juga, banyak petuah-petuah hidup dalam buku itu, seperti keberanian dan tanggung jawab. Sementara ini ditulis,  saya sedang menyelesaikan GSAW, dan omg JEAN LOUISE itu favorit saya banget! Dari segi penuturan cerita, GSAW mirip TKAM urutan-urutan dan detailnya. Maklum aja, dulu malah sebenernya yang pertama malah naskah GSAW dulu kan yang mau diterbitkan bukannya TKAM?


FILM: Oblivion (2013)

Sinopsis IMDB: A veteran assigned to extract Earth's remaining resources begins to question what he knows about his mission and himself.



“How can man die better: than facing fearful odds, for the ashes of his fathers, and the temples of his Gods.”

 “I wonder, if I come to you, at night - in dreams, in the day - as memories. Do I haunt your hours the way you haunted mine? And I wonder if you see me, when you look at her.” – Jack Harper

Mungkin ini adalah film Sci-Fi yang paling saya sukai. Saya menyukai bagaimana pemain memerankan tokoh mereka, suka backsoundnya yang Starwaves, dan sangat menikmati ceritanya tanpa skip. Dibintangi oleh sang suami aktor yang kondang, Tom Cruise menambah nilai plus dalam film ini. Nggak kok, nggak hanya gara-gara menang Tom Cruise doang. Dari awal udah disuguhi “kota” di atas awan dan bagaimana Jack dan partnernya, Vica melakukan misi sehari-harinya yang sebentar lagi selesai. Jack walaupun sudah dibuang ingatannya, selalu ada sekelebat memori yang muncul dalam ingatannya, hingga ia bertemu awak bernama Julia. Mungkin kalo perempuan yang nonton Oblivion jadi agak bawa perasaan, gimana kalo misal dirinya hanya Vica “Another Day In Paradise” di kehidupannya? Cielah. Terus, Oblivion ini elegan, backsound yang Starwaves seakan membawa saya melayang ke luar angkasa dan damai. I can say, film ini recommended!

“Is it possible to miss a place you've never been? To mourn a time you never lived?” - Jack Harper

MUSIK: Kansas – Dust in the Wind

Bawaanya kalo dengerin lagu ini rasanya klasik banget, semacam Time In A Bottlenya Jim Croce. Ternyata yang bikin saya jatuh cinta emang ada alunan biolanya, saya dari dulu suka suara biola. Saya tahu lagu ini justru dari film korea berjudul Pure Love,  film yang ada D.O EXOnya tuh. Di film tersebut, rasanya malah lebih terbawa ke masa lalu. Ke masa-masa rambut lepek karena lari-larian panas-panasan, baju basah karena hujan, dan teman-teman masa kecil. Pun rasanya pas didengarkan di bulan September. Eh lagu ini katanya ada di film Final Destination juga kah? Nyahaha, untung ngehnya di film Korea aja jadi nggak serem bok.


Nah, itu rekomendasi baca, tonton dan dengar untuk bulan September. Mari, bagi juga rekomendasimu untuk bulan ini. Sampai jumpa di postingan selanjutnya! :)
***
September 10, 2017

Aneka Camilan dan Jajanan Enak Yang Nagih di Purwokerto


Halo September! Balik lagi ke rutinitas kuliah tetep pasang muka bahagia. Rutinitas artinya tugas-tugas udah antri minta dikerjain, tapi tenang aja selalu ada aneka camilan biar tetep semangat. Kalo balik ke Purwokerto, selalu ada beberapa spot kuliner yang harus selalu saya beli, iya pantesan garis timbangan makin geser ke kanan. Belum lagi kalo bawaanya stres juga pengin makan, makin sering ngemil. Biar ala-ala food blogger gitu, sayang banget kalo makan cuma sekadar makan. Harus dikumpulin, diposting, dan bisa jadi rekomendasi camilan enak di Purwokerto. Apa aja sih, mari nyimak:
September 09, 2017

Minggu Depan Pulang

Dan Sabtu pagi ini (9/9) saya memutuskan untuk berdiam dalam kamar asrama untuk mengistirahatkan badan dan pikiran. Padahal seminggu sebelumnya sudah merencanakan kemana-mana, pantai, curug, dan lainnya, apadaya akibat gangguan tidur jadi bawaanya pegel. Rasanya perlu pulang untuk isi ulang energi positif. Dan, saya memang anak bengal nan kurang bersyukur yang beruntung, gimana nggak kalau udah kuliah gini tiap Jumat selalu ditanya mau pulang apa nggak?  Setiap kali pulang, saya selalu merasa nggak enak. Rasanya sama sakali belum pernah membuat mereka bangga dan juga cuma numpang di rumah, nol pencapaian. Walaupun saya tahu, orangtua hanya butuh kehadiran dan komunikasi kita sebagai anak, tidak lebih.
September 04, 2017

Pilihan

Sabtu tengah malam saya terbangun, kembali memikirkan tentang kekosongan dan pilihan-pilihan tentang hidup. Ketika saya mengisi kolom “idola” dalam kuesioner, saya lebih memilih mengosongkannya. Karena saya rasa, seorang idola memang hanya perkara bagaimana dia memilih hidupnya sendiri, dan saya merasa tak ada yang cocok dengan saya.