Blogger Ruang Tunggu dan Kerinduan Kita Bersama Akan Tulisan Organik



Dua minggu yang lalu, linimasa Twitter ramai dengan tagar #BloggerRuangTunggu. Tagar tersebut merupakan aktifitas maya bagi para bloger yang ada dalam sebuah grup WhatsApp untuk saling memfollow—atau istilah bekennya: mutualan. Tujuannya tentu saja untuk menambah jumlah follower dan kenalan, karena ternyata jumlah bloger itu banyak sekali. Awalnya berjalan biasa aja, kemudian beberapa cuitan “menarik” muncul. Ada yang berkata buat apa follow-followan, kalau di lingkaran bloger sendiri juga buat apa, atau bahkan yang sedikit mencubit adalah “ruang tunggu invoice cair 50rb dipotong admin.” Meskipun itu hanya cuitan yang tak tervalidasi, tak ada juga jawaban dari kubu Blogger Ruang Tunggu atau beberapa hanya menjawab tanpa mention dengan pesan tersirat “iya kami follow-followan, namun beberapa anggapan tak seperti itu”. Ah, orang-orang mah nggak punya waktu untuk itu, Marf.  

blog bebas definisi

Sayangnya, tak ada yang menjadi penengah kala itu, untuk misalnya membuat thread penengah saya rasa tak akan menemui titik terang ataupun temu. Hal ini membuat saya ingin menulis beberapa pendapat, udah lama juga nggak nulis mengenai blogging. Oke, let’s get started!

Saya sendiri adalah salah satu penghuni dari grup Blogger Ruang Tunggu, ah sebenarnya namanya Ruang Tunggu X aja sih cuma kemudian iseng bikin tagar jadinya #BloggerRuangTunggu untuk saling follow bagi yang memang mau, tak ada suatu keharusan. Grup tersebut menyenangkan dan hidup, saling bertanya mengenai blog jadi bukan yang diem-diem bae nunggu brief-kerjain-transferan-udah. Jarang juga saya nemu yang begini, namun melihat cuitan mengenai tagar yang membuat penasaran akan pro kontranya—saya jadi menemukan beberapa hal. Ah ternyata begini rasanya merasa dalam dua hal yang sedang sedikit bergesekan, sedikit gemas karena hanya saling pro kontra. Mungkin saya perlu memberikan satu hal, itu adalah salah satu grup job review yang tak perlu saya sebutkan apa, namun feenya nggak 50rb cinta-cintaku. Bagaimana oh bagaimana kita saudara seperblogeran tak sedih jika dibayar semurah itu? Apakah kita perlu membuat serikat? Atau koperasi bloger? Oke skip. 

Yang kemarin bikin rame mungkin masalah “gila followers”. Sejarah ini nampaknya panjang kalau ditarik ke belakang. Saya sendiri menyetujui salah satu tulisan cuitan bloger dari adanya tagar kemarin, bahwa sekarang nulis di blog mengenai pengalaman-pengalaman personal itu rasanya udah nggak penting lagi. Nulis pengalaman yang menguras energi rasanya cuma dibaca scanning kalau misal ada arisan tautan, komentar hanya formalitas. Yaa ibaratnya udah nulis sepenuh jiwa dengan penuh penghayatan gitu kan pasti pengin dapet perspektif atau tanggapan orang lain secara rinci atau detail, betul?

Cara saling support dalam bentuk mutualan ini dikatakan instan dan ya buat apa kalau lingkarannya itu-itu doang. Iya sih, dulu dapet satu dua follower yang karena abis baca dan nungguin postingan blog rasanya senang sekali. Dengan adanya pergantian ini, rasa spark joynya ilang dan lebih susah mencari apakah ada pembaca di blog kita yang benar-benar menunggu? Tapi, akui saja deh meskipun nggak semuanya mutualan dengan jumlah yang banyak, pasti banyak juga akun yang kalian mute. Betapa menambah follower itu mudah, namun engagementnya itu yang mati-matian. Ayo, siapa yang blognya kalah sepi dari akun media sosial? Ayo siapa yang kaget sekarang jadi banyak sekali so called influencer?

Bukankah dengan adanya fenomena ini, justru menjadi pertanyaan dan keresahan bagi kita semua? Makin jarang nemu tulisan yang organik, atau bahkan mengulas secara personal. Sementara itu zaman terus berjalan, bloger harus bersaing juga dengan media lain, kira-kira saya pernah menulis juga di Bloger Menolak Tergilas. Kalian rindu nggak sih baca tulisan yang personal? Saya dulu suka sekali membaca tulisan pengalaman bahkan turut ikut merajut mimpi-mimpi dan keinginan—amazingly satu atau dua tahun bahkan kejadian. Begitu bersyukur akan percaya pada kekuatan tulisan. Saya bahkan saaaaangat senang ketika Made Andi dalam suatu seminar beasiswa menyebutkan salah satu profesi beliau adalah bloger. Man, dosen luar biasa itu! Jadi ketika kemarin melihat sedikit ribut-ribut di linimasa rasanya pedih.

Kita mungkin beberapa kali mengetahui beberapa campaign dengan fee yang, ya dibilang recehan namun ramai sekali peminat? Atau, jadi semakin banyak melihat template caption yang hampir sama? Saya penasaran juga apa memang untuk side job di dunia nyata atau memang pegiat di media sosial? Kalaupun misal untuk mengisi waktu luang atau leisure time, harusnya bahkan bisa optimalisasi dari kelembaman blogging ini kan? Gimana nih solusi yang bisa ditawarkan, kan pilihan orang bisa jadi karena kurang atau ketidaktahuan, atau bisa jadi butuh? Coba cari banyak sisi kemungkinan-kemungkinan tersebut. Ah buset, udah kaya lagi mengatasi permasalahan sosial saja.

Menulis: Sebuah Usaha Membunuh Sepi dan Menjaga Akal Waras

Atau mungkin kamu menemukan juga blog favoritmu selama ini yang pernah menulis opini mengenai content placement namun akhir-akhir ini menerima juga meskipun tak sesuai dengan niche blog?

Dari tagar kemarin juga, saya jadi tahu bahwa ada beberapa permasalahan di dunia bloging yang terkubur dan belum selesai. Saya sempat pesimis bloger ini di masa depan bakal ditinggalkan kalau nggak segera mencari alternatif dan nggak segera shifting, kecuali kalau nanti masanya akan berbalik lagi. Kan mulai banyak juga tulisan-tulisan mengenai pengalaman di Medium mengenai karir dan self-development. Milik Iqbal Hariadi atau Nikko Ilham misalnya, beberapa akan membagikan di media sosial karena memang itu bermanfaat dan membantu tanpa susah-susah blogwalking melalui arisan. Ah, betapa rindunya masa-masa itu.

Nah, gimana kalau dari sini bloger mencoba rising up lagi? Memperbaiki kualitas! Biar nggak ada lagi bloger dibayar murah padahal udah capek-capek begadang, biar nggak ada lagi yang posting seada-adanya, dan tentunya ya biar kita menulis dengan lapang dan bahagia. Passionate! Coba yang punya ilmu membuat judul yang menarik boleh dibagikan ulang, belajar digital marketing untuk bloger, bagaimana membangun narasi, bagaimana menarik pembaca di media sosial, bagaimana memilih kerja sama atau bagaimana menolak dengan tetap ramah, menentukan rate card dengan percaya berani, dan bahkan menciptakan pasar bukan mengikuti permintaan pasar. Misal juga, membangun branding di media sosial, bagaimana berinteraksi karena sekarang berubahnya cepat. Kan lapang kalau saling support begini. Akun-akun twitter juga jangan ngebajer aja tapi bagi-bagi tautan, atau sekalipun bekerja sama dengan brand, kita nulisnya nggak asal-asalan biar naik kelas, biar nggak terlihat biasa aja atau diskip postingannya.

Text, Narration, Stories: Weapon of Digital Storyteller and Blogger

Kemarin dari tagar itu ada thread dari Mba Vicky Laurentina, gimana sih support bloger itu. Ya bisa dengan komentar tanpa ngarep dikomen balik, dan kalau misal kita suka sekali bisa membagikannya di media sosial dengan senang hati. Ya, hayo siapa yang tertampar sejak kapan jadi money oriented dan pelit bagi-bagi? Di sini kan nemu satu blink yang penting, kualitas tulisan! Makanya seperti yang saya sebutkan di atas, makin berbagi banyak ilmu yang bisa dipraktekan, makin banyak kualitas tulisan meskipun misalnya bukan organik—ya minimal mirip-mirip soft-selling.

Kalau untuk hal preferensi bacaan dari tulisan menarik itu kan beda-beda ya, tapi kalau tulisan yang berkualitas saya rasa hampir sama ciri-cirinya: kita nyaman membacanya. Kalau kita menulis dan melakukan self-proofreadingpun sebenarnya kita tahu mana saja yang harus diperbaiki atau ditingkatkan. Hal tersebut tentu saja perlu belajar terus menerus dan membutuhkan jam terbang.

Buat yang tergabung dengan komunitas, pasti ilmunya lebih banyak. Saya sendiri tak tergabung dalam komunitas offline, jadi ya memang masih belajar. Cita-cita saya nanti juga jadi bloger yang ada di salah satu kota besar (asli, receh bener cita-cita) biar ngerasain gimana beda hypenya. Kayanya enak bisa tuker ilmu, bisa membuat suatu campaign kecil-kecilan, belajar bersama, dan lain-lain.

Eh betewe, ini saya termasuk nulis dark side jadi bloger nggak sih? Ayo dong pada curhat di komentar, aaaah. Kalau ada pendapat yang kurang di atas atau bahkan nggak setuju, lemme hear your story. Kalau kamu punya postingan mengenai blogging yang ingin dibagikan, boleh juga tulis judulnya di sini. Mariiii~~
***

5 comments

  1. #BloggerRuangTunggu adalah tagar yang fenomenal, dari tagar ini saya dapat banyak follower, dan akhirnya jadi bersemangat ngeblog lagi.. artikel mbak Marfa sangat inspiratif untuk kita renungkan bersama...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sampai sekarang masih aktif, keren :3 hihi dapet temen bloger yang bacaannya kece nggak?

      Delete
  2. Wah dengan cara ini bisa menambah follower dan juga bisa meningkatkan semangat ngeblog lagi nih ya Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, sebenernya jadi ketemu bloger potensial lainnya sih

      Delete
  3. Aku merasa tertampar juga sih membaca ini, bagaimanapun emang sering juga rindu pada blog sendiri dengan tulisan organik atau ya review tak berbayar. Atau sekedar membagikan tutorial atau tips fotografi seperti yang saya lakukan 2016 lalu, namun ga dipungkiri kebutuhan dan tawaran nulis juga cukup menggiurkan dan sulit ditolak. Jadilah sekarang berusaha aja semoga dunia blogging bisa terus ada, dan tentu saja happy untuk dijalani

    ReplyDelete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :)