Contoh Essay Beasiswa Dataprint: Milenial Kreatif

Halo, apa kabar?

writing an essay
pict: Scott Graham, unsplash

Sejak ada postingan Pengalaman dan Tips Mendapat Beasiswa Dataprint 2019 dan beberapa kali ada email masuk mengenai essay, maka saya membagikan saja di sini menjadi blog post. Karena sudah terhitung tahun yang lalu, jadi saya bisa share dan semoga membantu. Namun sebagai catatan sebagai berikut:

  • Essay ini ditulis pada 2019, bisa saja selanjutnya sudah ada beberapa yang tak relevan atau perlu ditambah detailnya. 
  • Untuk batas kata memang 500 kata dan agak tricky karena bawaanya pengin lebih detail dan panjang, jadi mungkin kalau lebih dari 500 kata dan lebih detail jadi lebih bagus.
  • Untuk tips menulis essay dataprint, dapat mengklik postingan tips beasiswa dataprint
  • Essay ini tentunya masih banyak kurangnya, namun semoga tetap sedikit membantu untuk gambaran
  • Semoga berhasil!
---
Tema Essay: Persiapan Menghadapi Revolusi Industri 4.0
Judul Essay: Mengapa Menjadi Milenial Kreatif Saja Tidak Cukup?

Milenial, anak muda, dan internet of things menjadi kata yang selalu kita dengarkan akhir-akhir ini. Kolom-kolom di media sosial sudah tidak lagi hanya sekadar postingan, opini, dan cuitan namun sudah riuh ramai dibanjiri oleh gambar-gambar infografis. Dahulu, seorang anak SMA hanya menggunakan media sosial hanya untuk mendapatkan label atau pengakuan bagaimana caranya mengerti teknologi. Namun sekarang, seorang anak SMA bisa mendapatkan tambahan uang saku hanya menggunakan kreatifitas di akun Instagramnya. Pun, para fresh graduate tidak lagi terburu-buru di pagi hari dan membawa stopmap coklat untuk mendapatkan berbagai penolakan, mereka hanya butuh mengirimkan via pos elektronik sembari dapat memantau bisnis digitalnya. Itu hanya beberapa contoh dari bentuk yang dinamakan era digital dalam revolusi industri ke empat, di mana segalanya menjadi dinamis dngan adanya kemajuan internet dan teknologi. 

Kemudian merambah ke dunia pekerjaan, tiga kosa kata yang telah disebutkan di atas tak jauh-jauh dari yang namanya StartUp. Bahkan, pemerintah RI sendiri menargetkan memiliki 2000 StartUp pada tahun 2022. Namun sebelum hal tersebut, sudah banyak anak muda sendiri dimulai dari tingkat SMA dan mahasiswa mulai merintis dan mendirikan StartUp. Bagaimana tidak? Bekerja di StartUp digadang-gadang menjadi primadona bagi anak muda sekarang yang selain memiliki kreatifitas dan rasa penasaran yang tinggi dalam bidang teknologi, mereka juga cenderung tak ingin dikekang dan memilih jam kerja yang lebih fleksibel. Katakanlah beberapa contoh StartUp unicorn di Indonesia yang memiliki peminat yang banyak seperti Gojek, Traveloka, atau BukaLapak. Ketiga aplikasi tersebut banyak diminati karena dapat memudahkan kegiatan manusia sedemikian rupa dengan memangkas waktu dan dapat mengalokasikannya ke kegiatan yang lebih produktif. 

Namun sekali lagi, apakah benar StartUp menjadi satu-satunya fenomena yang muncul? Tentu tidak, sudah banyak sekali karya-karya dengan kolaborasi bernama desain di platform seperti YouTube, Instagram, maupun Podcast. Memang, hal tersebut dapat menjadikan produktifitas anak muda meningkat. Namun yang perlu diperhatikan adalah kehati-hatian dalam memersiapkan tantangan di era ini? Karena kreatifitas saja tidak cukup, anak muda perlu sekali untuk memiliki sifat cerdas melihat pola dan fenomena dan menjadi pribadi yang adaptif. 

Kecenderungan menggunakan media sosial dan fiturnya menjadi penyebab hal di atas, banyak perilaku anak muda yang cenderung mudah stres dengan membandingkan diri dengan orang lain melalui media sosial yang belum tentu nyata adanya. Anak muda, harus pandai-pandai mengontrol diri secara cerdas dan adaptif karena hal tersebut akan memengaruhi masa depan mereka baik karir maupun kesehatan mental. Mereka harus dapat mengatur dalam membuat sebuah karya di dalam internet of things dan selalu memersiapkan diri dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang ada seperti ancaman datangnya lawan yang unggul, atau bahkan peretasan. Kemampuan melatih diri secara cerdas dan adaptif ini tentunya akan sangat bermanfaat terutama di bidang profesional nantinya. Untuk itulah, menjadi anak muda milenial yang kreatif saja tidak akan pernah cukup. Sekian.
***

Postingan terkait yang mungkin kamu suka:
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

No comments

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :) (p.s: Sorry, a comment with an active url will be deleted)